Sering Begadang, Benarkah Parasetamol dan Kafein Bisa Bantu Atasi Dampaknya?

30 Mei 2025 17:13 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sering Begadang, Benarkah Parasetamol dan Kafein Bisa Bantu Atasi Dampaknya?
Begadang dapat mengganggu ritme tubuh, menyebabkan sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Temukan cara efektif menghindari efek β€˜jet lag’ agar tubuh tetap fit dan produktif.
kumparanSAINS
Ilustrasi lembur dan begadang. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lembur dan begadang. Foto: Shutterstock
Bayangkan kamu baru saja menyelesaikan proyek penting di kantor dan harus begadang hingga dini hari.
Meskipun akhirnya tidur, tubuh tetap terasa berat, kepala pusing, dan otot pegal keesokan harinya. Kamu merasa seolah-olah baru saja mengalami penerbangan panjang melintasi zona waktu yang berbeda.
Inilah yang sering disebut sebagai "jet lag" akibat begadangβ€”ketika ritme alami tubuh terganggu sehingga tubuh merasa kelelahan meskipun tidak melakukan perjalanan jauh.
Bagi banyak orang, lembur dan begadang sudah menjadi bagian dari rutinitas, baik karena tuntutan pekerjaan, tugas akademik, atau aktivitas lainnya.
Namun, kurang tidur dan gangguan terhadap ritme sirkadian dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sakit kepala, nyeri otot dan sendi, migrain, hingga demam.

Dampak Begadang pada Tubuh

1. Meredakan Sakit Kepala

Kurang tidur mengganggu aktivitas bagian otak yang mengatur persepsi nyeri, seperti hipotalamus dan batang otak. Aktivitas listrik otak menjadi tidak stabil, dan ini dapat memicu sakit kepala, bahkan migrain, terutama saat tubuh kelelahan. Rasa nyeri muncul akibat peningkatan sensitivitas neuron terhadap rangsangan.
Dalam kondisi ini, parasetamol bekerja dengan menghambat enzim cyclooxygenase (COX) yang berperan dalam produksi senyawa penyebab nyeri (prostaglandin) di otak. Obat ini menurunkan intensitas sinyal nyeri yang dikirim ke otak, sehingga sakit kepala bisa mereda dengan lebih efektif.

2. Migrain

Kurang tidur tidak hanya bisa menyebabkan sakit kepala, tetapi juga bisa memicu migrain. Ini merupakan jenis sakit kepala yang lebih kompleks dan intens. Migrain melibatkan gangguan pada aktivitas "listrik" di otak serta pelepasan zat kimia seperti serotonin (yang pengaruhi pembuluh darah dan saraf).
Cara kerja parasetamol untuk mengatasi migrain tak beda dari meredakan sakit kepala secara umum. Parasetamol akan bantu menurunkan intensitas sinyal nyeri di otak.

3. Nyeri Otot

Kurangnya tidur menyebabkan otot tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup, apalagi jika sebelumnya digunakan secara intens, misalnya karena posisi duduk lama atau aktivitas fisik.
Selain itu, tubuh yang kelelahan cenderung mengalami peningkatan kadar zat inflamasi, yang memicu rasa sakit dan kaku pada otot.
Nah, parasetamol dapat membantu meredakan nyeri otot karena kerjanya yang menekan sinyal nyeri di sistem saraf pusat, bukan hanya di lokasi otot yang terasa sakit. Dengan kata lain, ia tidak menekan peradangan secara langsung, tetapi membuat otak tidak terlalu "mendengar" sinyal nyeri dari otot-otot tersebut.

4. Demam dan Penurunan Imun

Begadang mengganggu produksi sitokin, protein penting dalam respons imun. Ini membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi ringan yang dapat menyebabkan demam. Ketika suhu tubuh meningkat, biasanya disertai rasa lelah, menggigil, dan kurang nyaman secara umum.
Ilustrasi terkena flu dan demam. Foto: Shutterstock
Parasetamol berperan sebagai antipiretik dengan memengaruhi pusat pengatur suhu di hipotalamus. Obat ini bantu turunkan suhu tubuh secara perlahan dan stabil, sehingga tubuh kembali ke kondisi netral tanpa mengganggu fungsi pertahanan alaminya.

