Spesies Baru Katak Pohon Endemik Sulawesi Ditemukan, Begini Wujudnya
18 Juni 2025 10:30 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Spesies Baru Katak Pohon Endemik Sulawesi Ditemukan, Begini Wujudnya
Katak tersebut ditemukan di dua lokasi berbeda, yakni di Gunung Katopasa dan Gunung Gandang Dewata Sulawesi.kumparanSAINS

Para peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil menemukan satu spesies baru katak pohon dari genus Rhacophorus di dua lokasi berbeda di Gunung Katopasa dan Gunung Gandang Dewata Sulawesi.
Katak tersebut merupakan hewan endemik Sulawesi, yang berarti tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia. Penemuan kali ini telah memperkaya daftar fauna endemik Sulawesi khususnya amfibi, sekaligus mempertegas pentingnya konservasi keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea.
Spesies baru katak diberi nama Rhacophorus boeadii, sebagai penghormatan kepada mendiang Drs. Boeadi, seorang naturalis dan ilmuwan dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang telah berkontribusi terhadap dunia ilmu zoologi dan konservasi satwa herpetofauna di Indonesia.
Menurut Amir Hamidy, Peneliti Herpetologi BRIN, R. boeadii memiliki karakter morfologis yang membedakannya dari tiga spesies Rhacophorus Sulawesi lain, seperti R. edentulus, R. georgii, dan R. monticola.
βKatak ini berukuran sedang, dengan panjang tubuh jantan sekitar 40 - 45 milimeter dan betina 48 - 54 mm. Ciri khas lainnya termasuk moncong jantan yang miring, kulit punggung kasar dengan bintik putih, serta pola bercak putih di sisi tubuh,β ujar Amir.
Dia menjelaskan, penemuan ini merupakan hasil survei intensif yang dilakukan pada 2016 hingga 2019 di kawasan Gunung Katopasa yang berada di Sulawesi Tengah, dan Gunung Gandang Dewata di Sulawesi Barat. Analisis morfologi, genetika, serta suara panggilan jantan mendukung bahwa spesimen ini merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, Sulawesi dikenal telah menjadi hotspot keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme tinggi, terutama untuk kelompok amfibi. Sayang, tekanan terhadap habitat alami terus meningkat dan menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan spesies endemik.
Adapun studi telah dipublikasikan di jurnal internasional Zootaxa dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.
