Prediksi Tren AI 2026 dari Meta: Agentic AI hingga Industrialisasi AI

10 Desember 2025 16:14 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prediksi Tren AI 2026 dari Meta: Agentic AI hingga Industrialisasi AI
Simak prediksi tren AI 2026 dari Meta: mulai dari Agentic AI hingga Industrialisasi AI. Peluang besar bagi bisnis dan kreator Indonesia untuk mendunia lewat teknologi terbaru.
kumparanTECH
Country Director Meta Indonesia, Peiter Lydian, memaparkan prediksi tren 2026 di kantor Meta Indonesia, Jakarta, Rabu (10/12/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Country Director Meta Indonesia, Peiter Lydian, memaparkan prediksi tren 2026 di kantor Meta Indonesia, Jakarta, Rabu (10/12/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang sangat pesat. Boleh jadi saat ini kita sudah terbiasa dengan Generative AI seperti Meta AI untuk membuat teks dan gambar, namun masa depan teknologi ini diprediksi akan jauh lebih canggih dan otonom.
Country Director Meta Indonesia, Peiter Lydian, memaparkan pandangannya mengenai tren teknologi sosial dan AI yang akan membentuk lanskap digital pada tahun 2026. Menurutnya, AI bukan hanya sekadar alat bantu, melainkan akselerator untuk membangun koneksi antarmanusia yang berujung pada peluang bisnis.
"Pada intinya, misi Meta adalah human connection. Karena kita percaya koneksi sosial ini penting. Nah, kalau orang terkoneksi, naturalnya pasti jadi bisnis. Apa yang kita lihat terakhir-terakhir ini, semua itu akan terakselerasi dengan cepat oleh AI," ujar Peiter dalam paparannya.
Salah satu tren besar yang disorot Peiter adalah pergeseran dari Generative AI menuju Agentic AI. Jika Generative AI bekerja saat kita memberikan perintah (input teks/gambar), Agentic AI memiliki kemampuan untuk diberikan tugas jangka panjang dan bekerja secara mandiri.
Logo Meta, rebranding perusahaan Facebook. Foto: Carlos Barria/Reuters
"Agentic AI itu kita bisa kasih tugas, misalkan 'pantau berita A, B, C, kalau ada kabari kita'. Jadi dia akan mengawasi terus. Kalau sekarang kan kita instruksi, panggil, instruksi, panggil. Agentic AI bisa diminta pantau," jelas Peiter.
Agentic AI diprediksi akan diadopsi dengan cepat karena mampu mengotomatisasi proses yang sebelumnya membutuhkan interaksi manual berulang kali. Data Meta menunjukkan adopsi teknologi ini sudah nyata, di mana 79% UKM di Indonesia telah menggunakan AI pada platform digital untuk pemasaran dan komunikasi.
Tren selanjutnya adalah spesialisasi atau industrialisasi AI. Peiter menganalogikan hal ini seperti seseorang yang menjadi ahli karena melakukan hal yang sama berulang kali. AI akan mulai dibangun secara spesifik untuk industri tertentu, misalnya khusus perbankan atau layanan pelanggan (customer service).
Peiter memberikan contoh kasus customer service konvensional yang seringkali menjengkelkan karena konsumen harus mengulang cerita setiap kali telepon terputus atau berganti agen.
"Kenapa mesti cerita ulang? Kalau ini AI, putus, nyambung lagi, langsung lanjut dari situ. The more it's industrialized, is going to move even faster," tambahnya.
Layar menampilkan prediksi tren 2026 di kantor Meta Indonesia, Jakarta, Rabu (10/12/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
Jelang 2026, perilaku belanja konsumen juga diprediksi akan berubah dari pengalaman statis di e-commerce menjadi percakapan interaktif atau Business Messaging. Konsumen di Indonesia, khususnya, lebih suka bertanya atau chatting sebelum membeli barang.
"Orang ingin chat. 'Bisa enggak kirim hari ini? AC 1 PK cocok untuk ruangan sebesar apa?'. So, Business Messaging is something big, terutama di Indonesia," kata Peiter.
Meta melihat integrasi AI ke dalam messaging akan sangat krusial. Contoh suksesnya adalah penggunaan chatbot berbasis AI oleh OJK untuk menangani laporan penipuan, yang terbukti menghasilkan peningkatan produktivitas sebesar 4x lipat dan mampu menyelesaikan 80% pertanyaan via bot.
Teknologi AI tidak boleh hanya dikuasai oleh segelintir orang atau perusahaan besar. AI harus didemokratisasi agar bisa digunakan oleh semua lapisan, termasuk kreator konten dan UMKM. Meta mencontohkan bagaimana kreator kini bisa menyematkan tautan produk langsung di konten (seperti kemitraan Facebook dengan Shopee), mengubah cerita menjadi penjualan secara real-time.
Peiter mencontohkan bagaimana AI dapat membantu kreator lokal untuk go international melalui fitur dubbing atau sulih suara otomatis ke bahasa asing. Kili Paul misalnya, seorang kreator dari suku Maasai yang memiliki 10,8 juta pengikut karena membuat konten lipsync lagu India, menargetkan pasar di luar negaranya.
"Kalau barang fisik kita mau ekspor, kenapa kreator enggak kita ekspor? Kenapa harus di Indonesia aja? Bayangkan dengan AI, satu konten bisa disulih suarakan," ujarnya.
Hal ini sejalan dengan tren perdagangan lintas batas (cross-border) yang membuka peluang emas bagi ekonomi halal. Merek lokal Indonesia, khususnya fashion dan kosmetik halal, memiliki peluang besar untuk diekspor ke pasar global Muslim.
Dari sisi bisnis pun, penggunaan AI dalam periklanan terbukti meningkatkan efisiensi secara signifikan. Peiter mengungkapkan data internal Meta di mana setiap 1 dolar AS yang dibelanjakan untuk iklan berbasis AI, menghasilkan return sebesar 3,47 dolar AS.
Layar menampilkan prediksi tren 2026 di kantor Meta Indonesia, Jakarta, Rabu (10/12/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
Fitur seperti Advantage+ memungkinkan pengiklan untuk menyerahkan urusan targeting dan variasi materi kreatif kepada AI. Meta berkomitmen merambah pasar global seperti Amerika atau Australia menggunakan bantuan teknologi AI.
"Bayangkan kalau kamu mau bikin 1.000 macam variasi background dan targeting manual, kelar (melelahkan) sih. Nah, AI bisa melakukan diversifikasi dan dibuat sendiri oleh automasi," jelas Peiter.
"Teknologi itu mesti dibuat untuk semua orang, di-democratize. Makanya tagline-nya adalah: dia kalau Bu Broto dari Madiun bisa jualan pecel di Maroko. That's it, as simple as that," pungkasnya.
Trending Now