Lulusan IT di AS Susah Dapat Kerja, Pilih Kuliah Lagi Belajar AI
4 September 2025 7:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
Lulusan IT di AS Susah Dapat Kerja, Pilih Kuliah Lagi Belajar AI
Lulusan IT di AS makin sulit mencari pekerjaan akibat pengaruh kecerdasan buatankumparanTECH

San Jose State University, mencatat sejarah baru di mana lebih dari 40 ribu mahasiswa baru mendaftar pada semester musim gugur ini, jumlah tertinggi dalam 168 tahun berdirinya universitas tersebut.
“Ini adalah kelas baru terbesar sepanjang sejarah universitas,” tulis Presiden Cynthia Teniente-Matson dalam email sambutan untuk mahasiswa baru, pada 25 Agustus 2025.
Berlokasi di Santa Clara County, California, di jantung Silicon Valley, San Jose State University dikenal sebagai kampus dengan tingkat penempatan kerja tinggi di perusahaan teknologi raksasa. Awal tahun ini, kampus tersebut bahkan menyalip Stanford untuk meraih peringkat pertama dunia dalam hasil penyerapan kerja mahasiswa internasional.
Namun, di balik angka pendaftaran yang memecahkan rekor, muncul kenyataan pahit, lulusan IT makin sulit mencari pekerjaan akibat pengaruh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sejak tahun lalu, perusahaan teknologi besar yang gencar berinvestasi di generativeAI melakukan pemutusan kerja massal. Permintaan untuk developer tingkat pemula anjlok drastis karena posisi itu dianggap paling rentan digantikan otomatisasi.
Alhasil, banyak lulusan ilmu komputer (IT) kehilangan arah karier. Tak sedikit yang akhirnya memilih kembali ke kampus untuk melanjutkan studi, mendorong lonjakan jumlah mahasiswa baru di kawasan dekat Silicon Valley.
Suasana kampus pekan lalu menggambarkan keresahan itu. Mahasiswa tampak berkeliling dengan laptop dan resume di tangan, namun wajah mereka diliputi kecemasan. Banyak yang gagal memenuhi persyaratan kerja yang lebih ketat. Bagi mahasiswa asing, situasinya semakin pelik. Kebijakan imigrasi era Donald Trump membuat banyak tawaran kerja ditarik kembali.
“Saya melamar ke mana pun, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak saya inginkan. Yang penting punya pijakan awal.”
Bukan hanya mahasiswa baru, pekerja berpengalaman pun ikut kembali kuliah. Choi Jung-hyun, lulusan magister ilmu komputer di New York yang sempat bekerja tiga tahun di perusahaan besar, memutuskan mendaftar ulang semester ini untuk fokus belajar AI.
“Saya melihat bukan hanya level entry, tapi juga posisi junior mulai digantikan AI. Itu sebabnya saya kembali ke kampus,” katanya.
Raksasa teknologi global kini tengah gencar melakukan perombakan. Google, misalnya, sempat menawarkan pensiun dini lintas divisi kepada karyawannya pada Juni 2025. Sementara Microsoft memangkas 15 ribu karyawan sepanjang 2025. Menurut analis, langkah ini adalah bagian dari strategi penghematan demi menutup biaya investasi AI bernilai miliaran dolar.
Startup pun tak jauh berbeda. Banyak yang memilih memakai alat AI ketimbang merekrut lulusan baru. Data SignalFire menunjukkan hanya 6 persen perekrutan startup tahun lalu berasal dari fresh graduate.
Meski begitu, ironinya, perusahaan rela membayar mahal untuk talenta AI papan atas. Meta bahkan disebut menawar hingga 100 juta dolar untuk memboyong insinyur dari OpenAI.
Di tengah ketidakpastian, mahasiswa mencoba berbagai cara untuk mengamankan masa depan.
“Saya pindah ke sini untuk kuliah di Berkeley, tapi melihat kondisi sekarang, saya mempertimbangkan double major,” ujar Aaron Hwang, mahasiswa tahun ketiga ilmu komputer di UC Berkeley.
Hal serupa dialami Charlie Dao, mahasiswa teknik kimia. Ia melihat banyak juniornya di ilmu komputer menunda kelulusan atau menambah jurusan lain setelah gagal menemukan tempat magang.
“AI telah menguasai pasar. Jadi pilihan mereka cuma dua, lanjut sekolah pascasarjana atau banting setir ke bidang lain,” katanya.
Meski penuh kecemasan, sejumlah akademisi percaya bahwa fase kontraksi ini bersifat sementara.
“Setelah ledakan dot-com, krisis 2008, dan pandemi, pendaftaran melonjak saat pasar kerja membeku,” kata Chris Pollett, profesor ilmu komputer di San Jose State University sejak 2001. “Tahun ini, kami melihat kelas baru terbesar–sepanjang sejarah.”
Pollett menambahkan, diversifikasi aplikasi AI justru bisa membuka ceruk baru. Misalnya, kebutuhan di bidang keamanan digital yang makin berkembang.
Senada dengan Pollett, Scott Xiao, mitra di Goodwater Capital, optimistis peluang akan kembali terbuka.
“Permintaan perangkat lunak personal terus meningkat. Nantinya setiap orang bisa punya sistem unik, dan itu butuh tenaga manusia untuk memelihara. Pada akhirnya, kesempatan untuk lulusan baru akan muncul lagi,” ujarnya.
