Studi: Makhluk Hidup Memancarkan Aura Lembut dan Menghilang saat Mereka Mati
15 Mei 2025 10:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
Studi: Makhluk Hidup Memancarkan Aura Lembut dan Menghilang saat Mereka Mati
Makhluk hidup memancarkan cahaya atau 'aura' yang bersinar dan hilang saat mereka mati. Ini faktanya.kumparanSAINS

Tahukah kamu bahwa makhluk hidup memancarkan cahaya unik selama hidupnya di dunia? Peneliti menyebutnya fenomena biofoton. Cahaya yang dipancarkan ini menghilang saat makhluk hidup menemui ajalnya.
Para peneliti dari Universitas Calgary dan Dewan Riset Nasional Kanada melakukan percobaan luar biasa pada tikus dan daun dari dua spesies tanaman berbeda. Hasil menunjukkan, semua makhluk hidup–termasuk manusia–secara harfiah dapat mengeluarkan cahaya sampai mereka mati.
Temuan ini mungkin tampak sedikit aneh. Sulit untuk tidak mengaitkan penyelidikan ilmiah terhadap emisi elektromagnetik biologis dengan klaim paranormal dan aura yang telah dibantah di sekitar organisme hidup, selama ini.
Ada alasan kenapa cahaya ini tampak samar bahkan tidak terlihat secara kasat mata. Secara teori, panjang gelombang cahaya tampak yang dipancarkan proses biologis makhluk hidup ini sangat redup dan 'kalah terang' oleh pancaran gelombang elektromagnetik sekitar yang intens.
Cahaya ini juga tak lebih dominan dari panas radiasi yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh kita. Atas dasar ini, peneliti menjadikannya tantangan untuk melacak kehadiran 'aura' secara akurat di seluruh tubuh.
Makhluk hidup memancarkan cahaya atau aura dengan panjang 200 hingga 1.000 nanometer. Aura ini terekam dari reaksi yang kurang jelas di antara berbagai macam sel hidup yang berasal dari jaringan jantung sapi hingga koloni bakteri. Fisikawan Universitas Calgary Vahid Salari dan timnya mengklaim emisi foton ultra-lemah (UPE) yang dihasilkan oleh beberapa hewan hidup ini sangat kontras.
Salah satu dugaan kuat sumber radiasi ini merupakan efek berbagai spesies oksigen reaktif yang diproduksi sel hidup saat terganggu oleh tekanan seperti panas, racun, patogen, atau kekurangan nutrisi.
Dengan adanya molekul hidrogen peroksida yang cukup, bahan-bahan seperti lemak dan protein dapat mengalami transformasi yang mendorong elektron-elektronnya, mengeluarkan satu atau dua foton yang berenergi sesuai saat mereka kembali ke tempatnya.
Untuk menentukan apakah proses tersebut dapat diskalakan dari jaringan yang terisolasi ke seluruh subjek yang hidup, para peneliti menggunakan perangkat Electron-multiplying charge-Coupled Device untuk membandingkan beragam emisi cahaya.
Percobaan dilakukan pada tikus hidup dan mati. Empat tikus ditempatkan satu per satu di dalam kotak gelap dan dipindai selama satu jam. Mereka lalu disuntik mati dan dipindai selama satu jam lagi. Mereka dihangatkan hingga mencapai suhu tubuh bahkan setelah mati, agar panas tubuh tetap stabil dan tidak berubah-ubah.
Para peneliti menangkap foton-foton individual dalam pita cahaya tampak yang muncul dari sel-sel tikus sebelum dan sesudah kematian. Perbedaan jumlah foton-foton ini jelas, dengan penurunan UPE yang signifikan dalam periode pengukuran setelah mereka disuntik mati.
Percobaan berikutnya dilakukan pada daun selada air (A. thaliana). Percobaan menunjukkan hasil yang sama seperti pada sampel tikus. Pemberian tekanan pada tanaman dengan cedera fisik dan agen kimia, memberikan bukti kuat bahwa spesies reaktif oksigen ini adalah objek di balik munculnya cahaya lembut tersebut.
"Hasil kami menunjukkan bahwa bagian yang terluka pada semua daun secara signifikan lebih terang daripada bagian daun yang tidak terluka selama 16 jam pengambilan gambar," para peneliti melaporkan.
Percobaan ini mendorong spekulasi bahwa cahaya halus yang paling redup yang dihasilkan oleh sel yang tertekan, mungkin suatu hari dapat memberi tahu kita terkait kondisi kesehatan dengan sangat jelas.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam The Journal of Physical Chemistry Letters berjudul 'Imaging Ultraweak Photon Emission from Living and Dead Mice and from Plants under Stress.'
