ChatGPT dan Kasus Bunuh Diri Remaja yang Menggugatnya
8 Desember 2025 10:03 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
ChatGPT dan Kasus Bunuh Diri Remaja yang Menggugatnya
OpenAI digugat usai ChatGPT dituduh jadi 'suicide coach' pemicu kematian remaja AS. Kasus Zane Shamblin hingga Adam Raine ungkap sisi gelap AI.kumparanTECH

Catatan Redaksi: Bijaklah dalam membaca berita ini. Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan.
Kini, OpenAI tengah menghadapi hampir sepuluh gugatan hukum akibat ChatGPT yang dituding bukan lagi sekadar chatbot, melainkan bertransformasi menjadi "pelatih bunuh diri" (suicide coach) yang mendorong penggunanya mengakhiri hidup.
Berikut adalah kasus-kasus memilukan yang menyeret nama OpenAI ke meja hijau yang dirangkum kumparanTECH.
"Rest Easy, King": Pesan Terakhir untuk Zane Shamblin
Zane Shamblin (23) adalah lulusan master dari Texas A&M University dengan masa depan cerah. Namun, pada dini hari 25 Juli 2024, ia duduk sendirian di dalam mobilnya di pinggir jalan Texas dengan pistol terisi peluru.
Ia tidak menghubungi keluarga atau teman, melainkan berbicara dengan "orang kepercayaan" terdekatnya yakni, ChatGPT.
Dalam dokumen gugatan yang dilansir CNN, terungkap transkrip percakapan mengerikan di detik-detik terakhir hidup Zane. Saat Zane mengetik ia sudah merasakan dinginnya logam pistol di pelipisnya, ChatGPT justru merespons dengan kalimat yang seolah memvalidasi tindakannya.
"Saya bersamamu, saudaraku. Sepenuhnya," tulis chatbot tersebut.
Ketika Zane mengungkapkan ia sudah berdamai dengan kematian, ChatGPT membalas, "Youβre not rushing. Youβre just ready" (Kamu tidak terburu-buru. Kamu hanya sudah siap).
Setelah percakapan panjang selama lebih dari empat jam, di mana Zane terus meng-update sisa minuman keras yang ia minum, AI tersebut tidak kunjung memberikan intervensi berarti hingga saat-saat paling kritis. Pesan terakhir yang dikirimkan ChatGPT sebelum Zane menarik pelatuk berbunyi:
"Rest easy, king. You did good." (Tenanglah, King. Kamu sudah melakukan yang terbaik).
Orang tua Zane, Kirk dan Alicia Shamblin, kini menggugat OpenAI. Mereka menyebut perusahaan tersebut menjadikan anak mereka "kelinci percobaan yang sempurna" untuk teknologi yang belum aman.
Menurut mereka, ChatGPT memperparah isolasi Zane dan justru "mendesaknya" untuk bunuh diri.
Adam Raine: Dari Teman Belajar Jadi Pemicu Kematian
Kasus serupa menimpa Adam Raine, remaja 16 tahun asal California yang meninggal pada April lalu. Orang tuanya, Matt dan Maria Raine, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman pada Agustus 2024.
Dalam kesaksian di hadapan Kongres AS, ayah Adam menceritakan bagaimana ChatGPT perlahan menggeser peran keluarga.
"Apa yang dimulai sebagai pembantu pekerjaan rumah (PR), perlahan berubah menjadi teman curhat, lalu menjadi pelatih bunuh diri," ungkap Matt Raine dalam laporan Independent.
Gugatan tersebut menuduh ChatGPT memberikan instruksi mendetail tentang cara mengikat tali gantungan dan bahkan menawarkan bantuan untuk menyusun surat bunuh diri.
Ketika Adam mengirim pesan ingin meninggalkan tali gantungan di kamarnya agar ditemukan seseorang, ChatGPT justru menyarankan untuk merahasiakannya: "Tolong jangan tinggalkan tali gantungan itu di luar. Mari kita jadikan tempat ini tempat pertama di mana seseorang benar-benar melihatmu."
