Mel Ahyar Bawa Pesona Tanah Laut dari Kalimantan Selatan di PIFW 2025
8 Oktober 2025 22:06 WIB
·
waktu baca 3 menit
Mel Ahyar Bawa Pesona Tanah Laut dari Kalimantan Selatan di PIFW 2025
Mel Ahyar tuangkan pesona Tana Banua lewat koleksi “Tanah Laut” di PIFW 2025, wujud cinta pada wastra dan perajin lokal.kumparanWOMAN

Dalam gelaran Plaza IndonesiaFashion Week 2025, Mel Ahyar melalui labelnya Mel Ahyar Archipelago mempersembahkan koleksi terbaru bertajuk “Tanah Laut”, sebuah ode visual untuk Bumi Nan Bungas yang kaya cerita dan budaya.
Bagi Mel, Tanah Laut adalah tempat darat menyapa laut, pertemuan dua unsur bertentangan yang melahirkan harmoni. Ia jatuh cinta pada keindahan lanskap dan lapisan sejarahnya.
Di sana, semangat “Tuntung Pandang” atau pandangan jauh ke depan bukan hanya semboyan, tapi napas hidup masyarakatnya. “Tanah Laut” hadir sebagai refleksi dari semangat itu, yakni kuat, berdaya, dan berkarakter.
Dari Sasirangan hingga Purun, Wastra yang Dihidupkan Kembali
Dalam koleksi ini, Mel mengangkat kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan, yang ia dekonstruksi dengan sentuhan modern tanpa kehilangan identitas lokalnya. Hasilnya adalah 27 looks penuh karakter, elegan, struktural, tapi tetap lembut dengan twisted beauty khas Mel Ahyar. Menariknya, dari total busana tersebut, 10 look dikenakan oleh perempuan, memperlihatkan fleksibilitas desain dan inklusivitas dalam gaya.
Inspirasi Mel datang dari tokoh-tokoh Kesultanan Banjar seperti Pangeran Antasari dan Pangeran Suriansyah. Ia menerjemahkan motif-motif klasik Sasirangan, seperti motif Kejujuran yang bergaris lurus dan motif Seribu Sungai yang menjalar, menjadi kurva topografis-geometrik yang terinspirasi dari lanskap alam Tanah Laut mulai dari Pantai Takisung, Pulau Datu, hingga Bukit Rimpi.
Sebagai pelengkap, Mel juga memperkenalkan tas anyaman purun danau (Lepironia articulata), hasil kolaborasi dengan perajin lokal. Tanaman purun yang tumbuh di lahan gambut ini diolah menjadi karya seni fungsional, menunjukkan bagaimana mode dan ekonomi kreatif bisa saling menguatkan.
Sebuah Perjalanan, Sebuah Cinta pada Wastra
Mel Ahyar mengungkapkan bahwa pengalaman riset di Tanah Laut terasa seperti deja vu. “Pengalaman aku riset di Tala ini rasanya seperti deja vu ya. Dari segi bahasa seperti penggunaan inggih (iya), bapira (berapa), gawi (buat/kerja) itu familiar kita temukan di daerah lain. Jadi dari singkatnya pengalamanku di Tala, inspirasinya langsung mengalir karena rasanya seperti sudah lama, sudah akrab sama Tala,” ujar Mel.
Mel juga bercerita tentang perjalanannya mendalami dunia wastra. Sejak bergabung dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), ia belajar langsung dari para perajin di berbagai daerah. Dari Medan hingga Lampung, dari tenun hingga sulam Kapis, ia menyaksikan betapa panjang dan penuh perjuangan proses di balik selembar kain.
Namun, di balik kecantikan wastra, ada tantangan yang besar. Banyak perajin yang kini beralih ke pekerjaan lain karena sulitnya bersaing dengan kain printing massal. Mel menegaskan pentingnya dukungan nyata terhadap kain asli Nusantara. Selama kita terus membeli dan dukung wastra yang dibuat tangan, para perajin muda pasti akan terus berkembang dan tradisi akan terus hidup.
Harapan untuk Tanah Laut
Mel dan timnya kini berkomitmen untuk terus membina para perajin Tanah Laut. Mereka berencana mengembangkan koperasi lokal agar wastra Sasirangan dan kerajinan purun dapat diproduksi secara berkelanjutan. Tahun depan, Mel berharap bisa melihat Sasirangan Tanah Laut yang makin hidup dan berkembang.
Di tangan Mel Ahyar, Tanah Laut bukan sekadar letak geografis, tapi simbol kebangkitan kreativitas lokal. Sebuah pesan bahwa kecantikan Indonesia bukan hanya tentang rupa, tapi tentang warisan, daya cipta, dan semangat untuk terus hidup dalam setiap helai kainnya.