5. Nyeri Sendi

Rasa ngilu di persendian juga bisa dipicu oleh kurangnya tidur. Saat tidak beristirahat dengan cukup, produksi hormon kortisol dan zat inflamasi menjadi tidak seimbang, membuat sendi lebih sensitif terhadap tekanan dan gerakan. Hal ini semakin terasa pada mereka yang duduk terlalu lama saat lembur.
Dalam kasus seperti ini, parasetamol dapat jadi pilihan pereda nyeri untuk sendi karena kerjanya secara sistemik di otak, bukan langsung pada lokasi peradangan. Ia cocok digunakan pada nyeri sendi ringan hingga sedang, terutama jika ingin menghindari iritasi lambung yang mungkin ditimbulkan oleh jenis obat lain.

6. Nyeri Haid

Nyeri haid (dismenore) pada dasarnya disebabkan oleh kontraksi otot rahim untuk meluruhkan lapisan dindingnya saat menstruasi. Ini adalah proses biologis yang normal dan tidak secara langsung dipicu oleh begadang. Namun, kurang tidur atau begadang dapat memperburuk persepsi terhadap rasa sakit.
Saat tubuh tidak mendapat istirahat cukup, ambang nyeri menurun dan produksi hormon pengatur emosi serta nyeri (seperti serotonin dan dopamin) terganggu. Akibatnya, nyeri yang sebenarnya biasa dirasakan setiap bulan bisa terasa lebih intens dari biasanya saat tubuh dalam kondisi kelelahan.
Dalam situasi ini, parasetamol dapat digunakan untuk meredakan nyeri haid karena bekerja secara sistemik di otak untuk menurunkan persepsi nyeri. Parasetamol juga dianggap aman bagi lambung dan bisa menjadi pilihan tepat terutama bagi yang sensitif terhadap obat-obatan tertentu.

7. Sakit Gigi

Meski tidak langsung disebabkan oleh begadang, sakit gigi bisa terasa jauh lebih menyiksa saat tubuh lelah dan kurang tidur. Penurunan ambang nyeri serta stres berlebih dapat memperkuat persepsi terhadap rasa sakit. Bahkan, kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur (bruxism) bisa muncul saat seseorang terlalu stres dan lelah.
Parasetamol dapat membantu mengurangi sakit gigi ringan karena efek analgesiknya langsung bekerja di sistem saraf pusat. Meski bukan solusi jangka panjang, penggunaan parasetamol bisa menjadi pertolongan awal sebelum mendapat penanganan dari dokter gigi.

Cara Menghindari Efek Negatif Lembur dan Begadang

1. Atur Jadwal Tidur yang Konsisten

Jika harus begadang, usahakan tetap memiliki pola tidur yang teratur di hari-hari berikutnya agar ritme sirkadian tetap stabil. Tidur yang cukup akan membantu tubuh untuk kembali ke kondisi optimal dan mengurangi efek kelelahan berkepanjangan.

2. Gunakan Pencahayaan yang Tepat

Paparan cahaya terang di malam hari dapat menekan produksi melatonin dan membuat tubuh sulit tidur. Hindari layar gadget sebelum tidur untuk membantu tubuh beristirahat lebih baik.
Jika harus bekerja di malam hari, gunakan lampu dengan spektrum cahaya hangat untuk mengurangi gangguan terhadap ritme sirkadian.

3. Tetap Terhidrasi

Minum air putih yang cukup sangat penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi, terutama jika harus begadang. Pasalnya, dehidrasi dapat memperburuk kelelahan dan sakit kepala.

4. Lakukan Peregangan atau Olahraga Ringan

Aktivitas fisik ringan dapat membantu mengurangi ketegangan otot dan meningkatkan aliran darah, sehingga mengurangi nyeri akibat kelelahan.
Lakukan peregangan sederhana, seperti gerakan yoga atau berjalan kaki sebentar untuk meredakan otot yang tegang akibat duduk terlalu lama selama lembur.

5. Gunakan Obat Pereda Nyeri Saat Diperlukan

Setelah lembur atau kurang tidur, tubuh sering mengalami berbagai kondisi yang menyebabkan rasa nyeri, seperti jet lag, kelelahan, atau posisi duduk yang kurang ergonomis. Kondisi ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk sakit kepala, nyeri haid, nyeri sendi, nyeri otot, migrain, hingga sakit gigi.
Kandungan paracetamol membantu mengurangi rasa sakit, sementara kafein meningkatkan efektivitasnya, terutama dalam mengatasi nyeri akibat kurang tidur dan kelelahan.
Sebelum mengonsumsi obat ini, penting untuk membaca aturan pakai yang tertera pada kemasan. Jika gejala sakit berlanjut, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.
Artikel ini dibuat oleh kumparan Studio
Trending Now