Peneliti Tanam Lumut di Stasiun Luar Angkasa, Bertahan Hidup Selama 9 Bulan
27 November 2025 18:12 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Peneliti Tanam Lumut di Stasiun Luar Angkasa, Bertahan Hidup Selama 9 Bulan
Para peneliti membuat eksperimen dengan membawa spora lumut ke luar angkasa dan dibiarkan tumbuh di ISS.kumparanSAINS

Para peneliti membuat eksperimen dengan membawa spora lumut ke luar angkasa dan dibiarkan tumbuh di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Hasilnya, spora tersebut ternyata mampu bertahan hingga 9 bulan.
Selama 9 bulan, spora-spora ini dibiarkan hidup di bagian luar International Space Station (ISS). Ketika kembali ke Bumi, lebih dari 80 persennya tetap hidup dan bahkan masih bisa bereproduksi. Penemuan ini memperkaya pemahaman ilmuwan soal bagaimana tumbuhan mampu bertahan hidup di kondisi ekstrem. Hasil studi dipublikasikan pada Kamis (20/11) di jurnal iScience.
Lumut memang dikenal sebagai tanaman tangguh. Mereka tumbuh di tempat-tempat yang tak ramah bagi banyak makhluk hidup, mulai dari puncak Himalaya yang bersalju hingga padang pasir Death Valley yang panas dan kering. Ketahanan alami ini membuat lumut menjadi kandidat ideal untuk diuji di luar angkasa, lingkungan yang dipenuhi fluktuasi suhu ekstrem, gravitasi rendah, hingga radiasi tinggi.
Sebelumnya, eksperimen soal ketahanan kehidupan di luar angkasa lebih banyak berfokus pada organisme besar seperti bakteri atau tanaman pangan. Kini, peneliti berhasil menunjukkan bahwa sampel lumut Physcomitrium patens (P. patens) bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga tetap berkembang setelah berada di luar angkasa.
Para peneliti terlebih dahulu menguji tiga tipe sel P. patens dari berbagai fase reproduksi lumut tersebut. Hasilnya, struktur sel bernama sporofit, bagian yang membungkus spora, menunjukkan toleransi stres terbesar saat diuji dengan paparan cahaya ultraviolet (UV), pembekuan, dan panas.
Setelah itu, sampel sporofit ditempatkan di luar ISS menggunakan fasilitas khusus yang menempel pada modul Kibo milik Jepang. Mereka menetap di sana selama sekitar sembilan bulan sepanjang tahun 2022 sebelum akhirnya dibawa kembali ke Bumi.
"Yang mengejutkan, lebih dari 80% spora bertahan dan banyak yang berkecambah secara normal," ujar Tomomichi Fujita, profesor biologi tumbuhan di Hokkaido University, Jepang, sebagaimana dikutip Live Science.
Berdasarkan data ini, tim Fujita membuat model yang memperkirakan spora lumut bisa bertahan hingga 5.600 hari di luar angkasa, sekitar 15 tahun.
Setibanya di Bumi, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar kondisi ekstrem seperti vakum luar angkasa, mikrogravitasi, dan perubahan suhu ekstrem ternyata hanya memberi dampak terbatas pada spora lumut.
Namun, sampel yang terpapar cahaya khususnya sinar UV berenergi tinggi mengalami kerusakan yang lebih besar. Pigmen penting untuk fotosintesis, termasuk klorofil a, menurun drastis akibat kerusakan cahaya tersebut sehingga memengaruhi pertumbuhan lumut selanjutnya.
Meski begitu, kinerja P. patens tetap jauh lebih baik dibandingkan spesies tanaman lain yang pernah diuji di kondisi serupa. Fujita menduga, lapisan pelindung menyerupai spons yang membungkus spora inilah yang membantu melindungi mereka dari sinar UV dan kekeringan.
"Peran pelindung ini mungkin telah berevolusi sejak awal sejarah tanaman darat untuk membantu lumut menjajah habitat di Bumi," kata Fujita.
Walau terlihat seperti sekadar uji coba ketahanan spesies, Fujita menilai keberhasilan spora lumut bertahan di luar angkasa bisa menjadi batu loncatan biologis dalam membangun ekosistem di luar planet kita. Ke depan, ia berharap dapat menguji spesies lain dan memahami lebih dalam bagaimana sel-sel tangguh ini bisa bertahan di kondisi sekeras luar angkasa.
