Siapa Orang Pertama yang Menemukan Benua Amerika?
6 Oktober 2025 14:19 WIB
·
waktu baca 4 menit
Siapa Orang Pertama yang Menemukan Benua Amerika?
Menyebut Christopher Columbus sebagai orang pertama yang menemukan Benua Amerika ternyata jauh dari kenyataan.kumparanSAINS

Menyebut Christopher Columbus sebagai orang pertama yang menemukan Benua Amerika ternyata jauh dari kenyataan.
Ketika ia tiba pada 1492, suku-suku asli Amerika sudah menetap di sana selama puluhan ribu tahun. Bahkan, kaum Viking sudah menginjakkan kaki di wilayah itu sekitar 500 tahun lebih awal, dan ada kemungkinan orang Polinesia juga telah berlayar ke Dunia Barat sebelum Columbus berangkat dari Spanyol.
Jadi, siapa sebenarnya orang pertama yang menemukan Amerika?
Penduduk Pertama di Amerika
Manusia pertama yang tiba di Benua Amerika adalah penduduk asli (Indigenous Americans). Mereka merupakan keturunan dari kelompok kuno Siberia Utara dan Asia Timur yang kemungkinan besar menyeberangi Jembatan Darat Bering, jalur darat yang dulu menghubungkan Rusia dan Alaska, atau mungkin berlayar melewatinya.
Kapan tepatnya mereka tiba masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jejak kaki manusia purba di White Sands National Park, New Mexico, berusia antara 21.000 hingga 23.000 tahun. Artinya, mereka hidup di puncak zaman es terakhir, ketika sebagian besar Amerika Utara masih diselimuti gletser raksasa.
Namun, ada studi lain yang mengklaim kedatangan manusia bahkan lebih awal lagi. Contohnya, penemuan artefak batu di Gua Chiquihuite, Meksiko, yang diduga berusia lebih dari 30.000 tahun. Kendati begitu, para ahli masih memperdebatkan apakah batu-batu tersebut benar dibuat manusia atau terbentuk secara alami.
Bahkan ada klaim yang jauh lebih ekstrem. Pada 2017, jurnal Nature menerbitkan penelitian yang menemukan tulang mastodon di California yang diduga dimodifikasi manusia sekitar 130.000 tahun lalu. Namun temuan ini menuai banyak kritik, sebagian arkeolog menilai bentuk tulang tersebut bisa saja disebabkan oleh peristiwa alam atau hewan lain, bukan oleh manusia.
Sebagai perbandingan, bukti tertua keberadaan Homo sapiens sendiri baru ditemukan di Maroko dan berusia sekitar 300.000 tahun, sedangkan migrasi manusia pertama ke Asia terjadi lebih dari 100.000 tahun lalu, dan ke Eropa sekitar 55.000 tahun lalu.
Viking di Benua Baru
Jauh sebelum Columbus, Viking telah mencapai Dunia Barat pada abad ke-11, sekitar 500 tahun lebih awal. Mereka bahkan membangun pos kecil di L'Anse aux Meadows, di ujung utara Newfoundland, Kanada.
Meski tidak diketahui pasti siapa orang Viking pertama yang mendarat di Amerika, kisah-kisah Islandia kuno (Icelandic sagas) memberikan beberapa petunjuk.
Dalam The Saga of Erik the Red, disebutkan seorang pedagang bernama Bjarni Herjólfsson kemungkinan menjadi Viking pertama yang melihat Amerika. Kapalnya tersesat ketika menuju Greenland dan berakhir di pesisir yang diyakini sebagai daratan Amerika Utara. Namun, Herjólfsson memutuskan tidak mendarat dan hanya berlayar menyusuri pantai sebelum kembali ke Greenland.
Sementara itu, The Saga of the Greenlanders menyebut Leif Erikson sebagai orang pertama yang benar-benar mendarat dan melakukan beberapa pelayaran ke wilayah itu.
Apa pun versi yang benar, para sejarawan sepakat bahwa usaha Viking untuk menjajah Amerika gagal total karena mereka menghadapi perlawanan keras dari penduduk asli dan kalah jumlah besar.
Jejak Polinesia di Amerika
Selain Viking, orang Polinesia juga diyakini sempat mencapai Dunia Barat berabad-abad sebelum Columbus.
Sebuah studi DNA pada 2020 menunjukkan adanya percampuran genetik antara orang Polinesia dan penduduk asli Amerika Selatan (kemungkinan dari wilayah Kolombia) sekitar 800 tahun lalu. Namun, ilmuwan belum dapat memastikan apakah itu hasil pelayaran orang Polinesia ke timur, atau justru orang Amerika yang berlayar ke barat menuju Kepulauan Pasifik.
Perdebatan ini makin menarik karena tanaman asli Amerika seperti ubi jalar ditemukan di banyak situs arkeologi Polinesia. Apakah tanaman itu terbawa arus laut, atau dibawa oleh manusia yang berlayar? Harus dipastikan lagi.
Penelitian terbaru tahun 2024 menunjukkan bahwa penduduk Pulau Paskah (Rapa Nui) telah mengonsumsi tanaman asal Amerika Selatan sekitar 1.000 tahun lalu, menandakan adanya kontak lintas samudra jauh sebelum era Columbus.
Columbus Sang Penjelajah
Meski terkenal sebagai penemu Amerika, Christopher Columbus sendiri tidak pernah menyadari bahwa ia telah menemukan benua baru. Ia bersikeras bahwa wilayah yang dijelajahinya adalah bagian dari Asia.
“Columbus mempertaruhkan reputasinya dengan keyakinan bahwa ia telah mencapai Asia. Itulah alasan para investor mau membiayai pelayarannya, dan sulit baginya untuk mengaku salah,” jelas Ida Altman, profesor sejarah emerita di University of Florida dikutip Live Science.
Selain reputasi, faktor finansial juga menjadi alasan kuat. Pemerintah Spanyol menjanjikan gelar kehormatan dan bagian dari kekayaan hasil perdagangan Asia, tapi hanya jika Columbus benar-benar menemukan jalur baru menuju Asia.
Namun di masa tuanya, pandangan Columbus mulai berubah. Menurut Anna Suranyi, profesor sejarah di Endicott College, Massachusetts, beberapa tulisan akhir Columbus menunjukkan bahwa ia menganggap wilayah yang ditemukannya sebagai surga baru bagi orang Eropa, seolah mengakui bahwa tanah itu bukan bagian dari Asia.
Terlepas dari siapa yang datang pertama, pelayaran Columbus mengubah sejarah dunia selamanya. Kedatangannya membuka jalan bagi kolonialisasi besar-besaran oleh bangsa Eropa, yang menyebabkan kehancuran populasi penduduk asli akibat penyakit dan penaklukan, serta melahirkan bangsa-bangsa baru di benua Amerika.
Jadi, sementara nama Columbus tercatat di buku sejarah, cerita tentang siapa penemu sejati Amerika sesungguhnya jauh lebih panjang, kompleks, dan menakjubkan.
