Studi Awal Ungkap Kunci Pengobatan Diabetes: Bunuh ‘Sel Zombi’ di Pembuluh Darah

26 November 2025 12:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Studi Awal Ungkap Kunci Pengobatan Diabetes: Bunuh ‘Sel Zombi’ di Pembuluh Darah
Sel-sel zombi yang bersembunyi di dalam pembuluh darah mungkin berperan besar dalam memicu berbagai penyakit metabolik.
kumparanSAINS
Ilustrasi Pembekuan Darah. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pembekuan Darah. Foto: Shutterstock
Sel zombi yang bersembunyi di dalam pembuluh darah mungkin berperan besar dalam memicu berbagai penyakit metabolik seperti diabetes seiring bertambahnya usia. Temuan terbaru ini bahkan membuka peluang munculnya terapi baru yang menargetkan sel-sel membandel tersebut.
Dalam kondisi normal, sel dapat memasuki fase penuaan atau disebut senescence, yakni saat mereka berhenti membelah tapi tetap bertahan di dalam tubuh. Beberapa sel dalam kondisi ini punya manfaat, misalnya membantu proses penyembuhan luka. Namun, jika jumlahnya menumpuk, sel-sel tua ini justru bisa memicu berbagai penyakit terkait penuaan.
Studi sebelumnya pada tikus menunjukkan, membersihkan sel senescence ini dengan obat tertentu dapat mengurangi tanda-tanda penuaan dan memperpanjang masa hidup yang sehat, ungkap Dr. Mayasoshi Suda, penulis utama studi dan asisten profesor di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan Kamis (20/11) di jurnal Cell Metabolism, tim peneliti berfokus pada sel endotel, yaitu sel yang melapisi dinding pembuluh darah. Mereka menemukan bagaimana kondisi penuaan pada sel-sel ini dapat berdampak buruk pada metabolisme.
Penelitian ini juga memberi gambaran kemungkinan strategi pengobatan baru untuk masalah metabolik terkait usia, bahkan untuk banyak aspek penuaan lainnya.
“Dengan menemukan satu target kunci seperti pembuluh darah, kita bisa punya peluang untuk mengatasi berbagai aspek penuaan sekaligus,” kata Dr. Christina Aguayo-Mazzucato dari Harvard Medical School, yang tak terlibat dalam studi ini sebagaimana dikutip Live Science.
Meski sel-sel senescence memang punya peran, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa mereka juga mendorong berbagai penyakit metabolik. Tantangannya, mencari tahu sel mana yang efek penuaannya merugikan, dan mana yang justru bermanfaat.
Dalam studi ini, tim memilih meneliti pembuluh darah yang perannya krusial bagi hampir semua organ dan terbukti berpengaruh besar terhadap metabolisme.
Ilustrasi ambil sample darah. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Untuk menguji apakah sel endotel yang menua benar-benar memicu gangguan metabolik, para peneliti memberi kelompok tikus makan tinggi lemak agar berat badannya naik dan sel-selnya memasuki fase penuaan.
Sel-sel endotel senescence itu kemudian diambil untuk dianalisis. Di sisi lain, mereka juga membuat sel endotel lain memasuki fase penuaan lewat paparan radiasi, lalu mentransplantasikan sel-sel tersebut ke tikus kurus yang punya metabolisme normal.
Hasilnya, menghapus sel endotel senescence pada tikus obesitas menurunkan massa lemak, memperbaiki kadar gula darah, dan mengurangi gangguan metabolik. Selain itu, menanamkan sel senesen ke tikus sehat justru meningkatkan kadar gula dan memicu resistansi insulin.
“Begitu sel masuk fase senescence, mereka mulai menghasilkan zat inflamasi yang disebut Senescence-Associated Secretory Phenotype (SASP),” jelas Dr. Nicolas Musi, salah satu penulis studi.
“Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa penghilangan sel-sel senesens dikaitkan dengan peningkatan laju metabolisme. Sel biasanya mengambil nutrisi dari aliran darah, seperti lemak dan glukosa, untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan agar berfungsi dengan baik. Namun, ketika mereka menghadapi serangan molekul inflamasi dari sel-sel SASP, proses tersebut menjadi terganggu.”
Di tahap berikutnya, para peneliti menguji fisetin, obat yang diketahui mampu membasmi sel senescence, kelompok obat ini disebut senolytic. Baik tikus obesitas maupun tikus sehat yang menerima sel senesen menunjukkan hasil serupa, di mana jumlah sel senescence di pembuluh darah menurun, dan toleransi glukosa membaik.
Obat yang sama juga diuji pada sampel jaringan pembuluh darah dari enam orang dewasa obesitas berusia 40–50 tahun. Hasilnya, sel senescence secara konsisten berkurang. Aguayo-Mazzucato menilai temuan ini bisa membuka jalan bagi terapi baru yang menargetkan sel senesen di sistem pembuluh darah.
“Gangguan metabolik itu masalah seluruh tubuh. Banyak jaringan yang terganggu pemanfaatan nutrisinya,” ujarnya.
Karena sel senescence ada di seluruh tubuh, menargetkan pembuluh darah bisa membantu dokter menangani berbagai penyakit sekaligus.
“Alih-alih mengobati kanker, diabetes, Alzheimer, atau Parkinson secara terpisah, pendekatan ini melihat semuanya sebagai penyakit terkait usia dengan jalur biologis yang saling berkaitan,” tambahnya.
Studi di masa depan diperlukan untuk memastikan apakah mekanisme yang terlihat pada tikus ini juga terjadi di pembuluh darah manusia.
Trending Now