Yogyakarta Disebut Alami Overtourism, Ini Penjelasan GKR Bendara
14 Agustus 2025 15:19 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Yogyakarta Disebut Alami Overtourism, Ini Penjelasan GKR Bendara
Sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan, Yogyakarta mengalami peningkatan wisatawan yang cukup signifikan. Lonjakan wisatawan kerap kali terjadi pada musim liburan. kumparanTRAVEL

Sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan, Yogyakarta mengalami peningkatan wisatawan yang cukup signifikan. Lonjakan wisatawan kerap kali terjadi pada musim liburan.
Apalagi, dengan dibukanya akses tol Solo-Yogyakarta segmen Klaten-Prambanan pada Juli lalu, membuat wisatawan kini bisa dengan mudah menjelajahi Yogyakarta.
Jalan tol sepanjang 8,6 kilometer itu membuat waktu tempuh Semarang-Yogyakarta bisa dipangkas jadi lebih cepat hingga lebih dari 2 jam.
Yogyakarta pun disebut sebagai salah satu daerah yang dikatakan mendekati syarat overtourism. Salah satu buktinya terlihat pada setiap akhir pekan dan liburan panjang, Yogyakarta dipadati wisatawan dari luar daerah, hingga menyebabkan kepadatan arus lalu lintas.
Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau putri bungsu atau anak kelima dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas, menanggapi isu overtourism yang terjadi di Yogyakarta. Menurutnya, lonjakan wisatawan di Yogyakarta tidak terjadi sepanjang tahun.
"Jadi, kita itu agak dilema dengan kata-kata overtourism, karena overtourism itu seakan-akan sepanjang tahun begitu terus, padahal enggak. Jogja kayak gitunya itu sebulan, dua bulan mentok sepanjang tahun, tapi label overtourism itu dampaknya negatif sepanjang tahun," ujar GKR Bendara, saat ditemui kumparan di kawasan Keraton Yogyakarta, Rabu (13/8).
Menurutnya, overtourism tidak bisa hanya dilihat dengan pandangan mata saja. Ketika sebuah tempat wisata itu penuh atau macet, hal tersebut tidak bisa semata-mata disebut sebagai overtourism.
"Overtourism itu tidak bisa dilihat dengan pandangan mata. Oh macet, overtourism, enggak bisa begitu. Overtourism itu kalau dampak negatifnya sudah lebih besar daripada dampak positif yang didapatkan, begitu," tuturnya.
Adapun cara untuk melihat sebuah destinasi wisata itu overtourism atau tidak, menurut Gusti Bendara, dengan cara menghitung carrying capacity atau daya dukung, atau daya tampungnya. Sayangnya, hingga saat ini belum ada formulasi yang tepat untuk menghitung carrying capacity di satu destinasi wisata.
"Faktornya masih banyak yang abu-abu, contohnya adalah 'oh ini tempatnya banyak heritage-nya', 'maka ada skala mitigasi bencana, mitigasi budaya, dan lain sebagainya', mengurangi jumlahnya gitu," ungkap GKR Bendara.
"Sedangkan kalau mengurangi jumlah wisatawan, akan semakin mahal tiket masuknya, akhirnya nanti tidak bisa melestarikan cagar budayanya, karena kekurangan wisatawan. Akhirnya nanti dampaknya jadi negatif," paparnya.
Overtourism atau High Season?
Oleh karena itu, GKR Bendara mengatakan bahwa kepadatan wisatawan yang terjadi di Yogyakarta, disebabkan oleh kunjungan yang terjadi saat periode high season atau musim liburan, di mana pergerakan wisatawan memang kurang jauh alias di tempat-tempat populer saja.
"Kalau zona Malioboro di sepanjang tahun juga masih sangat rendah, hanya saja kalau dihitung rentang waktunya satu bulan di Juli, ya tentu akan tinggi begitu, pasti akan over, tapi kalau ditarik setahun masih tetap rendah, gitu," kata GKR Bendara.
"Jadi, kerancuan dari overtourism itu terkadang hanya persepsi mata, ya. Ini overtourism, tapi komponen lain di sekitar itu masih cukup banyak," tambahnya.
Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu mengatakan, bahwa pihaknya sedang melakukan perataan kegiatan atau event di sepanjang tahun, sehingga kepadatan wisatawan bisa diurai.
"Kita juga sedang bernegosiasi dengan beberapa event, seperti di bulan Juli dan Agustus kita ganti, boleh nggak kita geser di awal tahun yang sama-sama, nih," katanya.
Dengan demikian, kunjungan wisatawan yang terjadi saat high season ataupun low season bisa terjadi tidak terlalu jomplang.
"Harapannya low season ini jadi tidak terlalu jomplang dengan high season. Sebab, high season harga sudah mahal semuanya, nanti capnya Jogja adalah overtourism," tutur GKR Bendara.
"Padahal, Jogja belum mencapai overtourism, karena kalau kita rata-rata satu tahun dengan keluasan Jogja yang sampai Gunung Kidul dan Kulonprogo, kita masih sangat rendah," pungkasnya.
