Video AI Ungkap Dampak Dahsyat jika Gunung Fuji Meletus, Tokyo Bisa Lumpuh Total

8 September 2025 16:28 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Video AI Ungkap Dampak Dahsyat jika Gunung Fuji Meletus, Tokyo Bisa Lumpuh Total
Video itu menggambarkan betapa mencekamnya dampak letusan Gunung Fuji bagi kota Tokyo dan 37 juta warganya.
kumparanSAINS
Ilustrasi Gunung Fuji Jepang meletus. Foto: okyo Metropolitan Government Bureau of General Affairs
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gunung Fuji Jepang meletus. Foto: okyo Metropolitan Government Bureau of General Affairs
Sebuah video buatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendadak viral di Jepang. Video itu menggambarkan betapa mencekamnya dampak letusan Gunung Fuji bagi kota Tokyo dan 37 juta warganya.
Video yang dirilis oleh Pemerintah Tokyo pada 22 Agustus 2025 lalu itu bagian dari kampanye edukasi peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Gunung Berapi Jepang 2025.
Video hasil AI itu menunjukkan betapa cepatnya abu vulkanik bisa melayang dari Gunung Fuji menuju ibu kota Jepang. Dalam hitungan satu hingga dua jam, abu tersebut dapat menghujani jalan raya, gedung-gedung, rel kereta, hingga infrastruktur vital lain.
β€œMomen itu bisa datang tanpa tanda-tanda peringatan,” bunyi teks terjemahan video tersebut sebagaimana dikutip Live Science. β€œJika Gunung Fuji meletus, abu vulkanik bisa jatuh di Tokyo dan memengaruhi hidup kita dalam berbagai cara.”
Simulasi memperlihatkan seorang perempuan menerima peringatan letusan lewat ponselnya. Kemudian, video membawa penonton menyusuri kemungkinan dampak abu terhadap transportasi, listrik, air bersih, hingga kesehatan warga.
Hanya sedikit abu di landasan pacu sudah cukup untuk membuat pesawat tak bisa terbang. Jalur kereta pun bisa berhenti total. Sementara itu, abu tipis di jalan raya mampu membuat kendaraan roda dua tergelincir karena jarak pandang terbatas.
Lebih parah lagi, tumpukan abu bisa menyumbat saluran air, mencemari persediaan air bersih, merobohkan atap kayu, dan menjatuhkan kabel listrik. Kota Tokyo berisiko terjebak dalam kegelapan karena sinar Matahari terhalang partikel abu, sementara distribusi pangan dan kebutuhan pokok bisa tersendat. Dari sisi kesehatan, partikel abu berpotensi memperparah penyakit pernapasan jutaan orang.
Gunung Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang dengan ketinggian 3.776 meter. Letusan terakhir tercatat pada 1707, dengan hujan abu yang berlangsung dua pekan. Dulu, Fuji meletus rata-rata setiap 30 tahun sekali, tapi kini sudah tertidur selama lebih dari tiga abad.
Meski begitu, sejumlah ahli percaya letusan bisa terjadi kapan saja. Pemerintah Tokyo menegaskan video simulasi ini tidak berkaitan dengan adanya tanda-tanda aktivitas vulkanik baru.
β€œSimulasi ini dibuat untuk membekali warga dengan pengetahuan yang akurat serta langkah kesiapsiagaan jika keadaan darurat benar-benar terjadi,” tulis pejabat pemerintah, mengutip CNN.
Langkah persiapan darurat yang disarankan termasuk menyiapkan persediaan makanan, air, dan obat-obatan untuk dua minggu, seperti yang ditunjukkan dalam video. Sebelumnya pada Maret lalu, pemerintah Tokyo juga sudah menerbitkan panduan agar masyarakat selalu siap menghadapi bencana.
Menurut Naoya Sekiya, profesor sekaligus pakar komunikasi risiko dari Universitas Tokyo, simulasi semacam ini memang sudah lama dilakukan pemerintah Jepang, baik untuk gempa bumi maupun letusan gunung berapi.
β€œTidak ada signifikansi khusus dengan waktu rilis video ini,” katanya kepada NBC News.
Jepang memang berada di posisi rawan bencana. Negara ini memiliki 111 gunung berapi aktif atau sekitar sepersepuluh dari total gunung berapi dunia. Letaknya di pertemuan empat lempeng tektonik menjadikan Jepang sering dilanda gempa dan letusan gunung berapi.
Bencana terbesar yang masih membekas adalah gempa dan tsunami Tohoku pada 2011. Gempa bermagnitudo 9 itu menjadi yang terkuat dalam sejarah Jepang, dengan peringatan baru muncul satu menit sebelum guncangan besar melanda Tokyo.
Trending Now