Sergey Brin Balik Lagi ke Google Garap Gemini: Pensiun Dini Itu Kesalahan Besar

26 Desember 2025 10:34 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sergey Brin Balik Lagi ke Google Garap Gemini: Pensiun Dini Itu Kesalahan Besar
Sergey Brin sempat berpikir hidup tanpa rutinitas kerja akan memberinya ruang bernapas. Tapi ternyata salah besar.
kumparanTECH
Salah satu pendiri Google, Sergey Brin. Foto: Fabrice Coffrini/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu pendiri Google, Sergey Brin. Foto: Fabrice Coffrini/AFP
Sergey Brin sempat berpikir hidup tanpa rutinitas kerja akan memberinya ruang bernapas. Salah satu pendiri Google itu bahkan sudah membayangkan hari-hari tenang, duduk di kafe, membaca buku, dan mendalami fisika, setelah memutuskan pensiun dari aktivitas harian perusahaan pada Desember 2019.
Namun, rencana itu tak berjalan lama. Kini, Brin mengakuinya secara terbuka: pensiun dini adalah kesalahan besar. Pengakuan itu disampaikan Brin dalam pidatonya di perayaan 100 tahun Stanford University School of Engineering, pekan lalu.
Dalam pidato itu, ia bercerita bagaimana rencana pensiunnya runtuh bersamaan dengan datangnya pandemi COVID-19.
“Rencananya tidak berjalan karena sudah tidak ada lagi kafe,” kata Brin, disambut tawa hadirin.
Di balik candaan itu, ada refleksi yang lebih dalam. Brin mengaku pensiun justru membuatnya kehilangan tantangan intelektual yang selama ini menjadi bahan bakar utama hidupnya.
Ketika Google mulai mengizinkan sebagian karyawan kembali bekerja dari kantor, Brin ikut kembali. Dari situ, keterlibatannya perlahan semakin intens. Hingga akhirnya, ia kembali tenggelam sepenuhnya dalam dunia yang sejak awal membentuknya, yakni teknologi. Kali dia punya andil besar dalam pengembangan Gemini, model kecerdasan buatan (AI) andalan Google.
“Memiliki wadah kreatif teknis seperti ini menurut saya benar-benar memuaskan,” ujar Brin yang kini berusia 52 tahun. “Kalau saya tetap pensiun, itu akan menjadi kesalahan besar.”
Dalam kesempatan yang sama, Brin juga berbicara soal perjalanan Google di dunia AI. Ia tak menampik bahwa perusahaan yang ia dirikan sempat kehilangan momentum. Padahal, Google-lah yang menerbitkan makalah Transformer pada 2017, fondasi dari hampir semua model AI besar saat ini. Namun, menurut Brin, Google kala itu terlalu berhati-hati.
Ilustrasi Google Gemini Foto: Google
“Kami kurang berani membawa teknologi ini ke publik karena chatbot bisa saja mengatakan hal-hal bodoh,” tuturnya.
Sikap tersebut membuat Google tertinggal dari pemain lain. Sementara itu, OpenAI justru melaju cepat. Meski begitu, ia menilai Google masih memiliki keunggulan struktural yang sulit disaingi, termasuk investasi jangka panjang di riset jaringan saraf, pengembangan chip AI khusus, serta infrastruktur pusat data berskala masif.
“Tidak banyak yang punya skala sebesar itu,” ujarnya.
Ketika ditanya apa yang sebaiknya dipelajari mahasiswa di era AI saat mesin sudah mampu menulis kode, Brin justru memberi peringatan yang tak terduga. Ia menilai berpaling dari bidang teknis bukanlah jawaban.
“Saya tidak akan pindah ke sastra perbandingan hanya karena kamu berpikir AI jago ngoding,” katanya. “Kemungkinan besar AI malah lebih jago sastra perbandingan.”
Brin juga membagikan refleksi personal soal kesalahan terbesar yang kerap dilakukan para pendiri startup, kesalahan yang ia akui pernah dilakukan sendiri lewat proyek Google Glass. Ia menyebut, Google terlalu terburu-buru meluncurkan produk tanpa menunggu momentum, seperti harga yang lebih rasional, alat lebih sempurna, atau setidaknya lebih baik.
“Semua orang merasa dirinya Steve Jobs berikutnya,” katanya. “Saya juga pernah jatuh ke kesalahan itu.”
Kini, dengan keterlibatan penuh dalam pengembangan Gemini, Brin mengaku kembali menemukan energi yang sempat hilang. Kecepatan inovasi AI yang nyaris tak memberi jeda justru menjadi pemantik semangatnya.
“Kecepatan inovasi saat ini benar-benar luar biasa,” ujar Brin. “Kalau kamu tidak mengikuti berita selama sebulan saja, kamu sudah tertinggal jauh.”
Trending Now