Seperti Apa Rasanya Daging Burung Dodo yang Sudah Punah?

28 November 2025 10:01 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seperti Apa Rasanya Daging Burung Dodo yang Sudah Punah?
Pernah dengar kabar kalau daging burung dodo rasanya menjijikkan? Bahkan disebut membuat orang mual.
kumparanSAINS
Ilustrasi burung dodo. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi burung dodo. Foto: Shutter Stock
Pernah dengar kabar kalau daging burung dodo rasanya menjijikkan? Bahkan disebut membuat orang mual.
Bagi orang Indonesia, burung dodo mungkin terdengar asing karena memang hewan tersebut tidak hidup di sini. Sementara rumor daging burung dodo enggak enak sudah lama jadi perbincangan publik, padahal tidak ada satu pun orang yang hidup saat ini pernah mencicipinya. Menariknya, rumor tersebut kemungkinan besar hanyalah kesalahpahaman yang diwariskan turun-temurun.
Burung dodo atau Raphus cucullatus, dulu juga dijuluki wallowbird karena konon berasal dari efek dagingnya yang membuat orang sakit perut. Namun menurut Jan den Hengst, penulis buku “The Dodo: The Bird That Drew the Short Straw”, anggapan tersebut mungkin salah tafsir.
Dalam studi berjudul “The Dodo And Scientific Fantasies: Durable Myths Of A Tough Bird” yang terbit tahun 2009, Hengst menelusuri sumber arsip Belanda dari tahun 1598 hingga 1602, catatan para pelaut, pedagang, dan kapten yang pernah bertemu dodo di habitat aslinya, Mauritius.
Selama ini istilah lothsome dan fulsome kerap dijadikan bukti bahwa daging dodo itu hambar dan memuakkan. Namun Hengst menemukan bahwa kedua kata itu muncul dari terjemahan bahasa Inggris, bukan dari naskah asli.
Terjemahan tersebut merujuk pada frasa Belanda de walgch yang sebenarnya berarti rasa mual setelah makan terlalu banyak atau karena tekstur daging yang keras. Bukan karena rasanya buruk. Terjemahan dari laporan tahun 1601 milik Laksamana Jacob Corneliszoon van Neck memperkuat hal ini.
Ilustrasi burung dodo. Foto: Shutter Stock
“Burung-burung ini kami sebut Wallowbirds, pertama karena meski dimasak lama, dagingnya tetap sangat keras, meski bagian dada dan perutnya cukup enak. Kedua, kami menemukan banyak burung tekukur yang rasanya jauh lebih lezat. Kru kapal menjadi sakit setelah makan dodo,” tulis Jacob Corneliszoon van Neck dalam laporannya sebagaimana dikutip IFL Science.
Jika daging dodo benar-benar menjijikkan, rasanya tak mungkin para pelaut repot-repot menangkap dan memburunya. Catatan lain bahkan menyebutkan mereka mengawetkan daging dodo dengan garam untuk dibawa dalam perjalanan, sesuatu yang tidak akan dilakukan jika makanannya terlalu buruk untuk dimakan.
Kemungkinan besar, simpang siur soal rasa daging dodo muncul karena faktor yang familiar pada unggas, semakin tua burungnya, semakin keras dagingnya. Sebelum manusia datang, dodo tidak punya predator alami, sehingga banyak burung tua berkeliaran bebas. Bisa jadi para pelaut tanpa sengaja memakan dodo-dodo yang sudah melewati masa terbaiknya.
“Meskipun penulis-penulis berikutnya tidak pernah menyebutkan rasa yang tidak enak, kualitas kuliner ini tetap berkembang menjadi mitos tersendiri, terutama karena penambahan dua kata bahasa Inggris ‘lothsome’ dan ‘fulsome’.” tulis Hengst.
“Kalau memang ada yang punya pengalaman buruk makan paha dodo, besar kemungkinan burung itu kemudian dibiarkan saja agar tidak diburu.”
Sayangnya, kesempatan itu tak dimiliki si dodo. Spesies ini kini punah, dan yang tersisa hanya beberapa spesimen yang sebagian besarnya berupa potongan tulang. Meski begitu, dengan berkembangnya teknologi de-extinction, bukan tidak mungkin suatu hari kita melihat kembali burung mirip dodo.
Trending Now