Bijak Membeli, Ini 4 Kriteria Brand Lokal Dukung Slow Fashion

24 November 2025 8:30 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bijak Membeli, Ini 4 Kriteria Brand Lokal Dukung Slow Fashion
Sejumlah brand lokal mulai menawarkan alternatif yang lebih berorientasi pada kualitas produk jangka panjang atau slow fashion. Ada ciri-ciri tertentu yang bisa dikenali oleh kamu sebagai konsumen.
kumparanWOMAN
Ilustrasi fashion. Foto: KorArkaR/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fashion. Foto: KorArkaR/Shutterstock
Industri mode Indonesia tengah bergerak dalam dua arah yang bertolak belakang. Di satu sisi, fast fashion terus membombardir pasar dengan mendorong siklus perubahan tren pakaian yang kian cepat. Di sisi lain, sejumlah brand lokal mulai menawarkan alternatif yang lebih perlahan, lebih sadar, dan lebih berorientasi pada kualitas produk jangka panjang.
Meski tidak semua brand secara eksplisit melabeli dirinya sebagai brand slow fashion, ada ciri-ciri tertentu yang bisa dikenali oleh kamu sebagai konsumen. Ciri-ciri ini membantu kamu melihat apakah sebuah brand benar-benar berkomitmen pada sustainable fashion.

Lihat bagaimana mereka memperlakukan para pekerja

Ilustrasi Slow Fashion. Foto: Shutterstock
Brand yang mendukung slow fashion biasanya tidak ragu menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam proses produksi mereka, termasuk upah yang layak, jam kerja yang manusiawi, dan prosedur keselamatan yang terstandarisasi.
Banyak brand slow fashionmemilih mengangkat cerita para penjahit atau pengrajin mereka di media sosial atau situs web sebagai cara untuk memperlihatkan bahwa pakaian mereka adalah hasil keringat dan kerja keras manusia.
Jika sebuah brand nyaman menunjukkan prosesnya secara terbuka, itu bisa jadi tanda bahwa kondisi kerja di balik layar memang mereka jaga. Transparansi ini bisa berupa foto ruang kerja, cerita tentang hubungan panjang dengan mitra produksi, atau sekadar menjelaskan bagaimana mereka memantau kualitas dan kesejahteraan pekerja.
Di sisi lain, brand yang menghindari pembahasan soal pekerja biasanya menyisakan ruang tanya. Slow fashion menempatkan keadilan sosial sebagai fondasi, sehingga ketertutupan justru bertentangan dengan semangat itu. Pembeli bisa mulai dari sini untuk menilai keseriusan sebuah brand.

Komposisi material yang bertanggung jawab

Ilustrasi Slow Fashion. Foto: Shutterstock
Bahan adalah indikator paling mudah untuk dikenali ketika kita ingin menilai keberlanjutan sebuah produk. Brand yang mendukung slow fashion cenderung mengutamakan material yang awet, mudah dirawat, dan tidak menyulitkan di tahap akhir pemakaian. Serat tunggal, misalnya, lebih mudah untuk didaur ulang dibanding bahan campuran yang sulit dipisahkan.
Beberapa brand lokal mulai melirik bahan-bahan seperti linen atau rami yang lebih hemat air. Mereka biasanya menjelaskan alasan pemilihan bahan, untuk mengedukasi pembeli bagaimana bahan yang yang digunakan dalam pakaian yang dijual memberi ketahanan jangka panjang bagi pemakainya. Penjelasan seperti ini memberi gambaran bahwa bahan dipertimbangkan dengan matang sejak awal.

Transparansi asal-usul material

Ilustrasi Slow Fashion. Foto: Shutterstock
Rantai pasok sering kali menjadi aspek yang jarang dibahas, padahal ini mempengaruhi seberapa besar jejak lingkungan sebuah pakaian. Brand slow fashion biasanya berusaha memperjelas dari mana bahan mereka didapat, di mana pakaian dijahit, dan proses apa saja yang dilalui sebelum produk sampai di rak atau keranjang belanja pembeli.
Buat brand lokal, hal ini cukup masuk akal dilakukan karena produksi kerap kali melibatkan pabrik kecil atau pengrajin yang memang dekat secara geografis. Kejujuran yang sederhana semacam sulit ditemukan jika brand tidak benar-benar memiliki komitmen terhadap praktik slow fashion.
Dalam slow fashion, semakin pendek rantai pasok, semakin besar kemungkinan praktiknya lebih bertanggung jawab.

Aksi yang mendorong perubahan

Ilustrasi sustainable fashion. Foto: Shutterstock
Brand yang bergerak ke arah slow fashion biasanya tidak akan berhenti pada penjualan. Mereka akan mengajak pembeli merawat pakaian lebih lama, memperbaiki jika ada bagian yang rusak, bahkan kadang menyediakan layanan repair.
Interaksi dengan konsumen juga memberi banyak petunjuk. Brand yang terbuka dengan pertanyaan, menjawab dengan detail, dan tidak menghindari isu sensitif biasanya lebih konsisten dalam menjalankan nilai yang mereka bawa.
Penulis: Zulfa Salman
Trending Now