Inovasi Berkelanjutan Telkomsel, Ubah Limbah Kartu SIM Jadi Produk Tepat Guna
18 September 2025 20:17 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Inovasi Berkelanjutan Telkomsel, Ubah Limbah Kartu SIM Jadi Produk Tepat Guna
Telkomsel tunjukkan komitmennya melakukan bisnis berkelanjutan dengan mengubah limbah cangkang dan kemasan kartu SIM menjadi produk inovatif.kumparanTECH

Sebagai perusahaan telekomunikasi digital terkemuka di Indonesia, Telkomsel menunjukkan komitmennya melakukan praktik bisnis berkelanjutan dengan mengubah limbah cangkang dan kemasan kartu SIM (SIM card) yang sering terabaikan menjadi produk pakai ulang yang inovatif. Inisiatif ini merupakan bagian dari program payung "Telkomsel Jaga Bumi" yang berfokus pada pelestarian lingkungan.
Manager CSR Environment & Ecosystem Telkomsel, Gumilar H. N Ali, menjelaskan bahwa masalah ini bermula dari kebiasaan konsumen di gerai penjualan. Akibatnya, cangkang plastik dan kemasan kartu perdana menumpuk menjadi limbah.
"Biasanya Bapak, Ibu kalau ke outlet itu selalu membeli kartu perdana yang diambil adalah hanya SIM card-nya saja," ujarnya dalam acara kumparan Green Initiative Conference 2025 di Jakarta Pusat, Kamis (18/9).
Berdasarkan data internal Telkomsel, total limbah yang dihasilkan dari operasional perusahaan pada 2024 mencapai 6.270,9 ton. Dari jumlah tersebut, limbah kartu SIM menyumbang 52,6 ton, di mana 46% di antaranya telah berhasil didaur ulang.
Dari Sampah Outlet Menjadi Produk Sirkular
Mengatasi tantangan ini, Telkomsel menggandeng Plustik, sebuah platform manajemen limbah, untuk mengolah sampah plastik dari cangkang dan kemasan kartu SIM. Limbah yang dikumpulkan dari berbagai outlet di wilayah seperti Bali dan Jabodetabek diubah menjadi produk-produk baru yang fungsional.
Produk hasil daur ulang tersebut antara lain phone holder, pavement block (blok paving), dan tempat sampah. Secara cerdas, Telkomsel menerapkan model ekonomi sirkular.
"Phone holder dan lain sebagainya kita distribusi kembali ke outlet," jelas Gumilar.
Dengan demikian, sampah yang berasal dari outlet diolah dan hasilnya dikembalikan lagi untuk dimanfaatkan di lokasi yang sama. Sementara itu, pavement block digunakan untuk pembangunan di berbagai properti milik Telkomsel.
Inisiatif Telkomsel tidak berhenti di situ. Perusahaan juga turut mengatasi masalah sampah plastik bernilai rendah (low value plastic) yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Kita juga menggunakan low value plastic yang ada di TPA," tambah Gumilar.
Plastik jenis ini, yang sulit terurai, dicampur dengan limbah cangkang SIM untuk menghasilkan produk daur ulang yang lebih solid dan berdampak lebih luas bagi lingkungan.
Bagian dari Komitmen ESG Menyeluruh
Program pengelolaan limbah ini adalah salah satu pilar utama dari strategi Environment, Social, and Governance (ESG) Telkomsel. Di bawah payung "Telkomsel Jaga Bumi," perusahaan juga menjalankan program lain seperti Carbon Offset yang berkolaborasi dengan Jejakin.
Melalui program tersebut, pelanggan diajak untuk menghitung jejak karbon dari aktivitas keseharian mereka dan melakukan offsetting dengan menukarkan Telkomsel Poin untuk program reforestasi. Hingga September 2025, program ini telah mencatat lebih dari 162 ribu transaksi dari lebih dari 120 ribu pelanggan. Hasilnya, lebih dari 23.250 pohon telah ditanam di berbagai wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan, yang diperkirakan mampu menyerap 1.438 ton CO2.
Selain pilar lingkungan, Telkomsel juga menjalankan pilar sosial melalui "Telkomsel Jaga Cita" yang berfokus pada inklusivitas pendidikan, dan pilar tata kelola lewat "Telkomsel Jaga Data" untuk memperkuat keamanan siber bagi pelanggan.
Langkah-langkah ini menegaskan posisi Telkomsel sebagai perusahaan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga secara aktif menciptakan dampak positif bagi sosial dan lingkungan, selaras dengan target keberlanjutan perusahaan.
