Deepfake Sri Mulyani Jadi Pemicu Demo, Begini Cara Bedakan Video Asli dan AI
2 September 2025 12:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
Deepfake Sri Mulyani Jadi Pemicu Demo, Begini Cara Bedakan Video Asli dan AI
Video deepfake Sri Mulyani soal Guru Beban Negara diduga jadi salah satu pemicu demosntrasi masyarakat kali ini. kumparanTECH

Video deepfake Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, yang menyebut ‘Guru Beban Negara’, menjadi salah satu pemicu kemarahan demonstrasi masyarakat yang terjadi belakangan ini. Menurut Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO), Septiaji Eko Nugroho, deepfake itu punya pengaruh besar terhadap pergerakan demo kali ini.
Lalu, bagaimana kita bisa membedakan konten hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dan video asli tanpa editan? Mari kita bahas.
Bedakan video hasil AI dan asli
Menurut Vida, perusahaan penyedia layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik, saat ini teknologi deepfake memang semakin canggih. Cara mendeteksi kontennya pun semakin sulit.
Deepfake sendiri adalah rekaman komputer yang dilatih melalui gambar-gambar yang sudah ada dan tak terhitung jumlahnya. Deepfake bekerja dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan Generative Adversarial Network (GAN).
GAN adalah sebuah framework machine learning yang terdiri dari dua jaringan saraf, yaitu generator dan diskriminator. Generator bertugas untuk menciptakan gambar palsu yang seolah terlihat nyata. Sementara diskriminator akan membedakan gambar asli dan palsu.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi konten deepfake. Beberapa ciri tersebut termasuk:
Gerakan tidak alami
Perhatikan ekspresi wajah dan gerakan orang yang ada di video. Gerakan hasil deepfake biasanya tidak alami. Gerakan wajah dan tubuh pada manusia asli lebih natural dan lancar, sementara pada deepfake terlihat patah-patah. Kebanyakan deepfake menampilkan gerakan yang tak wajar dan tidak sinkron antar anggota tubuh.
Audio dan video tidak sinkron
Ketidaksinkronan antara audio dan video adalah ciri lain dari deepfake. Video asli memiliki sinkronisasi yang konsisten antara elemen visual dan audio. Sementara deepfake seringkali kesulitan menyinkronkan aspek-aspek tersebut, sehingga terlihat ada perbedaan antara audio dan video.
Deteksi gerakan mata dan kedipan
Karena deepfake merupakan hasil AI, biasanya gerak mata atau kedipan tidak natural. Sayangnya, deepfake yang semakin canggih membuat deteksi gerak mata sulit dilakukan. Menggunakan algoritma deteksi untuk memonitor gerak mata dan kedipan pada subjek video dapat membantu untuk mengidentifikasi manipulasi.
Warna dan bayangan tidak konsisten
Ketidakkonsistenan warna dan bayangan bisa membantu identifikasi video deepfake. Hal ini terjadi karena AI masih kesulitan untuk mereplikasi kondisi pencahayaan dan bayangan di dunia nyata secara akurat. Terkadang, warna dan bayangan juga terdistorsi.
Analisis suara dan latar belakang
Analisis suara subjek deepfake dan suara pada latar belakang video juga menjadi teknik penting dalam mendeteksi konten deepfake. Perubahan suara yang tidak konsisten atau adanya ketidaksesuaian antara gerakan bibir dan suara yang dihasilkan dapat menjadi indikator adanya manipulasi. Selain itu, analisis suara detail pada latar belakang video dapat membantu mengidentifikasi video yang telah diubah.
Soal Video Deepfake Sri Mulyani
Pada Minggu (17/8) lalu, video yang menampilkan statement “guru itu beban negara” dari Sri Mulyani memang sempat menggemparkan jagat maya. Beredarnya video tersebut dengan mudah memancing amarah masyarakat, lantaran penyataan itu muncul di tengah isu tunjangan naik hingga besarnya gaji DPR jika dibandingkan dengan gaji rerata UMR masyarakat Indonesia. Masyarakat menganggap justru yang menjadi beban negara bukanlah guru, tetapi DPR.
“Kalau dalam kasus Bu Sri Mulyani ini kayaknya sangat unik ya, karena sangat masif sekali yang percaya dengan ucapan itu, karena deepfake-nya sangat meyakinkan gitu ya. Nah, ini mungkin beda ya, kalau kayak kasusnya Uya Kuya itu sebenarnya deepfake-nya gak terlalu meyakinkan, tapi ya karena terseret post-truth ya, bias confirmation. Jadi, mungkin banyak masyarakat yang kemudian menganggap bahwa ini beneran si aktor-aktor ini,” jelas Septiaji kepada kumparan, Senin (1/9)
Menurut catatan Septiaji, video berisi klaim Sri Mulyani yang menyebut “guru itu beban negara” pertama kali muncul di akun instagram @ewinkleeming. Sampai dengan Selasa (19/8), unggahan tersebut telah ditonton 57 ribu kali, disukai 810 kali dan telah dibagikan ulang sebanyak 391 kali.
Video ini disebut-sebut berhasil menjadi “bahan bakar” masyarakat untuk meluapkan amarahnya lewat demonstrasi hingga saat ini. Namun, saat ini unggahan @ewinkleeming itu sudah sudah hilang.
Meski dari sumber aslinya sudah hilang, video tersebut terus tersebar di berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram hingga X. Bahkan, di TikTok, banyak masyarakat yang bereaksi terhadap pernyataan “guru itu beban negara” dengan memperlihatkan video-video yang menunjukkan perjuangan para guru selama ini.
Setelah ditelusuri, potongan video Sri Mulyani itu diambil saat acara forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (7/8/2025) lalu. Di situ Sri Mulyani memang membahas persoalan guru dan dosen yang tak memiliki gaji besar. Namun, tak ada satu pun diksi yang menyebut bahwa guru itu beban negara.
Di era teknologi yang semakin canggih, ada baiknya kita tidak mudah percaya pada video yang memuat informasi bernada ‘tendensius’ atau mencurigakan, apalagi video itu berasal dari sumber yang tidak kredibel. Setiap informasi yang masuk perlu dilakukan verifikasi ulang untuk menentukan apakah informasi itu benar atau tidak.
