
Merawat Mimpi sejak Belia demi Garuda Juara
17 Agustus 2025 12:00 WIB
ยท
waktu baca 12 menit
Merawat Mimpi sejak Belia demi Garuda Juara
Dari lapangan bulu tangkis sampai sepak bola putri, mimpi-mimpi para atlet terus dirawat sejak dini. Butuh komitmen dan konsistensi mengembangkan ekosistem pembinaan yang berjenjang. #BaktiPadaNegerikumparanSPORT
โZaman saya di umur segitu, belum ada yang benar-benar full time main ganda. Jadi itu hal yang berat,โ kata Kevin Sanjaya Sukamuljo (30), mengenang momen 1,5 dekade silam, saat diwawancara kumparan di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (5/8).
Momen tersebut begitu terekam di benak mantan atlet bulu tangkis Indonesia itu. Saat itu, Kevin sudah sekitar tiga tahun berlatih di PB Djarum, klub bulu tangkis terbesar di tanah air. Ia bergabung ke PB Djarum setelah lolos audisi di kesempatan keduanya pada 2007.
Kevin remaja ketika itu tak langsung menerima. Ia memilih menenangkan diri dan berdiskusi dulu dengan kedua orang tuanya, Sugiarto Sukamuljo dan Winartin Niawati, yang tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.
Kepada ibunya, Winartin, Kevin mengutarakan isi hatinya: menolak bermain ganda. Ia berulang kali menyampaikan itu lewat sambungan telepon.
โDia (Kevin) bolak-balik telepon, โMau [main] tunggal aja, Ma. Kepingin di tunggal dulu,โโ cerita Winartin pada kumparan di Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (6/8).
Keengganan Kevin berpindah ke ganda sampai-sampai membuat Winartin menelepon tim pelatih PB Djarum. Winartin meminta agar Kevin tetap bermain tunggal. Namun tim pelatih beberapa kali meyakinkan bahwa potensi besar Kevin ialah bermain di ganda.
โWaktu itu Kevin dipindahkan ke ganda melalui beberapa proses yang cukup berat. Yang paling berat apabila pemain tunggal dipindahkan ke ganda selalu ada semacam pertentanganโฆ karena yang dianggap lebih prestisius adalah pemain tunggal,โ ucap Manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi, di GOR Djarum, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (30/7).
Tak cuma tim pelatih, Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin bahkan ikut meyakinkan langsung orang tua Kevin. Yoppy menangkap kegelisahan Winartin, salah satunya karena pemain ganda PB Djarum harus berpindah latihan dari Kudus ke Jakarta, yang notabene dunia baru bagi Kevin, plus ia akan semakin jauh dari orang tua.
Yoppy pun membuat perjanjian dengan Winartin, bahwa jika Kevin tidak berprestasi dalam kurun satu tahun, Kevin akan dikembalikan ke tunggal putra dan kembali berlatih di Kudus. Hal ini disepakati orang tua Kevin dan Kevin sendiri.
Setelahnya, sesuai analisis dan insting tim pelatih, Kevin berjaya di sektor ganda. Gelar demi gelar diraih Kevin bersama pasangannya di level junior, seperti juara Kejurnas Taruna Ganda Putra 2012 sampai medali perak Kejuaraan Dunia Junior (WJC) 2013 di nomor ganda campuran dan beregu.
Beragam prestasi itu membuat Kevin dipanggil bergabung ke pemusatan latihan nasional (pelatnas) pada awal 2013.
โDalam kurun setahun, Kevin sudah mulai merangsek jadi juara di berbagai nomor. [Saya hubungi ibunya], โJadi gimana? Mau dibalikin ke Kudus?โ Ibunya bilang, โOh jangan... jangan, sudah benar ini,โโ kata Yoppy, mengingat ucapan ibu Kevin sambil tersenyum.
Berada di pelatnas, Kevin sempat dicoba bermain ganda campuran, berpasangan dengan atlet senior Greysia Polii. Kevin lalu menemukan soulmate-nya saat berduet dengan Marcus Fernaldi Gideon.
