China hingga Ethiopia, Ini Negara yang Tidak Merayakan Tahun Baru pada 1 Januari

3 Januari 2026 11:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
China hingga Ethiopia, Ini Negara yang Tidak Merayakan Tahun Baru pada 1 Januari
Di dunia, tahun baru biasanya dirayakan pada 1 Januari yang menandai pergantian tahun.
kumparanTRAVEL
Ilustrasi pesta kembang api tahun baru. Foto: tiket.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesta kembang api tahun baru. Foto: tiket.com
Di dunia, tahun baru biasanya dirayakan pada 1 Januari yang menandai pergantian tahun. Namun nyatanya, tidak semua negara merayakan tahun baru.
Ada sejumlah negara yang tidak merayakan tahun baru pada 1 Januari. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari kepercayaan atau aturan yang dipatuhi warganya untuk tidak merayakan hari besar tersebut.
Berikut sejumlah negara yang tidak merayakan tahun baru pada 1 Januari seperti dikutip dari Antara:

1. China

Orang-orang merayakan Tahun Baru dalam sebuah upacara di bagian Tembok Besar Juyongguan, yang juga dikenal sebagai Juyong Pass, di Beijing, Tiongkok, 1 Januari 2026. Foto: REUTERS/Maxim Shemetov
Masyarakat China yang berusia muda memang berkumpul di distrik perbelanjaan untuk menonton kembang api atau menghadiri pesta, namun secara umum, mereka lebih menunggu Tahun Baru Imlek atau yang dikenal sebagai Festival Musim Semi.
Ratusan juta orang pulang kampung untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Perayaan berlangsung selama lima belas hari, diakhiri dengan Festival Lentera.
Dekorasi merah menghiasi segalanya dan petasan meledak di malam hari untuk mengusir roh jahat.
Saat itulah keluarga Tionghoa memberikan amplop merah, berbagi jamuan makan yang mewah, dan benar-benar menandai peralihan dari satu tahun ke tahun berikutnya.

2. Vietnam

Orang-orang duduk di tepi jalan untuk memesan tempat di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, Rabu (30/4/2025). Foto: Manan VATSYAYANA/AFP
Warga Vietnam lebih menantikan Hari Raya TαΊΏt yang bertepatan dengan Imlek. Mereka akan melakukan persiapan yang biasanya memakan waktu selama berminggu-minggu.
Setiap orang akan membeli pakaian baru dan membersihkan rumah untuk mengusir nasib buruk. Nantinya, rumah akan dipenuhi dekorasi seperti bunga persik dan pohon kumquat.
Perayaan berlangsung selama beberapa hari, dengan hidangan mewah, pemujaan leluhur, dan anak-anak menerima amplop merah berisi uang.

3. Ethiopia

Umat Ortodoks Ethiopia memegang lilin selama perayaan festival Meskel untuk memperingati penemuan salib sejati tempat Yesus Kristus disalibkan, di alun-alun Meskel, di Addis Ababa, Ethiopia, Senin (26/9/2022). Foto: Tiksa Negeri/REUTERS
Ethiopia menggunakan sistem perhitungan kalendernya sendiri, yang selisihnya tujuh hingga delapan tahun dari kalender Gregorian.
Tahun Baru Ethiopia yang disebut Enkutatash, jatuh pada tanggal 11 September atau 12 September selama tahun kabisat.
Perayaan ini menandai berakhirnya musim hujan dan dimulainya musim semi. Keluarga berkumpul untuk pesta, bertukar bunga, dan menyanyikan lagu-lagu tradisional.
Anak-anak pergi dari rumah ke rumah menawarkan lukisan dan bernyanyi untuk mendapatkan hadiah kecil. Tanggal 31 Desember berlalu tanpa upacara bagi sebagian besar warga Ethiopia.

4. Iran

Ilustrasi turis berwisata di Iran. Foto: EvaL Miko/Shutterstock
Iran memiliki tahun baru yang disebut Nowruz dan telah dirayakan selama lebih dari 3 ribu tahun. Hari besar itu bertepatan dengan ekuinoks musim semi.
Keluarga menyiapkan meja upacara yang disebut Haft-sin, yang dihiasi dengan tujuh barang yang dimulai dengan huruf S dalam bahasa Persia. Anggota keluarga turut melakukan pembersihan musim semi secara menyeluruh.
Perayaan berlanjut selama tiga belas hari, diakhiri dengan piknik di luar ruangan pada Sizdah Bedar.

5. Arab Saudi

Ilustrasi turis Arab Saudi. Foto: Shutterstock
Kalender resmi Arab Saudi adalah kalender Hijriah. Tahun barunya jatuh pada hari pertama Muharram dalam kalender Islam.
Bagi muslim Saudi konservatif, merayakan tahun baru secara tradisional dianggap tidak pantas dan bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam.

6. Brunei Darussalam

Pengunjung mengambil gambar Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Selasa (13/5/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
Sama halnya dengan Arab Saudi, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah juga melarang perayaan Natal dan Tahun Baru di depan umum sejak tahun 2014, dengan alasan perlunya melindungi agama Islam.
Menampilkan dekorasi, mengenakan pakaian meriah, atau berkumpul di depan umum untuk merayakannya dinilai bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
Trending Now