Matilda Effect dan Kisah Ilmuwan Perempuan yang Terlupakan dalam Buku Sejarah

8 September 2025 18:11 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Matilda Effect dan Kisah Ilmuwan Perempuan yang Terlupakan dalam Buku Sejarah
Matilda effect adalah fenomena ketika pencapaian ilmuwan perempuan diklaim oleh ilmuwan laki-laki. Istilah tersebut diambil dari nama Matilda Joslyn Gage, seorang sufagis dan aktivis abad ke-19.
kumparanWOMAN
Lise Meitner, ilmuwan nuklir Jerman bersama murid-muridnya. Foto: Dok: Wikimedia Commons (Nuclear Regulatory Commission)
zoom-in-whitePerbesar
Lise Meitner, ilmuwan nuklir Jerman bersama murid-muridnya. Foto: Dok: Wikimedia Commons (Nuclear Regulatory Commission)
Ladies, siapa ilmuwan dan penemu perempuan dalam sejarah yang terlintas dalam pikiranmu? Mungkin, kamu akan terpikir nama seperti Marie Curie atau Rosalind Franklin yang terkenal dengan kontribusinya dalam fisika dan biologi. Sampai saat ini, hanya 25 perempuan di dunia yang pernah memenangi penghargaan Nobel di bidang fisika, kimia, atau medis.
Dunia sains, teknologi, teknik, dan matematika telah lama dikenal sebagai dunia yang maskulin—tempat yang didominasi oleh kaum laki-laki. Namun, tahukah kamu tentang Matilda Joslyn Gage yang namanya diabadikan dalam istilah untuk menggambarkan situasi ketika penemuan perempuan diklaim oleh laki-laki sebagai milik mereka?

Mengenal Matilda Effect

Marie Curie. Foto: Wikimedia Commons
Matilda effect merupakan sebuah bias sistemik yang membuat pencapaian ilmuwan perempuan sering kali diabaikan atau diklaim oleh ilmuwan laki-laki. Istilah ini dicetuskan oleh Margaret W. Rossiter dan diambil dari nama Matilda Joslyn Gage seorang sufagis dan aktivis abad ke-19 yang pertama kali menjelaskan fenomena ini di dalam esainya yang berjudul “Woman as Investor”.
Matilda merupakan seorang pegiat hak perempuan yang berupaya menunjukkan bahwa banyak penemu perempuan yang tidak mendapatkan kredit atas karya mereka karena bias dan stereotip gender yang melekat pada perempuan di bidang sains. Bias gender bahwa perempuan hanya dapat berperan sebagai “asisten”, “pendukung”, atau “pendamping” laki-laki membuat perempuan kesulitan untuk meyakinkan publik bahwa temuan mereka adalah milik mereka.

Apa saja contoh Matilda Effect di dunia nyata?

Marie Curie, ilmuwan perempuan pertama yang raih Penghargaan Nobel dalam Sains. Foto: Shutterstock
Fenomena Matilda Effect, kenyataannya, banyak terjadi sepanjang sejarah di berbagai belahan dunia. Mulai dari kasus Rosalind Franklin dengan temuan struktur DNA-nya sampai Marthe Gautier dengan temuan kromosom tambahan pada anak dengan down syndrome. Bagaimana cerita mereka? Simak di bawah ini, ya, Ladies.

Rosalind Franklin

Melansir Encyclopedia Britannica, Franklin adalah sosok kunci di balik penemuan struktur DNA. Ia berhasil menghasilkan foto sinar-X yang dikenal sebagai Photo 51, yang kemudian digunakan Watson dan Crick untuk menyusun model heliks ganda DNA. Namun, di publikasi tersebut kontribusi Franklin tidak diakui atau bahkan disebutkan, meskipun foto sinar-X penemuan Franklin dimasukkan ke dalam publikasi.
Rosalind Franklin meninggal pada 1958 dan pada 1962, Nobel Fisiologi/Kedokteran hanya diberikan kepada Watson, Crick, dan Wilkins.

Lise Meitner

Menurut American Physical Society, Lise Meitner adalah fisikawan Austria yang bersama Otto Hahn menemukan fisi nuklir. Penemuan itu mengubah arah dunia, membuka jalan bagi energi nuklir sekaligus bom atom. Tapi pada 1944, Nobel hanya dianugerahkan kepada Hahn. Lise Meitner, meski disebut “ibu fisi nuklir,” tidak mendapat pengakuan resmi.

Esther Lederberg

Dilansir Time Magazine, Esther adalah genetikus brilian yang menemukan virus lambda dan mengembangkan metode penting untuk penelitian bakteri. Tetapi ketika Nobel diberikan kepada suaminya, Joshua Lederberg, Esther hanya dipandang sebagai “istri” yang mendampingi pekerjaan Joshua Lederberg. Padahal, perannya sangat besar dalam fondasi genetika modern.

Frieda Robscheit-Robbins

Menurut catatan di Nobel Prize archives, Frieda bekerja erat dengan George Whipple dalam penelitian anemia pernisiosa. Namun, ketika Whipple menerima Nobel pada 1934, nama Frieda sama sekali tak tercantum.

Marthe Gautier

Marthe Gautier adalah seorang dokter Prancis yang menemukan adanya kromosom tambahan pada anak dengan down syndrome. Sayangnya, temuannya kemudian dipublikasikan atas nama koleganya, Jérôme Lejeune, yang justru lebih dikenal sebagai penemu tersebut.
Fenomena ini terjadi berulang kali karena sejak lama sains dipandang sebagai ranah laki-laki. Akses pendidikan yang terbatas juga menjadi persoalan. Hingga awal abad ke-20, banyak universitas ternama di Eropa maupun Amerika Serikat yang menolak mahasiswi perempuan. Jika pun ada yang diterima, kesempatan mereka untuk menjadi profesor hampir mustahil. Jadi, meski banyak perempuan cerdas, potensi mereka terhenti di pintu masuk karena aturan institusi.
Ladies, melansir On Wisconsin Magazine, Margaret Rossiter percaya bahwa memberi nama pada fenomena ini dapat membuat masyarakat lebih peka terhadap isu ini dan mudah mengingat adanya ketidakadilan bagi para penemu perempuan yang didasari oleh bias gender.
Kalau kamu, apa pendapatmu soal fenomena ini Ladies? Apa hal ini juga terjadi di sekitarmu?
Penulis: Zulfa Salman
Trending Now