Penjelasan Performative Male, Tren Ketika Laki-Laki Berpura-Pura Jadi Feminis?

12 Agustus 2025 14:41 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penjelasan Performative Male, Tren Ketika Laki-Laki Berpura-Pura Jadi Feminis?
Performative male hadir dalam beragam rupa. Namun, inti dari performative male ini sebetulnya satu: kepura-puraan demi menarik perhatian atau disukai perempuan.
kumparanWOMAN
Kolase ilustrasi kumpulan item yang dibawa performative male (Foto: Popmart, Pixabay, Getty Images, Billion Photos, corelens, Layer-Lab, TrueCreatives)
zoom-in-whitePerbesar
Kolase ilustrasi kumpulan item yang dibawa performative male (Foto: Popmart, Pixabay, Getty Images, Billion Photos, corelens, Layer-Lab, TrueCreatives)
Ladies, kamu sudah keep up dengan istilah trend terbaru belum, nih? Kalau di laman rekomendasi media sosialmu diisi dengan istilah performative male, kamu nggak perlu bingung.
Bayangkan kamu berkenalan dengan laki-laki yang tampak menyukai hal-hal yang biasanya digemari perempuan, seperti mendengarkan musik Clairo, mengoleksi Labubu, membaca karya feminis seperti tulisan Sylvia Plath, meminum matcha latte, memakai tote bag, dan hal-hal semacam itu. Bisa jadi ia melakukan itu cuma untuk menarik perhatian perempuan saja, Ladies, atau kini disebut: performative male.
Istilah performative male ini menambah daftar panjang kamus istilah trending baru di tahun 2025. Istilah ini juga semakin populer di Indonesia setelah diadakan Performative Male Contest di Taman Langsat, Jakarta.
Pada awalnya kontes tersebut diinisiasi dan diunggah oleh akun X @alergikiwi pada 29 Juli lalu dan pengumuman soal kontesnya saat ini telah mencapai angka 1,8 juta views.
Sebelum tren ini tiba di Indonesia, konten serupa sudah terlebih dahulu diadakan di Washington Square Park, Amerika Serikat pada 21 Juli dengan tayangan di akun TikTok @namyarfx mencapai 4,3 juta views.
Namun, tren performative male ini memiliki makna yang lebih luas dan menimbulkan perdebatan di kalangan warganet, Ladies. Jadi, sebetulnya apa sih performative male itu? Kenapa bisa muncul istilah yang menjadi tren ini?

Mengenali ciri-ciri performative male

Melansir Elle, performative male ini punya starter pack berupa earphone kabel, tote bag kanvas, boneka Labubu, matcha latte, kacamata, jaket denim, buku Atomic Habits karya James Clear, sampai album Typical of Me dari Laufey.
Namun, perlu dicatat bahwa setiap orang memiliki preferensi musik, minuman, fesyen, sampai bahan bacaannya masing-masing. Ada juga laki-laki yang memang gemar baca literatur feminis, minum matcha latte, koleksi Labubu, pakai tote bags, dan bersenandung lagu Laufey sehari-hari.
Mereka memang punya ketertarikan pada terapi, astrologi, dan keychains tanpa ada intensi untuk menarik perhatian lawan jenis. Preferensi orang tidak bisa dikotak-kotakkan berdasarkan gendernya, ya, Ladies.
Inti dari performative male ini sebetulnya satu: kepura-puraan demi menarik perhatian atau disukai perempuan. Garis bawahi kata kepura-puraan, ya.
Meskipun di tayangan-tayangan populer yang beredar di internet, performative male ditunjukkan memiliki soft boy aesthetics, performative male juga memiliki banyak “rupa”. Contohnya, performative male bisa hadir dalam bentuk laki-laki yang tampil skena dan suka mendengarkan musik-musik Hindia, jika tujuannya hanya untuk pencitraan.

Siapa yang pertama kali menciptakan istilah ini?

Istilah performative male terdiri dari dua suku kata, performative dan male.
Istilah performative atau performatif pertama kali diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang filsuf Inggris, di tahun 1950-an di dalam karyanya tentang teori tindak tutur. Istilah ini digunakan Austin untuk menggambarkan ujaran yang tidak hanya mendeskripsikan sesuatu, tetapi juga melakukan tindakan yang bisa diucapkan itu.
Misalnya, ketika kamu mengucapkan sumpah setia pada pasanganmu di altar pernikahan di depan penghulu dan saksi, maka ujaran kamu performatif. Karena janji untukmu setia akan diikuti dengan tindakan setia sepanjang pernikahanmu.
Contoh lainnya, kalau kamu mempunyai hewan peliharaan, lalu kamu mengatakan akan menamai ayam peliharaanmu Chiki, hewan itu jadi punya nama kan? Nah, ucapanmu itu performatif, karena kata-katamu mengubah kenyataan.
Dalam artikel jurnal Judith Butler yang diterbitkan oleh The Johns Hopkins University Press tahun 1988, kata performatif diadopsi dan diterapkan ke konsep gender. Menurut Butler, gender dibentuk melalui tindakan yang dilakukan berulang-ulang dan sesuai norma sosial-budaya.
Tapi, Ladies, istilah performative male ini berbeda dari istilah performative yang dipakai oleh Austin dan Butler. Saat ini, istilah itu makin sering digunakan untuk menyiratkan kepalsuan atau kepura-puraan yang dilakukan seseorang.
Seperti halnya dalam kamus Merriam-Webster, salah satu makna performative adalah sesuatu dibuat atau dilakukan hanya untuk pencitraan.
Lalu, dilansir Urban Dictionary—kamus daring yang berfokus pada istilah gaul atau slang—performative male pertama kali diunggah pengertiannya tanggal 14 Juli 2025. Seorang pengguna menulis performative male berarti subgenre dari "nice guys" yang terlalu berusaha keras untuk terlihat terhubung dengan sisi femininnya, atau berpura-pura menyukai hal-hal seperti K-Pop, tote bag, membaca, matcha, Laufey, dan sejenisnya demi meningkatkan popularitas mereka di mata perempuan.

Kenapa menuai perdebatan di kalangan warganet?

Seorang pengguna TikTok dengan nama akun @her.dragon.tattoo membagikan pandangannya melalui unggahan berjudul “IN DEFENSE OF PERFORMATIVE MEN”.
Can we not label men who drink matcha, wear aesthetically appealing clothes, and have tote bags, can we not label them as performative?” katanya dalam unggahannya.
Ia melanjutkan kalau ia suka melihat laki-laki melakukan hal-hal feminin dan menurutnya hal itu tidak performatif sama sekali. Ia juga mengatakan kebanyakan orang pun jadi performatif demi bisa dapat diterima masyarakat dan mencoba hal baru.
Seorang pengguna dengan nama akun @piyyanotes pun menuliskan pendapatnya di kolom komentar video tersebut.
“Menurutku, yang dimaksud dengan laki-laki performatif adalah laki-laki yang melakukan semua stereotip ini untuk disukai oleh perempuan, padahal mereka sendiri tidak menyukai hal-hal tersebut. Performative artinya mereka hanya melakukannya sebagai ‘pertunjukan’ untuk memenuhi pandangan perempuan,” tulisnya.
Namun, di akhir komentar pengguna @piyyanotes tersebut mengaku setuju, karena ia juga kurang suka tren performative male. Menurutnya, di luar sana ada laki-laki yang mungkin benar-benar suka hal-hal yang dianggap performatif itu.
Kalau menurut Ladies bagaimana? Kamu setuju nggak dengan istilah performative male?
Penulis: Zulfa Salman
Trending Now