Jelang Libur Nataru, Reservasi Hotel di Yogyakarta Mulai Alami Peningkatan

6 November 2025 13:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jelang Libur Nataru, Reservasi Hotel di Yogyakarta Mulai Alami Peningkatan
Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026, geliat pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai terasa.
kumparanTRAVEL
Ilustrasi kamar hotel. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kamar hotel. Foto: Shutterstock
Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026, geliat pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai terasa. Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY melaporkan bahwa tingkat reservasi kamar hotel mulai meningkat signifikan, terutama di kawasan wisata populer, seperti Malioboro dan pusat Kota Yogyakarta.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, meskipun pada November belum terlihat lonjakan besar, tren reservasi untuk Desember sudah cukup tinggi.
Ilustrasi Yogyakarta. Foto: Dok. Kemenparekraf RI
“Kalau Desember, rata-rata sudah 60 persen. Di kawasan Malioboro bahkan sudah mencapai sekitar 75 persen,” ujar Deddy, seperti dikutip dari Antara.
Menyambut musim liburan panjang, berbagai hotel di Yogyakarta telah menyiapkan paket spesial akhir tahun. Mulai dari paket menginap dengan makan malam dan sarapan, hingga hiburan musik dan pesta pergantian tahun untuk menarik lebih banyak wisatawan.
Ilustrasi pegawai hotel. Foto: Shutterstock
Menurut Deddy, peningkatan pemesanan ini merupakan pola tahunan yang selalu terjadi menjelang libur Nataru. Ia memperkirakan, okupansi akan terus naik hingga pertengahan Desember, mendekati puncak liburan.
“Kalau melihat tren tahun-tahun sebelumnya, okupansi di wilayah tengah DIY, seperti Kota Yogyakarta dan Sleman bisa mencapai 95 hingga 100 persen,” katanya.
“Namun, untuk tahun ini, kami pasang target realistis di angka 85 persen, mengingat faktor cuaca, ekonomi, dan politik bisa mempengaruhi keputusan wisatawan.”

Antisipasi Cuaca dan Keamanan Wisata

Memasuki musim hujan dan potensi bencana hidrometeorologi, PHRI DIY memastikan telah berkoordinasi dengan BPBD dan BMKG. Setiap hotel diminta menyiapkan langkah antisipasi dan penyebaran informasi cuaca kepada tamu secara berkala.
“BMKG memberi informasi secara umum, lalu diteruskan ke tim kami. Informasi itu akan dikirimkan ke tamu melalui sistem informasi kamar atau pesan pribadi,” jelas Deddy.
Selain itu, jika kondisi cuaca di lokasi wisata utama memburuk, hotel juga akan mengalihkan wisatawan ke destinasi alternatif yang lebih aman.
“Penyampaian informasi harus tetap edukatif dan menenangkan. Wisatawan harus merasa aman datang ke Yogyakarta,” tambahnya.
Hutan Pinus Mangunan. Foto: Dhimas Satriaa/Shutterstock
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan strategi pemerataan kunjungan wisatawan, agar tidak terpusat di kota saja.
“Kami ingin wisatawan punya alternatif lain, tidak hanya di Sleman atau Malioboro, tapi juga ke Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul,” ujarnya.
Destinasi seperti Kebun Teh Nglinggo (Kulon Progo), Pantai Indrayanti (Gunungkidul), dan Hutan Pinus Mangunan (Bantul) akan menjadi fokus promosi jelang libur akhir tahun.
Selain promosi, pengelola destinasi juga diminta mengecek ulang SOP penanganan keadaan darurat, terutama di lokasi berisiko tinggi, seperti kawasan pantai dan perbukitan.
“Kami pastikan SOP dijalankan dengan baik, karena bencana alam tidak bisa dicegah, tapi bisa diantisipasi,” kata Imam.
Trending Now