Pasangan ganda putra yang dijuluki โThe Minionsโ itu begitu mendominasi. Menyabet 7 gelar BWF Super Series sepanjang 2017, lalu meraih 8 gelar juara BWF World Tour pada 2018. Itu termasuk turnamen bergengsi All England 2017 dan 2018. Ada pula gelar juara Asian Games 2018.
โ[Gelar] paling berkesan Asian Games 2018 sama All England 2017. Karena Asian Games 2018 di final hampir kalah dan akhirnya bisa menang, kayak dapat mukjizat. Kalau All England 2017 itu pertama kali bisa dapat gelar bergengsi,โ ucap Kevin.
โWaktu [Kevin juara] All England, saya sama bapaknya tengah malam nangis, enggak nyangka. Masalahnya dari kecil dia (Kevin) kepingin banget jadi juara All England,โ timpal ibunya, Winartin.
Saking digdayanya, Kevin/Marcus menjadi ganda putra nomor satu terlama di dunia sekitar lima tahun dari September 2017 sampai September 2022. Hingga kemudian pada Mei 2024, Kevin memutuskan gantung raket. Mengikuti jejak Marcus yang pensiun dua bulan sebelumnya.
Mental Petarung
Apa yang diraih Kevin tidaklah instan, namun hasil gabungan dari talenta, kegigihan, dan ekosistem yang mendukung di PB Djarum.
Minat Kevin terhadap bulu tangkis sudah terlihat sejak TK. Kevin kecil sering memperhatikan ayahnya bermain badminton di lapangan belakang rumah hingga larut malam.
Ia menolak ketika dibelikan raket standar untuk anak kecil. Kevin meminta raket yang biasa dipakai atlet profesional. Kevin lantas masuk klub lokal Banyuwangi dan berlatih 3 kali seminggu.
Pada 2006, saat PB Djarum membuka audisi umum perdana di Kudus, Kevin mendaftar sebagai salah satu peserta. Namun ia gagal.
โSetelah itu saya latihan dari seminggu 3 kali jadi hampir setiap hari untuk ikut lagi audisi tahun depannya,โ kata Kevin.
Benar saja, pada audisi umum 2007, Kevin lolos. Talentanya ketika itu dipantau langsung oleh Fung dan Yoppy.
โFung yang menemukan [Kevin]. Dia (Fung) ngomong ke saya, โAda anak kecil, tapi saat main tidak pernah kesusahanโ. Saya setuju, memang dia (Kevin) mainnya tidak pernah kedandapan, gedabak-gedebuk, karena dia bisa menebak arah bola. Itu talenta super istimewa,โ ujar Yoppy yang juga Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation di GOR Djarum Kudus, Kamis (7/8).
Fung melihat, sekalipun postur tubuh Kevin saat itu lebih kecil dari rata-rata atlet seusianya, tetapi kegigihannya jadi keunggulan. Sikap itu pula yang selalu dibawa Kevin dari level junior hingga pelatnas.
โAwalnya semua orang bilang, โKevin terlalu kurus, kecil.โ Tapi dia ada potensi, ada bakat. Bakatnya apa? Ngeyel (keras kepala). Di lapangan juga [geraknya] sangat cepat, terutama pada permainan depan net, lawan sulit mengantisipasi bola-bola depannya,โ kata Aryono Miranat, pelatih ganda putra di Pelatnas PBSI yang saat ini menjadi Penasihat Teknik PB Djarum.
Mental petarung itu pula yang membuat Yoppy terkesan ketika melihat karier Kevin sejak belia hingga pensiun.
Sayangnya, kini mental petarung memudar pada atlet-atlet muda. Yoppy menyindir, โSekarang baru juara sekali [sudah] gaya.โ
Mental petarung yang memudar, ditambah perkembangan masif media sosial, menjadi tantangan buat para pelatih di PB Djarum. Sampai akhirnya PB Djarum menerapkan aturan penggunaan ponsel oleh atlet hanya setelah latihan jam 17.00โ21.00 WIB. Di luar jam itu, ponsel dikumpulkan.
