Google Mau Bangun Data Center AI di Luar Angkasa, Kenapa Tak di Bumi Saja?

8 November 2025 13:24 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Google Mau Bangun Data Center AI di Luar Angkasa, Kenapa Tak di Bumi Saja?
Google punya misi mengembangkan pusat data AI beroperasi di luar angkasa. Seperti ini strateginya.
kumparanTECH
Ilustrasi satelit. Foto: Adim Sadovski/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi satelit. Foto: Adim Sadovski/Shutterstock
Google mempertimbangkan konsep membangun data center kecerdasan buatan (AI) atau kecerdasan buatan di luar angkasa. Inovasi ini dianggap brilian karena dekat dengan sumber energi tak terbatas untuk membuat data center beroperasi terus menerus.
Di luar angkasa, data center AI akan menyedot listrik bersumber dari tenaga surya secara langsung secara konsisten dan terus menerus tanpa terhalang cuaca dan iklim.
Konsep Google ini dituangkan dalam makalah pracetak terbaru berjudul β€˜Towards a future space-based, highly scalable AI infrastructure system design.’ Ini adalah proyek riset "moonshot" yang diumumkan Google dengan nama Project Suncatcher.

Kenapa Tak di Bumi Saja?

Google beralasan mengembangkan konsep ini untuk mengatasi keterbatasan sumber daya bagi data centerkecerdasan buatan yang haus listrik di Bumi. Mereka mencoba memanfaatkan sumber energi bersih yang hampir tak terbatas yang memungkinkan perusahaan untuk mengejar ambisi AI-nya.
Menurut Google, di luar angkasa, tenaga surya akan didapat tanpa khawatir soal dampak yang ditimbulkan seperti di Bumi. Apa saja?
β€œLuar angkasa mungkin menjadi tempat terbaik untuk meningkatkan skala komputasi AI di masa depan,” tulis Travis Beals, direktur senior Google untuk Paradigms of Intelligence, dalam sebuah posting-an blog Google Research.

Tantangannya Banyak

Logo Google LLC terlihat di kantor Google di bagian Chelsea di New York City, AS, 20 Januari 2023. Foto: Shannon Stapleton/REUTERS
Pembangunan data center AI ke luar angkasa memang bisa jadi jalan keluar untuk menekan emisi hingga mahalnya tagihan listrik. Hanya saja, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan Google dalam hal ini, salah satunya biaya angkut yang mahal.
Dalam makalah, Google memproyeksikan biaya angkut komponen infrastruktur AI menggunakan roket ke orbit rendah Bumi (LEO), berkisar antara 200 dolar AS per kilogram.
Tensor Processing Unit (TPU) yang mereka bawa ke luar angkasa juga harus berada di dalam satelit yang mengorbit Bumi yang tentu saja memiliki panel surya yang dapat menghasilkan listrik secara terus-menerus.
Panel surya yang diangkut satelit ini juga wajib punya kemampuan delapan kali lebih besar ketimbang panel serupa di Bumi. Satelit-satelit ini harus berkomunikasi dengan baik satu sama lain dengan kecepatan transfer data puluhan TB/s.
Selain itu, Google harus memastikan bahwa TPU-nya dapat menahan radiasi tingkat tinggi di luar angkasa, menurut laporan The Verge. Perusahaan memprediksi biaya peluncuran dan pengoperasian pusat data di luar angkasa bisa menjadi "kurang lebih sebanding" dengan biaya energi pusat data yang setara di Bumi per kilowatt/tahun pada pertengahan 2030-an.
Google saat ini mengatakan sedang merencanakan misi bersama dengan perusahaan Planet untuk meluncurkan beberapa prototipe satelit pada 2027 guna menguji perangkat kerasnya di orbit.
Trending Now