BINHouse Hidupkan 'Bahasa Kain' Lewat Siluet dan Tarian di JFW 2026

12 November 2025 14:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BINHouse Hidupkan 'Bahasa Kain' Lewat Siluet dan Tarian di JFW 2026
Dalam pagelaran “Bahasa Kain”, BIN House mengajak penonton memahami bahwa setiap helai kain memiliki bahasa, dan setiap jahitan adalah bentuk tutur.
kumparanWOMAN
Koleksi BIN House di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi BIN House di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
Apa jadinya jika kain bisa berbicara? Jika setiap motif dan tenunan ternyata menyimpan kisah yang ingin disampaikan? Di panggung Jakarta Fashion Week 2026, Selasa (28/10), BINHouse menjawabnya lewat pertunjukan bertajuk “Bahasa Kain”, sebuah dialog antara tradisi, warna, dan gerak.
Melalui 62 rancangan yang penuh karakter, jenama yang diprakarsai oleh Obin ini mengajak penonton memahami bahwa setiap helai kain memiliki bahasa, dan setiap jahitan adalah bentuk tutur.
Dalam konferensi pers sebelum peragaan di Pondok Indah Mall (PIM) 3, Selasa (28/10), Airlangga Elang, putra dari Obin sekaligus penerus BINHouse, menjelaskan arah pemikiran di balik koleksi ini.
Airlangga Elang berbicara di konferensi pers "Bahasa Kain" BINHouse sebelum peragaan di Pondok Indah Mall (PIM) 3, Selasa (28/10)
“Koleksi ini bukan fast fashion, tetapi mungkin sedikit slow fashion.Sustainability ini ada, kenapa? Karena ini buatan tangan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa setiap karya yang tampil di runway merupakan hasil kerja tangan para perajin lokal yang memiliki nilai budaya dan ketekunan tinggi.
“Ini buatan tangan, ini buatan artis dan artisan Indonesia. Saya rasa itulah yang terus kita jaga, itulah yang terus kita coba kembangkan,” kata Elang.
Elang menyebut, tim BINHouse memiliki kesadaran yang sama tentang gaya hidup dan perilaku manusia yang perlu diarahkan pada apresiasi terhadap tradisi lokal.
“Yang ada di kesadarannya pemerintah dan tim dan kita semua adalah gaya hidup, human behavior. Itu yang kita jadikan juga sebagai observasi, di mana kita mengembangkan tradisi budaya seperti Indonesia,” pungkasnya.

Ketika kain menari dan berbicara di runway

Koleksi BINHouse di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
Pagelaran dibuka dengan musik upbeat yang segera mencairkan suasana. Para model BINHouse berjalan sambil menari seirama musik. Setiap gerak tubuh mereka menyalurkan energi yang sama dengan kain yang dikenakan, sehingga membuat kain pun turut berayun dan bernapas.
Koleksi BINHouse di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
Setiap segmen diolah dalam babak-babak, penonton pun dibuat seperti sedang menyaksikan teater musikal. Model saling menyapa, tersenyum, bahkan menggoda satu sama lain dengan ekspresif. Lewat cara peragaan busana yang unik ini, BINHouse berhasil menghadirkan suasana yang riang dan hidup.
Gerak para model di atas runway ini sejalan dengan filosofi BINHouse bahwa wastra adalah bagian dari keseharian, bukan hanya milik upacara dan acara resmi.
Model menggunakan busana koleksi BINHouse di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
Koleksi “Bahasa Kain” sendiri tampil beragam. Ada tampilan yang basic, ada juga yang nyentrik. BINHouse menggabungkan material seperti katun, satin, velvet, dan organza. Beberapa kain dimanipulasi menjadi tekstur crinkle yang kompleks, menciptakan struktur tiga dimensi pada busana tanpa menghilangkan keluwesan.
Model menggunakan busana koleksi BINHouse di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
Kebaya tetap menjadi pusat perhatian. Namun, ditampilkan dalam bentuk yang lebih eksperimental, misalnya kebaya janggan dengan ekor berwarna biru elektrik, kebaya kutu baru berbahan beludru, hingga kebaya bergaya qipao dengan lining floral di bagian dalam.
Model menggunakan busana koleksi BINHouse di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Dok. JFW
BINHouse juga memunculkan celana-sarung batik yang menjadi ciri khas baru koleksi ini. Potongannya yang kasual dan elegan memudahkan perpaduan item dengan berbagai suasana.
Dalam beberapa tampilan, BINHouse bermain dengan warna. Misalnya, outer berwarna dasar seperti putih tulang dan hitam tampil elegan dengan lining dalam merah ceri dan hijau lime. Di sisi lain, ada pula tampilan yang lebih teatrikal, seperti jaket oranye terang dan kebaya biru elektrik yang mencuri perhatian di bawah sorot lampu.
Koleksi ditutup dengan para model yang berjalan tanpa alas kaki. Mereka melayangkan selendang di belakang punggung sambil melangkah perlahan-lahan. Kain-kain itu berputar lembut di udara, membentuk gelombang warna yang bergerak serempak.
Penulis: Zulfa Salman
Trending Now