โTugas pelatih juga mengarahkan cara berpikir atlet, menyentuh hatinya supaya tidak mau kalah, semangat berjuang terus. Para pelatih juga diberikan tambahan ilmu psikologi untuk [memahami] bagaimana menghadapi anak-anak sekarang,โ jelas Fung.
Merawat Mimpi Sejak Dini
Kevin, beserta atlet-atlet lain yang telah bergabung dengan PB Djarum, merupakan penopang prestasi badminton Indonesia sejak era dulu, kini, dan nanti. Perjuangan, keringat, bahkan cedera yang didapat di lapangan mencerminkan bakti mereka pada negeri.
Sejak 1969 sampai saat ini, lebih dari 5.000 atlet sudah dibina PB Djarum, dengan Liem Swie King sebagai atlet pertama yang membuka keran prestasi lewat gelar All England 1978.
Sepanjang berdirinya PB Djarum, total 21 gelar juara All England telah direngkuh atlet-atletnya. Sementara dari gelaran Olimpiade, sebanyak 11 medali sudah disumbangkan atlet PB Djarum bagi Indonesia. Mulai dari Alan Budikusuma (emas Olimpiade Barcelona 1992), Trikus Haryanto dan Minarti Timur (perak Olimpiade Sydney 2000), hingga Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016).
Raihan gelar demi gelar itu tidak didapat secara kilat. Butuh konsistensi pembinaan atlet sejak usia dini. Berada di bawah naungan Bakti Olahraga Djarum Foundation, PB Djarum mengambil peran sebagai wadah bagi atlet-atlet belia untuk merawat mimpi hingga menjadi juara: demi membuktikan bakti mereka kepada Indonesia.
Yoppy Rosimin menekankan, ekosistem pembinaan atlet usia dini yang konsisten sangat krusial bagi keberlanjutan prestasi suatu cabang olahraga. Itulah yang menjadi pertimbangan PB Djarum menggelar Audisi Umum PB Djarum untuk memperebutkan Djarum Beasiswa Bulutangkis setiap tahunnya.
Digelar sejak 2006, audisi umum PB Djarum diikuti ribuan peserta yang mengejar mimpinya setiap tahun. Pada 2025, audisi menyasar atlet di tiga kelompok usia: U-11, KU-11 dan KU-12.
Selain itu, PB Djarum melakukan audisi khusus dengan mencari atlet-atlet berbakat di berbagai kejuaraan. Jika toh para atlet belia tidak masuk di PB Djarum, setidaknya ada klub bulu tangkis lain yang bisa menerima mereka.
โEkosistem perlu dijaga. Jangan sampai satu mata rantai hilang. Kalau hilang, rantainya akan kendor dan terputus. Akibatnya kaderisasi tidak terjaga dengan baik. Sekali putus, impact-nya bisa bertahun-tahun kemudian. Itu (audisi) penting dilakukan agar apinya menyala terus di seluruh pelosok Indonesia,โ ujar Yoppy.
Komitmen PB Djarum membina atlet usia diniโselama setengah abad lebihโtelah terbukti menarik minat para orang tua mendaftarkan anak mereka untuk ikut audisi umum.
Ibunda Kevin menyatakan, komitmen PB Djarum itulah yang pada 2007 membuatnya yakin melepas Kevin ke Kudus sejak usia 12 tahun. Apalagi didukung fasilitas asrama dan GOR yang disebut-sebut sebagai pusat pelatihan bulutangkis terbaik di Asia.
โSampai sekarang, menurut saya, yang benar-benar support bulu tangkis itu ya PB Djarum,โ kata Winartin.
Yoppy menjelaskan, atlet yang lolos audisi PB Djarum akan dibina secara berjenjang mulai usia 11 hingga 19 tahun. Mereka rutin diterjunkan di turnamen berbagai kelompok usia.