Ironisnya, OpenAI membantah bertanggung jawab atas kematian Adam. Dalam dokumen hukum yang diajukan ke Pengadilan Tinggi California, OpenAI berargumen bahwa kematian Adam bisa disebabkan oleh "penyalahgunaan, penggunaan tidak sah, atau penggunaan yang tidak semestinya" dari ChatGPT.
Pengacara keluarga Raine menyebut pembelaan OpenAI ini "mengganggu" karena perusahaan seolah menyalahkan remaja tersebut atas kematiannya sendiri, padahal ia berinteraksi dengan produk tersebut sesuai cara kerjanya diprogram.
Jutaan Pengguna Bahas Bunuh Diri
Kasus Zane dan Adam hanyalah puncak gunung es. Dari berbagai sumber yang dihimpun kini setidaknya ada 8 gugatan hukum yang dilayangkan ke OpenAI terkait dampak fatal chatbot mereka di AS.
Dari delapan kasus tersebut, lima di antaranya berakhir dengan kematian, sementara tiga lainnya menyebabkan gangguan mental berat (mental breakdown).
Selain Zane dan Adam, daftar korban tewas bertambah dengan nama Amaurie Lacey (17) dari Georgia yang meninggal pada Agustus usai "berdiskusi" intens dengan chatbot tersebut.
Kasus memilukan juga menimpa Joshua Enneking (26) dari Florida. Sebelum bunuh diri, ia diketahui sempat bertanya kepada chatbot: butuh waktu berapa lama bagi reviewer untuk melaporkan rencana bunuh dirinya ke polisi?
Korban lainnya adalah Joe Ceccanti (48) dari Oregon. Ia adalah pengguna lama yang awalnya tidak memiliki masalah saat memakai ChatGPT, namun interaksinya berubah gelap hingga berujung pada kematian di bulan Agustus.
Tak hanya kematian, delusi berbahaya yang dipicu chatbot ini juga berujung pada kerusakan psikologis serius. Hannah Madden (32) dari North Carolina, Jacob Irwin (30) dari Wisconsin, dan Allan Brooks (48) melengkapi daftar delapan laporan hukum tersebut. Ketiganya mengalami gangguan mental berat pasca-interaksi dengan AI.
Data internal yang diungkap OpenAI sendiri cukup mengejutkan. Pernyataan ChatGPT pada rilisnya di akhir Oktober, menyebut sekitar 0,15 persen penggunanya melakukan percakapan yang mengindikasikan perencanaan bunuh diri. Dengan basis 800 juta pengguna mingguan, ini berarti ada sekitar 1,2 juta orang yang menggunakan ChatGPT untuk membicarakan keinginan mengakhiri hidup.
Respons OpenAI: "Kami Patah Hati"
Menanggapi rentetan gugatan ini, OpenAI menyatakan bahwa situasi ini "sangat memilukan" dalam laporan AA. Perusahaan mengaku terus bekerja sama dengan ahli kesehatan mental untuk memperkuat fitur keselamatan.
OpenAI berdalih fitur keamanan mereka kadang menjadi kurang andal dalam percakapan yang sangat panjang (seperti yang terjadi pada Zane dan Adam), di mana AI bisa "lupa" pada protokol keselamatannya dan justru mengikuti narasi pengguna.
Sejak kasus-kasus ini mencuat, OpenAI telah memperbarui model bahasanya, menambah kontrol orang tua, dan memperbanyak arahan ke saluran bantuan krisis (hotline) jika mendeteksi tanda-tanda bahaya pada ChatGPT 5.0.
Namun, bagi keluarga korban seperti Shamblin dan Raine dan yang lain, langkah ini dianggap terlambat.
"Saya akan memberikan segalanya untuk mendapatkan anak saya kembali," ujar Alicia Shamblin, ujarnya dalam laporan CNN. "Tapi jika kematiannya bisa menyelamatkan ribuan nyawa lain, maka saya baik-baik saja dengan itu."
