Pelopor Pendidikan Perempuan, Rahmah El Yunusiyyah Dinobatkan Jadi Pahlawan
15 November 2025 14:45 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Pelopor Pendidikan Perempuan, Rahmah El Yunusiyyah Dinobatkan Jadi Pahlawan
Rahmah El Yunusiyyah resmi dinobatkan jadi Pahlawan Nasional pada Senin (10/11) lalu karena jasanya di bidang pendidikan. Penghargaan ini merupakan hasil penantian panjang setelah tiga kali ditolak. kumparanWOMAN

Selain Marsinah, ada satu perempuan lain yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto saat Hari Pahlawan pada Senin (10/11) lalu. Ia adalah Rahmah El Yunusiyyah. Perempuan asal Sumatera Barat yang memiliki jasa di bidang pendidikan islam bagi kaum perempuan.
Perjuangannya menebar ilmu di tengah penjajahan Belanda dan Jepang merupakan hal yang patut di apresiasi. Sayangnya, pengajuan namanya sebagai Pahlawan Nasional sempat ditolak tiga kalil.
Pertama, pada era Presiden Soeharto, Rahmah belum disetujui untuk menyandang gelar pahlawan. Kemudian, masa kepemimpinan Presiden B.J Habibie, ia baru mendapat Bintang Mahaputera Pratama.
Lalu, di bawah kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia masih belum ditetapkan sebagai seorang Pahlawan dan diberi penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana. Baru di tahun 2025 ini namanya resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.
Mendirikan sekolah islam khusus perempuan pertama di Indonesia dan Asia
Lahir pada 1900 di Padang Panjang. Saat kecil ia gemar belajar bersama kakaknya. Ia pun memiliki bekal lebih mengenai ilmu agama dan pengetahuan umum. Sehingga di usianya yang ke 23 tahun, ia mendirikan sekolah Islam perempuan bernama โPerguruan Diniyyah Puteri Padang Panjangโ pada 1 November 1923.
Sekolah islam khusus perempuan ini merupakan yang pertama di Indonesia dan kawasan Asia. Hingga kini, tempat pendidikan itu masih ada dan menghasilkan lulusan hebat. Salah satunya Nurhayati Subakat, pendiri Paragon.
Semasa itu, Rahmah menghadapi tekanan dari pemerintah Belanda yang melarang kegiatan pendidikan di luar kurikulum mereka. Akibatnya, Al-Qurโan dan kitab pelajaran Islam disita, dan pengajaran agama dilarang keras. Meski demikian, Rahmah tetap teguh melanjutkan pendidikan Islam bagi perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.
Membangun Batalyon Marapi, cikal bakal TNI di Ranah Minang
Selain berkontribusi di bidang pendidikan, Rahmah juga berkecimpung dalam perlawanan melawan penjajah. Saat Indonesia dikuasai Jepang, Rahmah menyelamatkan perempuan Minangkabau yang sempat diculik.
Ia juga mendirikan Batalyon Marapi, yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Ranah Minang. Oleh karena itu, namanya diajukan ulang terus menerus untuk menjadi seorang Pahlawan, sebab dirinya telah berdedikasi untuk tanah air.
Meski melewati penantian yang cukup panjang, tahun 2025 ini menjadi sebuah hadiah bagi Rahmah dan sekolah yang ia dirikan. Penyerahan gelar Pahlawan Nasional diwakili oleh Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan El Muhammady. Ia mengatakan Rahmah pantas menyandang gelar tersebut.
"Alhamdulillah kita bersyukur hari ini Bunda Rahmah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto," ungkap Fauziah dikutip dari Antara.