Bahkan tak jarang atlet usia 15 tahun bermain di kelompok usia U-17, jika potensinya mumpuni. Ia mencontohkan, salah satu atlet yang mendapat kesempatan itu adalah Moh. Zaki Ubaidillah atau Ubed yang sejak akhir 2024 telah masuk Pelatnas.
Yang jelas, kata Yoppy, PB Djarum secara konsisten menyiapkan program bagi para atlet di setiap jenjang usia. Menurutnya, program itu bisa berjalan karena ekosistem di cabor bulu tangkis sudah baik. Indikatornya adalah kalender turnamen yang konsisten setiap tahun, ada di tiap bulan, dan berjenjang dari U-11 hingga dewasa.
Jika para atlet melaksanakan program dengan serius, harapannya mereka bisa masuk pelatnas dan mengukir prestasi di level dunia. Hingga pertengahan tahun ini, terdapat 10 atlet junior PB Djarum yang lolos masuk Pelatnas PBSI.
โDukungan kami dinamis. Atlet mau sampai ke level dunia pun kami siapkan anak tangganya,โ ujar Yoppy.
Sementara itu, Koordinator Pencari Bakat PB Djarum, Sigit Budiarto, menyatakan ekosistem yang kondusif selama ini tercipta berkat kolaborasi pengurus, pelatih, hingga atlet.
โEkosistem kondusif mendukung atlet-atlet berprestasi di tingkat dunia,โ kata Sigit.
Adapun Ketua PBSI Jateng, Akhmad Khafidz Basri Yusuf, menilai kontribusi PB Djarum dalam pembinaan atlet usia dini tak perlu diragukan, sebab sudah banyak atlet jebolan PB Djarum yang menyumbang medali bagi Indonesia di berbagai level kejuaraan.
Basri menilai ekosistem pembinaan di PB Djarum tersusun rapi dan berkelanjutan.
โPembinaan PB Djarum berkomitmen, terus muncul atlet-atlet baru,โ kata Basri.
Walau levelnya sudah internasional, PB Djarum disebut Basri tidak lupa dengan jati dirinya sebagai klub asal Kudus, Jawa Tengah.
Ia menyebut PB Djarum berkontribusi bagi bulu tangkis Jateng yang meraih juara umum di PON Aceh-Sumut 2024. Dalam gelaran tingkat nasional itu, atlet-atlet bulu tangkis Jateng meraih 5 emas, 3 perak, dan 2 perunggu.
Selain itu, PB Djarum juga mendukung kejuaraan di 35 kabupaten/kota yang digelar PBSI Jateng selama 2 kali dalam setahun.
โItu adalah kontribusi PB Djarum terhadap Jawa Tengah,โ ucap Basri.
Menghidupkan Harapan Sepak Bola Putri
Tak berhenti di bulu tangkis, Bakti Olahraga Djarum Foundation kini berupaya menghidupkan harapan pesepak bola putri, selain ada pula program pemassalan atletik dan panahan usia dini.
Khusus sepak bola putri, sejak 2023 Djarum Foundation menggelar turnamen usia dini untuk kelompok usia U-8, U-10, U-12, U-14, dan U-16. Tujuannya sama: menciptakan ekosistem pembinaan yang berjenjang.
โKita bikin mata rantai. Mata rantai itu harus berjalan dan akan menghasilkan produksi pemain-pemain [sepak bola putri] secara alamiah,โ kata Yoppy.
Inisiatif itu bermula dari kegelisahan tidak adanya ekosistem pembinaan maupun kompetisi usia dini di sepak bola putri, berbeda jauh dibanding sepak bola putra. Alhasil ketersediaan pemain sepak bola putri terbatas, dan ini berefek ke tim nasional.
โ[Pemainnya] asal comot-comot. Tidak ada pola yang jelas. Makanya kami bikin pemassalan, bikin ekosistem,โ ucap Yoppy.
Belum lagi pola pikir masyarakat yang masih skeptis ketika perempuan bermain sepak bola. Padahal, sepak bola putri Indonesia pernah berprestasi pada era 1980-an lewat kejayaan tim Buana Putri.
