Saat Panahan Jadi Terapi: Perjalanan Anggoro, Pemanah U-18 Berkebutuhan Khusus

19 Desember 2025 13:24 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saat Panahan Jadi Terapi: Perjalanan Anggoro, Pemanah U-18 Berkebutuhan Khusus
Cerita Widia tentang perjalanan sang anak, Anggoro, di dunia panahan sebelum berkompetisi di MilkLife Archery Challenge KEJURNAS Antar Club 2025.
kumparanSPORT
Anggoro (kanan) bersama dua rekannya di DAD Archery Jakarta pada partai semifinal beregu Divisi Compound U-18 di MilkLife Archery Challenge 2025. Foto: MilkLife Archery Challenge
zoom-in-whitePerbesar
Anggoro (kanan) bersama dua rekannya di DAD Archery Jakarta pada partai semifinal beregu Divisi Compound U-18 di MilkLife Archery Challenge 2025. Foto: MilkLife Archery Challenge
Di balik deretan busur dan anak panah yang berjejer rapi di lapangan Supersoccer Arena, Kudus, dalam ajang MilkLife Archery Challenge (MLARC) KEJURNAS Antar Club 2025, tersimpan sebuah cerita tentang proses panjang. Cerita yang tak melulu soal target dan medali, tapi juga tentang seorang anak yang menemukan ketenangan lewat lesatan anak panah.
Pemeran utama dalam cerita itu adalah Anggoro Wahyu Nuswantoro, atlet compound U-18 dari klub DAD Archery Jakarta. Panahan hadir dalam hidupnya bukan semata-mata sebagai jalan menuju mimpi menjadi atlet, melainkan sebagai ruang untuk belajar mengenal diri sendiri.
Di sisi lapangan, selalu ada sosok yang setia mendampingi. Widia, sang ibu, menjadi saksi bagaimana panahan pelan-pelan mengubah keseharian Anggoro. Dari anak yang sulit diam, menjadi atlet yang mampu berdiri tenang di garis tembak, mengikuti setiap sesi latihan dengan penuh kesabaran.

Berawal dari Liburan, sampai Jadi Atlet Panahan

Perjalanan Anggoro di dunia panahan bermula dari ketidaksengajaan, yakni saat keluarga kecil ini tengah berlibur ke kampung halamannya di Yogyakarta.
"Kami waktu itu wisata ke Candi Prambanan. Ternyata, di situ ada wahana panahan, memanah. Di situ saya coba, dan Anggoro minat di situ," kata Widia kepada kumparan, Senin (15/12).
Ketertarikan kecil itu tak dibiarkannya berlalu begitu saja. Widia mulai mencari tahu lebih jauh tentang panahan, meski pada masa itu olahraga ini belum banyak dikenal banyak orang, terutama di Jakarta.
"Saya sempat cari informasi. Dan ternyata sampai Jakarta itu, wah masih jarang. Waktu itu tahun 2017-an tu masih jarang panahan. Kebetulan saya tinggal di Jakarta Timur. Kemudian saya dapat info di Taman Mini Indonesia Indah itu ada klub panahan. Ya sudah, saya daftarkan ke situ," cerita Widia.
Widia, ibunda Anggoro yang bertanding di Divisi Compound U-18 MilkLife Archery Challenge 2025. Foto: Antika Fahira/kumparan

Panahan sebagai Ruang untuk Fokus

Seiring berjalannya waktu, Widia menyadari bahwa panahan memberi dampak yang jauh lebih besar dari sekadar olahraga. Anggoro bukan hanya belajar membidik target, tapi juga menemukan ruang untuk menenangkan diri.
"Memang pada dasarnya Anggoro itu, tanda kutip ya, dia ada kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus dalam arti dia sulit fokus. Kemudian dia itu dulunya speed delay. Dan harus terapi, bicara, okupasi, sensory, integrasi, dan sebagainya," ungkap Widia.
Saat mulai menekuni panahan, Anggoro sebenarnya telah menyelesaikan masa terapinya. Namun, bagi Widia, olahraga ini justru menjadi kelanjutan dari proses tersebut.
Sebagai anak dengan tipe kinestetik, Anggoro memiliki energi besar dan cenderung sulit diam. Namun, panahan menuntut hal yang berbeda: ketenangan, kesabaran, dan kontrol diri.
"Tapi ketika di panahan, dia bisa diam. Patuh dalam mengikuti sesi-sesi latihan sampai selesai," ujar Widia.
Di tahun pertama, Widia memilih untuk tidak memberi tekanan. Anggoro dibiarkan menikmati panahan dengan caranya sendiri.
"Jadi di situ terserah, dia mau main, mau apa, itu saya bebaskan," kata Widia.
Baru setelah satu tahun berlalu, pendekatan itu perlahan berubah. Ketika panahan sudah menjadi pilihannya sendiri, Widia mulai menanamkan tanggung jawab.
"Satu tahun pertama, saya bebasin. Tapi setelah itu, saya mulai ketat. Jadi ketika ini pilihan dia, ya lu harus jalanin. Seperti itu. Dengan berbagai resikonya," sambungnya.
Dari proses itulah, panahan tak lagi sekadar cabang olahraga, melainkan bagian penting dalam perjalanan hidup Anggoro hingga akhirnya ia berhasil meraih medali perunggu dalam Divisi Compound U-18 Beregu di MLARC KEJURNAS Antar Club 2025.
Trending Now