Riset Sebut Plankton Bantu Ciptakan Pegunungan di Bumi

9 Desember 2021 14:42 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Riset Sebut Plankton Bantu Ciptakan Pegunungan di Bumi
Sebuah riset baru menyimpulkan bahwa pegunungan di Bumi muncul berkat plankton di laut. Kok bisa?
kumparanSAINS
Pegunungan Himalaya Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Pegunungan Himalaya Foto: Pixabay
Sebuah riset baru di jurnal Communications Earth & Environment menyimpulkan bahwa pegunungan muncul berkat kehidupan plankton di laut. Riset tersebut, yang dikerjakan oleh para peneliti Skotlandia dan terbit pada 26 November 2021 lalu, menunjukkan bagaimana pentingnya makhluk purba sederhana itu dalam kemunculan pegunungan di Bumi.
Pegunungan di Bumi sendiri baru muncul 2 miliar tahun yang lalu, atau kurang dari setengah umur Bumi yang telah mencapai 4,5 miliar tahun. Sebelum ada gunung, pergerakan lempeng Bumi hanya terjadi dalam skala terbatas karena tidak ada ‘pelumas’ untuk menumpuk bebatuan, kata peneliti.
“Pegunungan terbentuk oleh lempengan batu yang menumpuk satu sama lain,” ujar penulis utama studi, Profesor John Parnell dari University of Aberdeen, dikutip dari The Guardian.
Melalui risetnya, Parnell menemukan bahwa sumber pelumas bebatuan yang menumpuk untuk menciptakan pegunungan berasal dari plankton primitif yang hidup sekitar dua miliar tahun yang lalu. Saat itu, jumlah plankton di Bumi mengalami ledakan setelah terjadi perubahan iklim besar.
Plankton adalah tanaman mikroskopis yang terletak di dasar rantai makanan laut. Ia sangat penting bagi kesehatan kehidupan laut saat ini. Namun, peran mereka dalam mempengaruhi planet kita bahkan lebih besar dua miliar tahun yang lalu.
Dalam tulisannya di The Conversation, Parnell menjelaskan bahwa plankton purba yang mati akan tenggelam dengan cepat dan terkubur dalam lumpur yang menciptakan batu dengan jumlah karbon yang belum pernah ada sebelumnya, yang diubah menjadi grafit oleh panas dan tekanan.
“Grafit membuat pelumas yang hebat. Kunci, engsel, dan ritsleting semuanya bergerak lebih mudah dengan grafit, begitu juga batu,” tambahnya.
Plankton berjenis Polychaete Tomopteris yang memberikan cahaya biru pada air laut Foto: Shutterstock
Parnell menambahkan, bahwa meskipun banyak gunung yang dibuat dua miliar tahun lalu telah aus, bukti pelumasan plankton masih dapat dilihat di pegunungan di China, Amerika Utara, Greenland, dan Skandinavia.
Melalui riset ini, para peneliti menunjukkan bahwa interaksi kekuatan geologis dan kehidupan di Bumi adalah proses dua arah. "Bumi dan biosfernya terkait erat dengan cara yang sebelumnya tidak dipahami,” kata Parnell.
Grafit tak hanya memainkan peran penting dalam membentuk kontur planet kita, menurut anggota penulis studi Dr. Connor Brolly dari Glasgow University. Mineral tersebut juga kemungkinan akan terus berdampak bagi kehidupan manusia di masa depan.
“Grafit yang terkubur di kerak bumi sangat diminati untuk teknologi hijau masa depan, untuk digunakan dalam barang-barang seperti sel bahan bakar dan baterai lithium ion,” jelasnya.
“Peristiwa berusia dua miliar tahun ini, yang bertanggung jawab untuk membentuk dunia alami kita, sekarang memiliki potensi untuk memainkan peran kunci dalam pelestariannya untuk generasi mendatang.”
Trending Now