Meta Diduga Setop Riset yang Temukan Bukti Medsosnya Bahayakan Kesehatan Mental
26 November 2025 10:39 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Meta Diduga Setop Riset yang Temukan Bukti Medsosnya Bahayakan Kesehatan Mental
Dokumen pengadilan bocor, Meta diduga setop riset yang sebelumnya mencari bukti dampak Facebook terhadap kesehatan mental pengguna.kumparanTECH

Raksasa teknologi Meta (induk perusahaan Facebook dan Instagram) diduga menghentikan penelitian internal 'Project Mercury' mereka sendiri. Project ini awalnya dibentuk untuk mengukur dampak media sosial terhadap pengguna namun disetop karena ditemukan bukti kuat produk mereka membahayakan kesehatan mental pengguna.
Tuduhan serius ini terungkap dalam dokumen pengadilan yang baru dibuka terkait gugatan yang diajukan oleh sejumlah distrik sekolah di Amerika Serikat terhadap Meta dan platform media sosial lainnya.
Dokumen tersebut menuding Meta menyembunyikan "bukti kausal" atau sebab-akibat, mengenai bahaya media sosial demi melindungi bisnis mereka.
Project Mercury
Berdasarkan dokumen yang diperoleh lewat proses hukum, pada tahun 2020 ilmuwan Meta menjalankan sebuah proyek dengan nama sandi "Project Mercury". Bekerja sama dengan firma survei Nielsen, mereka ingin mengukur efek dari menonaktifkan akun Facebook.
Dokumen internal mencatat orang-orang yang berhenti menggunakan Facebook selama seminggu justru melaporkan kondisi mental yang lebih baik. Mereka merasakan penurunan tingkat depresi, kecemasan, kesepian, dan berkurangnya kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison).
Mengutip Reuters, secara pribadi, staf peneliti Meta mengakui validitas data tersebut.
"Studi Nielsen ini memang menunjukkan dampak kausal pada perbandingan sosial," tulis seorang peneliti staf anonim dari dokumen pengadilan.
Bahkan, seorang staf lain memperingatkan bahwa merahasiakan temuan negatif ini mirip dengan taktik industri rokok di masa lalu.
"Seperti industri tembakau yang melakukan penelitian dan mengetahui rokok itu buruk, lalu menyimpan informasi itu untuk diri mereka sendiri," bunyi kekhawatiran staf tersebut.
Alih-alih mempublikasikan temuan itu atau melakukan perbaikan, Meta diduga menghentikan pekerjaan tersebut.
Dalam dokumen gugatan disebutkan Meta secara internal menyatakan temuan negatif studi itu telah tercemar oleh "narasi media yang ada". Padahal di sisi lain, Meta mengatakan kepada Kongres AS mereka "tidak memiliki kemampuan untuk mengukur" apakah produk mereka berbahaya bagi remaja putri dalam.
Meta, Google, TikTok dan Snapchat, saat ini tengah menghadapi gugatan yang diajukan firma hukum Motley Rice di AS. Mereka menilai platform media sosial itu secara sengaja menyembunyikan risiko produk dari pengguna, orang tua, dan guru.
Dokumen pengadilan juga mengungkap detail mengejutkan mengenai prioritas CEO Meta, Mark Zuckerberg. Dalam pesan teks tahun 2021, Zuckerberg dilaporkan mengatakan ia tidak akan menyebut keamanan anak sebagai prioritas utamanya.
"Ketika saya memiliki sejumlah area lain yang lebih saya fokuskan, seperti membangun metaverse," tulis Zuckerberg dalam pesan tersebut.
Ia juga disebut menolak permintaan Nick Clegg (saat itu Kepala Kebijakan Publik Global) untuk menambah dana bagi keselamatan anak.
Selain itu, Meta dituduh menerapkan standar ganda yang berbahaya. Dokumen menyebut Meta mengharuskan pengguna tertangkap 17 kali mencoba melakukan perdagangan orang untuk tujuan seks (sex trafficking) sebelum akun mereka dihapus, sebuah ambang batas yang disebut staf internal sebagai "sangat, sangat, sangat tinggi."
Meta membantah
Menanggapi bocornya dokumen ini, Juru Bicara Meta, Andy Stone, membantah keras. Ia mengklaim penelitian "Project Mercury" dihentikan karena metodologinya yang cacat, bukan karena hasilnya yang negatif.
"Catatan lengkap akan menunjukkan bahwa selama lebih dari satu dekade, kami telah mendengarkan orang tua, meneliti masalah yang paling penting, dan membuat perubahan nyata untuk melindungi remaja," ujar Stone dalam pernyataannya, Sabtu (22/11) lalu.
Stone menyebut gugatan tersebut mengandalkan kutipan yang dipilih secara selektif (cherry-picked) dan opini yang salah informasi.
Sementara itu, platform lain seperti TikTok juga dituduh melakukan praktik manipulatif, termasuk mensponsori organisasi orang tua (National PTA) untuk memengaruhi opini publik demi keuntungan perusahaan.
Sidang terkait dokumen-dokumen ini dijadwalkan akan berlangsung pada 26 Januari mendatang di Pengadilan Distrik California Utara.
