Pria Ini Positif COVID-19 Selama 776 Hari, Jadi Kasus Terlama

22 September 2025 8:45 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pria Ini Positif COVID-19 Selama 776 Hari, Jadi Kasus Terlama
Dokter di Amerika Serikat melaporkan kasus COVID-19 terlama yang pernah terdokumentasi.
kumparanSAINS
Ilustrasi positif terkena virus corona.Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi positif terkena virus corona.Foto: Shutter Stock
Dokter di Amerika Serikat melaporkan kasus COVID-19 terlama yang pernah terdokumentasi. Seorang pria dengan HIV tercatat membawa virus corona dalam tubuhnya selama 776 hari sebelum akhirnya meninggal dunia.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana sistem imun yang lemah bisa membuat virus bertahan, bermutasi, dan beradaptasi dengan cara yang jarang terlihat pada orang dengan imun sehat.
Menurut laporan tim medis dari Boston University yang dimuat di jurnal The Lancet: Microbe, pria berusia 41 tahun itu mulai sakit pada Mei 2020, tak lama setelah kontak dekat dengan pasien COVID-19 terkonfirmasi. Ia mengalami batuk, sakit kepala, dan kelelahan.
Namun, infeksi COVID-19 baru resmi terdiagnosis pada September 2020 ketika kondisinya memburuk dan ia harus dilarikan ke rumah sakit.
Pria ini sudah terdiagnosis HIV/AIDS sejak 2002, tetapi tidak rutin mengonsumsi terapi antiretroviral (ART) yang seharusnya menekan HIV dan menjaga fungsi imun. Tanpa obat itu, sistem kekebalannya melemah parah dan tak mampu melawan virus corona yang masuk ke tubuhnya.
Selama berbulan-bulan, virus dalam tubuhnya mengembangkan banyak mutasi, termasuk beberapa yang mirip dengan varian Omicron. Menariknya, campuran unik strain dalam tubuhnya itu tidak pernah menyebar ke orang lain. Diduga, mutasi tersebut terlalu spesifik beradaptasi dengan kondisi imun pribadinya.
Seorang perawat menguji pasien untuk penyakit coronavirus (COVID-19) di Rumah Sakit Westmead di Sydney, Australia. Foto: Loren Elliott/Reuters
Tes PCR terus mendeteksi virus hingga akhir hidupnya. Bahkan, dua hari sebelum meninggal, karena faktor lain yang tidak terkait COVID-19 secara langsung, hasil swab hidung dan tenggorokannya masih positif.
Kasus ekstrem seperti ini biasanya terjadi pada pasien dengan riwayat medis kompleks dan sistem imun yang sangat lemah. Kondisi seperti ini juga bisa menjadi inkubator munculnya varian baru virus.
April 2024 lalu, dokter di Belanda juga melaporkan kasus serupa, di mana seorang pria 72 tahun dengan gangguan imun tetap positif COVID-19 selama 613 hari. Sementara pada 2022, seorang pasien di London terbukti terinfeksi selama 505 hari sebelum meninggal.
Pada orang sehat, infeksi COVID-19 biasanya mereda dalam hitungan hari atau minggu. Namun, kasus ekstrem ini menegaskan betapa berbahayanya virus jika bertemu sistem imun yang sangat lemah.
Para peneliti juga menekankan pentingnya pemantauan global yang berkelanjutan. Meski pandemi dinyatakan berakhir, infeksi berkepanjangan seperti ini tetap berpotensi melahirkan varian baru yang bisa mengubah peta penyebaran virus.
Trending Now