Perempuan Punya Peluang Hidup Lebih Lama Dibanding Pria, Apa Rahasianya?
10 Oktober 2025 15:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
Perempuan Punya Peluang Hidup Lebih Lama Dibanding Pria, Apa Rahasianya?
Ilmuwan mengungkap kenapa usia wanita lebih panjang daripada laki-laki. kumparanSAINS

Meski kemajuan medis modern telah memperkecil kesenjangan usia harapan hidup antara kedua jenis kelamin di beberapa negara, para ilmuwan mengatakan perbedaan ini tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Dalam pertemuan North American Menopause Society (NAMS) 2018 di San Diego, AS, peneliti sekaligus profesor di departemen psikiatri University of California, Elissa Epel, mengatakan bahwa rahasia mengapa perempuan memiliki umur yang lebih panjang adalah karena kondisi telomer mereka. Telomer adalah bagian paling ujung dari DNA linear. Telomer memiliki peranan penting dalam menentukan apakah seseorang dapat hidup panjang umur atau tidak.
Jika telomer mulai rusak, maka kerusakan pada DNA pun dapat terjadi. Kerusakan DNA dapat menyebabkan percepatan penuaan dan membuat umur seseorang lebih pendek. Perempuan memiliki angka harapan hidup yang lebih panjang karena memiliki telomer lebih panjang sehingga dapat melindungi DNA lebih lama.
Selain telomer, hormon estrogen pada perempuan pun memainkan peranan penting dalam umur perempuan. Estrogen mampu mengurangi kadar lemak jahat atau LDL sehingga melindungi perempuan dari penyakit yang berhubungan dengan kolesterol dan penyakit kardiovaskular. Peran lainnya, estrogen ternyata mampu melindungi telomer dari kerusakan.
"Beberapa studi eksperimental menunjukkan paparan estrogen meningkatkan aktivitas telomerase, enzim yang dapat melindungi dan memperpanjang telomer," kata Epel di acara pertemuan tahunan tersebut, dilansir Healthline.
Selain itu, estrogen juga bertindak sebagai antioksidan, imbuh JoAnn V. Pinkerton, direktur eksekutif NAMS. Radikal bebas dapat merusak DNA, termasuk telomer, dan estrogen bertindak sebagai pelindung dari radikal bebas. Meski demikian, tidak selamanya estrogen dapat melindungi telomer. Sebab, seiring dengan bertambahnya usia dan karena faktor lain seperti stres, maka telomer akan menjadi semakin pendek dan mengurangi angka harapan hidup seseorang.
Bagaimana dunia hewan?
Temuan lain datang dari tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh para peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman. Mereka melakukan analisis paling komprehensif sejauh ini mengenai perbedaan umur antara jantan dan betina di dunia hewan, melibatkan 1.176 spesies mamalia dan burung.
Hasilnya cukup mencengangkan. Dalam kelompok mamalia, 72 persen betina hidup rata-rata 13 persen lebih lama dibandingkan jantan. Sementara pada burung, justru 68 persen pejantan hidup lebih lama sekitar 5% dibandingkan betina.
Dengan kata lain, perbedaan umur panjang antar jenis kelamin bukan hanya terjadi pada manusia, tapi merupakan pola universal yang bisa diamati di seluruh kerajaan hewan. Salah satu penjelasan genetika yang populer adalah hipotesis heterogametic sex, yang mengaitkan perbedaan umur ini dengan struktur kromosom seks.
Pada mamalia, betina memiliki dua kromosom X, sedangkan jantan memiliki satu X dan satu Y, menjadikannya heterogametik, atau memiliki dua kromosom seks yang berbeda.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa memiliki dua kromosom X dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap mutasi gen berbahaya, sehingga memberi keuntungan evolusioner bagi betina untuk hidup lebih lama.
Menariknya, sistem ini berbalik pada burung. Hewan ini justru betina lah yang memiliki dua kromosom seks berbeda (ZW), sementara pejantan memiliki dua kromosom yang sama (ZZ). Maka tak heran, dalam dunia burung, jantan lebih sering hidup lebih lama. Kendati begitu, menurut Johanna Stärk, penulis utama studi, genetik hanyalah satu bagian dari teka-teki ini.
“Beberapa spesies menunjukkan pola yang berlawanan,” ujarnya. “Misalnya, pada banyak burung pemangsa, betina justru berukuran lebih besar dan hidup lebih lama dibandingkan jantan. Jadi, kromosom seks bukan satu-satunya faktor.”
Selain faktor genetik, strategi reproduksi juga memiliki peran besar. Pada mamalia yang bersifat poligami, di mana jantan bersaing ketat untuk mendapatkan pasangan, mereka biasanya mati lebih muda akibat stres dan energi yang terkuras dalam persaingan. Sebaliknya, pada burung yang cenderung monogami, tekanan kompetisi lebih rendah, sehingga jantan sering memiliki umur lebih panjang.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah peran dalam mengasuh keturunan. Di alam liar, jenis kelamin yang lebih banyak berinvestasi dalam membesarkan anak–biasanya betina pada mamalia– cenderung hidup lebih lama.
Bagi spesies berumur panjang seperti primata, hal ini menjadi keuntungan evolusioner: betina yang hidup cukup lama untuk merawat anak hingga mandiri memiliki peluang lebih besar untuk meneruskan gen mereka.
Untuk memahami sejauh mana pengaruh lingkungan, para peneliti juga meneliti populasi hewan di kebun binatang, di mana mereka terlindungi dari pemangsa dan kondisi ekstrem. Menariknya, meski kesenjangan usia antara jantan dan betina berkurang dalam kondisi aman, perbedaannya tidak sepenuhnya hilang.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor biologis, seperti gen, hormon, dan strategi evolusi, tetap memainkan peran penting, bahkan ketika faktor lingkungan sudah dikendalikan. Dari manusia hingga hewan, dari savana Afrika hingga laboratorium Jerman, satu hal tampak jelas, evolusi masih menulis kisahnya sendiri.
Dan di antara semua perbedaan yang diwariskan alam, mungkin umur panjang perempuan adalah salah satu rahasia tertua, bukti bahwa evolusi tidak hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang siapa yang mampu bertahan lebih lama.
