Wanita di China Terinfeksi Cacing Parasit Langka Gegara Gemar Makan Katak Mentah
5 Desember 2025 10:09 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Wanita di China Terinfeksi Cacing Parasit Langka Gegara Gemar Makan Katak Mentah
Seorang wanita berusia 32 tahun di Shanghai, China, terkena infeksi paru-paru langka usai menyantap katak mentah.kumparanSAINS

Kasus tersebut sudah dicatat dalam Journal of Thoracic Disease.
Wanita yang identitasnya dirahasiakan itu datang ke rumah sakit dengan keluhan batuk berkepanjangan disertai dahak berdarah yang muncul dua sampai tiga kali setiap hari. Batuk itu sudah berlangsung selama empat bulan sebelum ia memeriksakan diri. Sekitar sebulan sebelum batuk muncul, ia juga mengalami demam tinggi hingga 38,3 derajat Celsius yang berlangsung selama beberapa minggu.
Dokter di rumah sakit pertama mendiagnosisnya dengan eosinophilic pneumonia, penyakit langka pada saluran pernapasan ketika sel darah putih menumpuk di paru-paru hingga memicu peradangan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat merusak paru dan berpotensi fatal.
Ia kemudian diberi obat steroid untuk meredakan peradangan. Namun batuknya tak kunjung hilang, bahkan setelah dua bulan menjalani terapi. CT scan menunjukkan adanya lesi berulang di jaringan paru-parunya. Karena itu, ia dirujuk ke rumah sakit lain untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Saat dokter di rumah sakit kedua menelusuri riwayat kesehatannya, mereka menemukan satu informasi penting, perempuan itu mengaku sering mengonsumsi seafood mentah. Selain itu, ia juga memiliki kebiasaan menyukai kodok dan bullfrog (katak lembu) mentah.
Dokter kemudian melakukan tes darah untuk mendeteksi antibodi terhadap parasit, dan hasilnya menunjukkan keberadaan antibodi terhadap larva Spirometra mansoni, jenis cacing pita yang dapat menyebabkan penyakit sparganosis.
Larva cacing ini umumnya masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi ular atau kodok yang dimakan mentah atau kurang matang. Biasanya, larva akan bermigrasi ke jaringan tubuh tertentu. Dalam kasus perempuan ini, larva tersebut justru berpindah ke paru-paru, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Untuk memastikan sumber infeksi, pasien membawa seekor kodok dari daerah tempat tinggalnya. Saat dibedah, kodok tersebut ternyata terinfeksi S. mansoni. Karena gejalanya sangat mirip dengan eosinophilic pneumonia, dokter di rumah sakit pertama pun akhirnya diketahui salah melakukan diagnosis.
Dokter memberikan obat praziquantel, salah satu obat yang efektif melawan berbagai jenis cacing parasit. Setelah lima hari mengonsumsi obat tersebut, batuk pasien mulai mereda.
20 hari setelah dirawat di rumah sakit kedua, CT scan menunjukkan bayangan infeksi di paru-paru yang sebelumnya terlihat mulai mengecil. Saat kontrol satu bulan kemudian, batuknya benar-benar hilang. Namun tes darah menunjukkan antibodi terhadap parasit masih ada, tanda bahwa infeksi belum sepenuhnya bersih.
Dokter pun memberikan terapi praziquantel tambahan selama lima hari lagi. Pada pemeriksaan lima bulan berikutnya, antibodi masih terdeteksi tetapi dalam jumlah sangat kecil. Jumlah sel darah putihnya kembali normal, sehingga dokter menyatakan pengobatan tidak lagi diperlukan.
Infeksi sparganosis umumnya muncul di jaringan bawah kulit, bukan di organ dalam. Kasus ini merupakan yang pertama kalinya dilaporkan di Shanghai di mana larva parasit ditemukan di paru-paru, menurut laporan tim medis dilansir Live Science.
Kebiasaan makan hewan segar atau mentah masih menjadi tradisi di beberapa wilayah Asia. Bahkan, dalam beberapa kasus ekstrem, hewan kecil dikonsumsi saat masih hidup. Sebagai contoh, seorang perempuan 82 tahun di Hangzhou pernah dirawat karena infeksi parasit setelah menelan delapan ekor kodok hidup dalam upaya mengobati sakit punggung kronisnya.
