Diprotes, Majalah Vogue Akan Setop Tampilkan Item Fashion dari Bulu Hewan
9 Oktober 2025 20:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
Diprotes, Majalah Vogue Akan Setop Tampilkan Item Fashion dari Bulu Hewan
Usai diprotes, majalah Vogue dan penerbitnya, Condé Nast, akan menghentikan pemakaian item fashion dari bulu hewan (fur) dalam seluruh konten redaksi dan advertorial mereka.kumparanWOMAN

Condé Nast, perusahaan penerbitan yang menaungi majalah fashion besar Vogue, akan menghentikan penggunaan bulu hewan (fur) dalam seluruh majalah terbitannya. Kabar yang diumumkan pada Senin (6/10) ini disambut baik oleh kelompok pejuang hak hewan.
Dikutip dari Independent, sejak lama, para aktivis hak hewan, organisasi lingkungan, hingga hingga pelaku sustainable fashion telah mengecam penggunaan bulu hewan asli dalam industri fashion. Bulu hewan sering kali menjadi simbol kemewahan dan penanda status sosial seseorang. Fur bisa digunakan untuk berbagai item fashion, mulai dari jaket, mantel, topi, hingga tas.
Menurut para aktivis, peternakan dan pemanenan bulu hewan kerap dilakukan dengan cara yang tidak etis dan melukai hewan. Oleh sebab itu, para aktivis pun memperjuangkan agar praktik ini ditinggalkan. Semakin tak dipromosikan, semakin menurun minat orang terhadap item fashion dari bulu asli.
Dalam keterangannya, Condé Nast mengumumkan bahwa mereka tak akan lagi menampilkan item fashion dari bulu hewan, baik dalam konten redaksional maupun advertorial. Ini akan berlaku di semua majalah dan media di bawah Condé Nast, mulai dari Vogue, GQ, Glamour, sampai Vanity Fair.
Ini pun menjadi terobosan besar bagi Condé Nast, yang berpuluh-puluh tahun tetap mempertahankan praktik ini. Vogue juga dikenal sering mengglamorisasi penggunaan bulu hewan dalam konten redaksional majalah mereka. Anna Wintour, mantan Editor-in-Chief Vogue Amerika Serikat, juga terkenal dengan kecintaannya terhadap item fashion dari bulu hewan.
Sementara itu, sudah banyak majalah dan brand yang meninggalkan penggunaan bulu hewan. Contohnya, dikutip dari CNN Style, majalah Elle resmi menyetop kemunculan item fashion bulu hewan sejak 2021.
“Ketika trendsetter seperti Vogue menegaskan bahwa bulu hewan tak lagi populer, ini akan menciptakan siklus baru yang berterima dan berperikemanusiaan di dunia modern ini,” ucap Direktur Kebijakan Fashion di Humane World for Animals, PJ Smith, dalam keterangannya.
Keputusan ini diambil oleh Condé Nast setelah sembilan bulan diprotes oleh organisasi aktivis lingkungan Coalition to Abolish Fur Trade (CAFT). Kelompok aktivis ini menjalani kampanye selama sembilan bulan dan melakukan aksi protes terhadap pimpinan, redaktur, dan bisnis-bisnis yang terafiliasi dengan Condé Nast.
Selama kampanye ini, pengunjuk rasa memenuhi halaman rumah para editor Vogue, mengorkestrasi demo di acara-acara yang digelar oleh Vogue di London dan New York, hingga melakukan aksi protes di gerai-gerai brand yang terafiliasi dengan Vogue.
Meskipun keputusan Condé Nast untuk tak lagi mempromosikan bulu hewan dinilai akan berdampak besar, minat masyarakat terhadap item fesyen bulu hewan memang sudah lama menurun.
Dilansir CNN Style, berbagai brand fashion hingga ritel mode seperti Gucci, Net-a-Porter, Versace, Prada, sampai Michael Korsel sudah berhenti memproduksi dan memasarkan item fashion dari bulu hewan sejak 2010-an.
