VIDA Perkenalkan FaceToken dan PhoneToken, Solusi Autentikasi Wajah Berbasis AI
7 November 2025 14:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
VIDA Perkenalkan FaceToken dan PhoneToken, Solusi Autentikasi Wajah Berbasis AI
VIDA menegaskan perannya dalam membangun kepercayaan digital nasional lewat solusi autentikasi berbasis AI seperti FaceToken dan PhoneToken di ajang FEKDI–IFSE 2025.kumparanTECH

VIDA memperkenalkan FaceToken dan PhoneToken sebagai solusi autentikasi digital berbasis biometrik di Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025, di Jakarta pada Jumat (31/10). Keduanya dirancang untuk memperkuat keamanan transaksi dan mengurangi penipuan digital yang semakin banyak memanfaatkan teknik manipulasi seperti deepfake dan social engineering.
Menurut VIDA Fraud Intelligence Report 2025, kasus deepfake fraud di Asia Pasifik melonjak 1.550%, sementara 97% bisnis di Indonesia menjadi target social engineering. Sepanjang 2022-2024, kerugian sektor perbankan akibat penipuan digital mencapai lebih dari Rp 2,5 triliun, sebagian besar karena lemahnya autentikasi konvensional seperti SMS OTP dan kata sandi.
Fakta menunjukkan sistem keamanan lama tidak lagi memadai menghadapi ancaman berbasis kecerdasan buatan (AI). Hal ini membuat VIDA menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan FaceToken dan PhoneToken.
Kedua solusi menggabungkan machine learning dan enkripsi tingkat tinggi. Teknologi ini memungkinkan verifikasi identitas tanpa kata sandi (passwordless) melalui deteksi wajah (liveness detection) dan perangkat pengguna terdaftar, sehingga transaksi digital berlangsung cepat, aman, serta nyaman.
Selain itu, VIDA juga mengembangkan AI-native security framework. Inovasi ini menggabungkan kemampuan computer vision, fraud detection engine, dan analisis perangkat untuk mendeteksi pola serangan yang kompleks seperti injection attack dan virtual camera spoofing.
"Kami tidak hanya menganalisis foto. Kami harus memahami bagaimana serangan terjadi dari perangkat, aplikasi, hingga jaringan. Karena di lapangan, penipuan sering kali menggunakan reverse engineering tools dan virtual camera injection untuk menipu sistem biometrik," ujar Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur.
VIDA Dorong Kolaborasi Lintas Sektor, Hadapi Lonjakan Fraud Berbasis AI
Niki mengatakan ancaman digital ke depan bukan hanya persoalan teknologi tetapi juga dimanfaatkan untuk memanipulasi orang, seperti melalui praktik phishing atau account takeover. Ini bisa menimbulkan kerugian finansial berskala masif bagi para konsumen.
"Teknologi deepfake kini sudah mencapai titik di mana sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Karena itu, lembaga seperti VIDA sebagai Certificate Authority (CA) memegang peran penting untuk menjaga integritas identitas digital dan memastikan data serta transaksi tidak bisa dipalsukan," ujar Niki pada sesi Casual Talk 2: "Digital Trust for a Resilient Economy" di FEKDI–IFSE 2025 yang digelar Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).
Niki mengungkapkan fenomena baru yang sedang marak di dunia siber, yakni scan-as-a-service, atau jaringan penipu yang menyediakan akses ke jutaan akun digital. Salah satu contoh terbaru adalah terungkapnya device farm di Latvia yang melayani 15 ribu pelaku fraud dan mengakses 48 juta rekening digital. Hal ini menunjukkan bahwa para penipu kini beroperasi layaknya perusahaan, lengkap dengan infrastruktur, data sharing, dan kolaborasi.
Dengan ancaman keamanan digital secara global terus meningkat, Niki menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan digital nasional, serta membangun ekosistem terintegrasi yang dapat menjaga keamanan informasi dari sumber tepercaya.
“Kita di sisi industri juga harus berkolaborasi dengan skala yang sama kuatnya, antara perbankan, fintech, asosiasi, dan penyedia keamanan digital, untuk memperkuat ketahanan ekosistem digital nasional,” ungkap Niki.
Niki menambahkan, FEKDI–IFSE bukan sekadar ajang inovasi, tetapi forum kolaborasi untuk melindungi masa depan ekonomi digital nasional.
“Proses autentikasi seharusnya mudah, tapi sekuat enkripsi. Dengan FaceToken dan PhoneToken, kami ingin keamanan digital terasa mudah bagi pengguna, namun tetap tak bisa ditembus oleh penipu,” pungkas Niki.
Reporter: Muhamad Ardiyansyah
