Ilmuwan Skeptis Google Bisa Bikin Data Center AI di Luar Angkasa 2027, Kenapa?

8 Desember 2025 16:16 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilmuwan Skeptis Google Bisa Bikin Data Center AI di Luar Angkasa 2027, Kenapa?
Google memperkenalkan Project Suncatcher, membuat konstelasi satelit yang bekerja sebagai pusat data di luar angkasa.
kumparanTECH
Ilustrasi data center Google Cloud. Foto: Google Cloud
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi data center Google Cloud. Foto: Google Cloud
Google memperkenalkan Project Suncatcher pada awal November 2025. Project Suncatcher merupakan proyek ambisius membuat konstelasi satelit yang bekerja sebagai pusat data (data center) di luar angkasa, terdengar seperti film sci-fi.
Meski ide data center di luar angkasa masuk akal, pernyataan CEO Google, Sundar Pichai, dalam wawancara bersama Fox News beberapa hari lalu langsung bikin banyak ilmuwan skeptis.
“Salah satu proyek moonshot kami adalah… bagaimana suatu hari nanti kita bisa punya pusat data di luar angkasa, agar bisa memanfaatkan energi Matahari yang jumlahnya 100 triliun kali lebih besar dari energi yang kita hasilkan di seluruh Bumi?” ujar Pichai.
Namun, masalahnya bukan pada angka 100 triliun, tetapi konteksnya yang membuat para fisikawan, astronom, dan insinyur antariksa kompak berkata bahwa, “Itu nggak mungkin terjadi!

Energi Besar tapi Belum Bisa Dimanfaatkan

Data International Energy Agency menyebut dunia menggunakan 3,4 terawatt listrik, sementara luminositas Matahari, total energi dari sinar gamma hingga gelombang radio, adalah 3,8 × 10²⁶ watt. Jadi benar, energi Matahari memang 100 triliun kali lebih besar daripada energi yang kita hasilkan di Bumi.
Pesawat kru Apollo 11 terlihat dalam orbit bulan setelah lepas landas dari permukaan Bulan. Foto: AFP/NASA
Namun jumlah itu juga 100 triliun kali lebih besar daripada yang kita terima.
Sebagai gambaran, ada sekitar 100 miliar sistem planet di galaksi kit, dan anggap saja setiap sistem punya peradaban seperti manusia. Jika energi Matahari bisa dimanfaatkan 100 persen, itu cukup untuk menyediakan listrik bagi semua peradaban, termasuk 1.000 galaksi lain yang masing-masing punya 100 miliar peradaban serupa.
Masalahnya, kita bahkan tidak butuh energi sebesar itu, dan yang terpenting kita tidak punya kemampuan untuk memanennya.
Energi surya memang penting, terutama untuk transisi energi dan mengurangi krisis iklim. Namun panel surya hanya menangkap sebagian kecil spektrum cahaya Matahari. Di luar angkasa, penyerapan bisa lebih luas, tapi teknologi untuk menangkap seluruh spektrum cahaya belum ada.

Bangun Dyson sphere

Secara teori, cara menangkap seluruh energi Matahari adalah membangun Dyson sphere, megastruktur yang mengelilingi Matahari.
Masalahnya? Materialnya tidak cukup, bahkan jika seluruh Tata Surya dibongkar. Kita tidak punya teknologi untuk menambang, memindahkan, dan merakit struktur sebesar itu.
Struktur cangkang padat di sekitar Matahari tidak stabil, dan butuh koreksi terus-menerus. Tata Surya penuh asteroid dan komet, hasilnya Dyson sphere bakal bolong seperti saringan.
Singkatnya, Dyson sphere tetap hanya menjadi konsep teori, belum bisa diwujudkan dalam ratusan tahun ke depan.
Kebutuhan data center, terutama untuk kecerdasan buatan (AI), melonjak drastis. Pusat data butuh energi besar dan air sangat banyak untuk pendinginan. Industri teknologi pun membayar harga lingkungannya, emisi Google naik 51 persen, dan diprediksi setara seluruh emisi Jepang pada 2026.
Ilustrasi Emisi Karbon. Foto: Shutterstock
“Konsumsi listrik pusat data melonjak ekstrem sejak maraknya sistem AI. Ini jadi perhatian serius soal kapasitas energi dan emisi karbon,” ujar Russell Hills, insinyur sistem pesawat luar angkasa seperti dikutip IFLScience.
Karena itu, luar angkasa dianggap solusi. Panel surya bisa beroperasi tanpa gangguan atmosfer, dan pendinginan bisa menggunakan mekanisme radiasi tanpa air. Namun ada satu masalah besar, apa yang akan kamu kirim ke luar angkasa, dan berapa biayanya?
Logistik perangkat sangat mahal, memperbaiki kerusakan hampir mustahil, dan tantangan teknisnya segunung, mulai dari radiasi, sinkronisasi satelit, hingga menjaga formasi orbit. Selain itu, data yang diproses di luar angkasa tetap harus dikirim kembali ke Bumi, yang artinya butuh bandwidth besar dan posisi satelit yang tepat.
China pernah meluncurkan Three-Body Computing Constellation, sebuah proyek yang mulai menguji pusat pemrosesan data di orbit, pada Juni 2025 lalu.
“Mereka cukup jelas bahwa ini bukan soal memindahkan pusat data ke luar angkasa karena itu tempat yang lebih baik,” kata Hills. “Tapi karena banyak data luar angkasa justru lebih efisien diproses langsung di orbit.”
Biasanya, data observasi dari satelit harus dikirim ke Bumi dan menunggu giliran diproses. Dengan data center di orbit, satelit bisa menyaring data di luar angkasa dan hanya mengirim informasi yang benar-benar penting.
Namun, kapasitas listrik untuk uji coba ini masih kecil. Untuk skala besar seperti yang dibayangkan Google, kita butuh panel surya raksasa dan biaya peluncuran yang jauh lebih rendah dari sekarang. Biaya roket memang menurun drastis dalam satu dekade, tapi belum cukup untuk mimpi sebesar itu.
Ledakan jumlah pusat data di Bumi sudah jadi masalah nyata, menguras listrik, air, dan meningkatkan emisi. Solusinya tidak cukup hanya dengan memindahkan masalah ke luar angkasa, meski terdengar futuristik.
Teknologi pusat data orbit bisa berguna untuk misi luar angkasa, tapi untuk menggantikan pusat data di Bumi? Itu masih sangat jauh, mungkin ratusan tahun lagi.
Trending Now