Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma

9 Desember 2025 13:02 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma
Mandiri memang perlu. Namun, ketika kemandirian sudah berlebihan, ini bisa merugikan diri sendiri. Kenali karakteristik hyper-independence, Ladies.
kumparanWOMAN
Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma. Foto: Shutterstock/Littleaom
zoom-in-whitePerbesar
Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma. Foto: Shutterstock/Littleaom
Mandiri adalah sifat yang penting dimiliki seseorang dalam menjalani hidup. Namun, ketika kemandirian tersebut berlebihan, hal tersebut justru dapat merugikan dan berdampak negatif pada diri sendiri. Ini merupakan fenomena yang dikenal sebagai hyper-independence.
Hyper-independence, atau kemandirian berlebih, adalah fenomena bergantung pada diri sendiri secara ekstrem. Dengan karakteristik ini, seseorang akan memaksa dirinya melakukan semua hal seorang diri. Dia cenderung menolak menerima bantuan dan menghindari bergantung pada orang lain, bahkan di saat bantuan sangat diperlukan.
Kemandirian berlebih tidak muncul secara tiba-tiba. Menurut VeryWell Mind, karakteristik ini sering kali terbentuk sebagai respons terhadap trauma di masa lampau. Layaknya semua hal yang berlebihan, hyper-independence juga bisa berdampak buruk pada perempuan.

Ciri-ciri hyper-independence

Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma. Foto: David Gyung/Shutterstock
Salah satu ciri dari kemandirian berlebih adalah tendensi untuk mengerjakan semua kegiatan seorang diri. Namun, hyper-independence bukan sekadar soal tindakan fisik, tetapi juga perkara emosional dalam diri.

1. Ambisius berlebih

Seseorang dengan hyper-independence cenderung terlalu ambisius dalam mengejar tujuannya. Dilansir VeryWell Mind, dia akan berkomitmen dalam mengambil berbagai proyek dan mengerjakan tugas-tugas yang segunung. Namun, tak jarang, dia akan merasa kewalahan sendiri.

2. Kesulitan percaya dengan orang lain

Kesulitan mempercayai orang lain, baik itu secara personal maupun profesional, adalah karakteristik khas orang dengan hyper-independence. Akibat trauma di masa lalu, orang yang mandiri berlebih cenderung memiliki ketakutan akan dikecewakan. Itulah mengapa ia akan kesulitan mempercayai orang lain.
Dalam lanskap profesional, orang yang hyper-independent juga kesulitan untuk mendelegasikan tugas kepada orang lain. Dia khawatir rekan atau subordinatnya tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, sehingga dia memilih untuk menyelesaikan semua proyek seorang diri.

3. Terlalu waspada

Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma. Foto: Amnaj Khetsamtip/Shutterstock
Hyper-independence mendorong seseorang menjadi terlalu waspada, terutama dalam hubungan asmara. Trauma masa lalu memaksa mereka melindungi diri sendiri dari luka dan kekecewaan. Orang lain pun akan sulit untuk menghancurkan benteng tebal yang dibangun oleh si orang mandiri.

4. Menolak bantuan

Orang dengan hyper-independence cenderung menolak bantuan karena tidak ingin merasa lemah, tidak ingin bergantung dengan orang lain, takut dikecewakan, hingga takut dianggap tidak mampu atau kompeten.

Penyebab hyper-independence

Setiap orang memiliki cerita hidup dan trauma masing-masing. Namun, menurut Manhattan Mental Health Counseling, kejadian-kejadian traumatis berikut ini bisa mendorong seseorang menumbuhkan sikap hyper-independence.

1. Pengabaian oleh orang tua

Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma. Foto: Shutterstock
Pengabaian atau neglect di masa lalu bisa menyebabkan kemandirian berlebih. Pengalaman ini mungkin membuat seseorang merasa hanya bisa bergantung pada diri sendiri, karena dia tidak memiliki siapa pun untuk bersandar. Dilansir VeryWell Mind, dia mungkin merasa yakin bahwa tidak ada yang bisa membantunya, sehingga meminta pertolongan pun dirasa tak berguna.

2. Sering dianggap lemah

Seseorang yang selalu dianggap lemah mungkin bisa menumbuhkan sifat mandiri berlebih demi membuktikan diri sendiri. Selain itu, ada pula pola pengajaran yang menunjukkan bahwa meminta pertolongan adalah bentuk kelemahan. Oleh sebab itu, untuk menghindari dianggap lemah, seseorang akan menolak semua bantuan.

3. โ€œDidewasakanโ€ terlalu dini

Seseorang yang terpaksa menjadi โ€œdewasaโ€ terlalu dini, seperti mengemban tugas dan kewajiban berat sejak usia muda, punya kecenderungan menjadi terlalu mandiri saat memasuki usia dewasa.

Dampak buruk hyper-independence

Mengenal Hyper-Independence, Tendensi Jadi Terlalu Mandiri Akibat Trauma. Foto: Shutterstock
Kemandirian berlebih tidak hanya berdampak buruk pada diri sendiri, tetapi juga orang lain di sekitar. Apa saja dampaknya?

1. Stres atau burnout

Seseorang dengan hyper-independence cenderung mengalami stres atau burnout. Sebab, sering kali mereka mengemban tugas terlalu banyak tanpa bantuan dari orang lain. Agenda yang terlalu padat tanpa diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup bisa berujung pada tekanan berlebih pada mental dan fisik.

2. Hubungan terganggu

Hyper-independence bisa mengganggu hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, baik itu orang terdekat maupun rekan kerja. Dia akan cenderung menarik diri, menolak untuk terbuka, dan sulit untuk mempercayai orang lain. Orang di sekitar bisa jadi tersinggung atau kecewa karena merasa tidak dianggap atau dihargai.
Trending Now