Bahkan, menurut Yoppy, peluang timnas sepak bola putri masuk Piala Dunia lebih besar dibanding putra jika ekosistem pembinaan berlangsung konsisten. Sebab di kawasan ASEAN, Indonesia cukup membuktikan diri untuk bisa bersaing dengan Filipina dan Vietnam.
Dua negara itu merupakan debutan di Piala Dunia Wanita 2023. Filipina lolos karena menjadi semifinalis Piala Asia 2022, sedangkan Vietnam lolos usai menjadi pemuncak klasemen babak play off.
โPeluangnya [sepak bola] putri lebih banyak lolos,โ ujar Yoppy.
Turnamen berjenjang usia dini yang digelar sejak 2023 itu telah melibatkan lebih dari 30 ribu pesepak bola putri, serta hampir seribu Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun Sekolah Sepak Bola (SSB) di sejumlah kota yang berpartisipasi.
Pada kategori U-8 sampai U-12, turnamen digelar MilkLife Soccer Challenge (MLSC). Sementara di kategori U-14 dan U-16, Turnamen Piala Pertiwi diwadahi Hydroplus Soccer League dan HydroPlus Piala Pertiwi, hasil kerja sama Djarum Foundation dengan PSSI yang berlangsung 2025โ2027.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan, gelaran Piala Pertiwi U-14 dan U-16 salah satunya bertujuan menyiapkan talenta untuk mendukung Liga 1 Putri yang rencananya digelar pada 2027.
โPSSI memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Djarum Foundation melalui brand Hydroplus yang mau turun langsung untuk mendorong inisiatif baik tersebut menjadi sesuatu yang dapat terlaksana sebagai suatu kegiatan yang memberikan dampak langsung di level grassroot sepak bola putri Indonesia,โ kata Erick di Jakarta, April lalu.
Menurut Yoppy, turnamen usia dini bisa memudahkan pelatih timnas untuk menyaring bakat-bakat potensial pesepak bola putri. Terbukti pada gelaran Piala AFF U-16 Wanita pada akhir Agustus ini, terdapat tiga pemain timnas Indonesia yang merupakan jebolan MLSC.
Meski mulanya dipandang sebelah mata, kini gaung turnamen tersebut telah menggema. Indikatornya mulai banyak SSB maupun klub-klub Super League seperti Persib dan Arema yang berencana membentuk tim putri untuk ikut kompetisi. Begitu pula sponsor-sponsor yang mulai berdatangan ingin mendukung turnamen.
Tak cukup sampai U-16, Djarum juga berencana menggelar liga kampus untuk sepak bola putri, sehingga para pemain yang telah berkompetisi sejak usia belia bisa memiliki jenjang pembinaan yang jelas. Bahkan, bisa saja kampus yang nantinya berkompetisi memberikan beasiswa kuliah bagi para pemain jebolan jenjang sebelumnya.
โKalau dapat beasiswa, orang tuanya kan senang,โ ujar Yoppy.
Yoppy menekankan, gelaran turnamen sepak bola putri usia dini juga perlu dukungan pemerintah maupun federasi, sebab ekosistem yang kondusif diperlukan agar turnamen berlangsung secara kontinu.
Ia pun mengusulkan adanya alternatif turnamen usia dini lainnya, semisal dengan memasukkan cabor sepak bola putri pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di berbagai daerah hingga tingkat nasional.
Jika kompetisi sepak bola putri usia dini digelar di mana-mana, level persaingan bakal meningkat dan stok pemain melimpah.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Djarum Foundation sampai sejauh ini lebih dari sekadar menyemarakkan. Ini tentang konsistensi menciptakan ekosistem pembinaan usia dini dan merawat harapan para atlet masa depan.
Dari ayunan raket hingga tendangan para pertiwi, setiap program merupakan wujud nyata bakti pada negeri. Melalui bibit-bibit atlet itulah kelak lahir prestasi yang bukan hanya mengharumkan nama bangsa di panggung dunia, melainkan juga menjadi perekat semangat persatuan, demi membawa Indonesia digdaya seutuhnya.