Cara Prompting Like a Pro di AI Gemini - ChatGPT ala Freddie Kashawan

27 Oktober 2025 8:05 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cara Prompting Like a Pro di AI Gemini - ChatGPT ala Freddie Kashawan
AI bukan manusia, dia tak bisa baca pikiranmu. Prompting yang bagus dimulai dari bagaimana cara kita merangkai penjelasan dan konteks ke asisten AI kita.
kumparanTECH
AI Content Creator & Business Practitioner Freddie Kashawan memberikan pemaparan saat sesi The Plaiground pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
AI Content Creator & Business Practitioner Freddie Kashawan memberikan pemaparan saat sesi The Plaiground pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Banyak orang kecewa karena hasil prompting di ChatGPT hingga Google Gemini sering tak sesuai ekspektasi. Padahal, masalahnya bukan di AI, tapi di cara kita berkomunikasi dengan tools AI tersebut.
Output hasil AI tergantung pada input yang kita beri. Kalau instruksinya kabur, jangan harap output-nya bisa tajam, relevan dan berkualitas.
AI Content Creator & Bussiness Practicioner, Freddie Kashawan, punya cara tepat buat prompting. Kuncinya cuma satu: prompt harus jelas dan terstruktur. Menurutnya, ada rumus gampang dan mudah diingat sebelum kamu prompting. Ingat saja T-C-R-E-I.
Rumus ini singkatan dari Task, Context, Reference, Evaluate, dan Iterate. Ini adalah langkah simpel agar AI mengerti maksud kita tanpa perlu mengulang prompting terus-terusan..

Pertama, T = Task (Tugas)

Jelaskan dengan tegas, kamu mau minta AI mengerjakan apa? Misalnya menulis daftar, artikel, atau bikin naskah video.
Tambahkan juga siapa dan format hasil seperti apa yang diinginkan. Misalnya, β€œKamu adalah jurnalis teknologi, tulis artikel tiga paragraf tentang tren AI di Indonesia.”

Kedua, C = Context (Cerita Pendukung)

Semakin lengkap konteks yang kamu kasih, semakin pintar AI menyesuaikan gaya jawabannya. Menurut Freddie, AI bukan cenayang yang bisa menebak isi pikiran kamu. Dia perlu tahu situasi dan tujuannya. Tanpa konteks, hasilnya bisa 'ngawur.'
Ilustrasi paket langganan ChatGPT Go. Foto: Shutterstock

Ketiga, R = Reference (Referensi)

Ini cara tercepat bikin AI 'menangkap vibe' yang kamu mau, dari contoh teks, gaya, atau tone tertentu. Beri contoh yang jelas dan bilang kalau itu referensi, bukan sekadar tempelan. Dengan begitu, AI bisa meniru pola tanpa keluar jalur.

Keempat, E = Evaluate (Evaluasi)

Jangan asal terima hasil pertamaβ€”cek dulu, apakah output-nya sudah sesuai tone, akurat, dan jauh dari kata halusinasi. AI itu bukan manusia, jadi dia butuh validasi terus-menerus. Kalau masih meleset, lanjut ke langkah terakhir. Apa itu?

I = Iterate (Ulangi)

Bagi Freddie, prompt itu kayak resep, enggak langsung sempurna di percobaan pertama. Tapi semakin sering kamu ubah dan tes berulang kali, hasilnya bisa. makin presisi dan sesuai ekspektasi.
Jangan berharap AI paham apa yang kamu mau, tanpa arahan detail. Gunakan formula T-C-R-E-I biar output-nya tak cuma keren, tapi juga tepat sasaran dan usable di dunia nyata.
Metode ini bisa dipakai di semua tools AIβ€”dari ChatGPT sampai AI image generator. "AI enggak ajaib, tapi dia akan jadi ajaib kalau kamu ngajarnya dengan cara yang tepat," kata Freddie.
Trending Now