Profil Sushila Karki, Perempuan Pertama yang Jadi Perdana Menteri Interim Nepal

14 September 2025 13:55 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Profil Sushila Karki, Perempuan Pertama yang Jadi Perdana Menteri Interim Nepal
Ini sosok Sushila Karki, perempuan pertama yang ditunjuk sebagai Perdana Menteri Nepal di masa transisi. Dia adalah mantan Ketua Mahkamah Agung yang tegas melawan korupsi.
kumparanWOMAN
Hakim di Nepal Sushila Karki. Foto: Prakash Mathema/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Hakim di Nepal Sushila Karki. Foto: Prakash Mathema/AFP
Usai terjadinya kerusuhan besar, mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal Sushila Karki ditunjuk sebagai Perdana Menteri sementara oleh Presiden Ramchandra Paudel. Sushila Karki pun menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan tersebut.
Dilansir Reuters, Sushila dilantik oleh Presiden Paudel pada Jumat (12/9). Sebagai PM interim, Sushila mengisi kekosongan jabatan usai eks Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri. Pengunduran diri Oli dilakukan usai demonstrasi besar yang dimotori oleh para Gen Z pecah di Ibu Kota Kathmandu.
Di bawah pemerintahan Sushila Karki, parlemen dibubarkan. Pemerintahan sementara juga telah menetapkan tanggal pemilihan umum (Pemilu) Nepal, yaitu pada 5 Maret 2026 mendatang. Sushila rencananya akan memilih para menteri untuk kabinetnya dalam beberapa hari mendatang.
Demonstran memegang bendera Nepal saat asap mengepul di kompleks Parlemen, Kathmandu, Nepal, Selasa (9/9/2025). Foto: Adnan Abidi/REUTERS
Sushila dipilih sebagai Perdana Menteri interim setelah Presiden Paudel dan Panglima Angkatan Darat Nepal, Jenderal Ashok Raj Sigdel, melangsungkan diskusi intensif bersama perwakilan para demonstran.
Uniknya, pemilihan Sushila sebagai calon PM sementara Nepal kabarnya dilakukan lewat platform Discord. Langkah itu dilakukan para Gen Z untuk mencari solusi atas situasi politik Nepal yang carut-marut usai demonstrasi besar-besaran sejak pekan lalu.
Dilansir Independent, kabarnya 145 ribu warga Nepal berkumpul di Discord untuk menggelar konvensi nasional versi digital untuk merundingkan calon PM sementara. Nama Sushila Karki pun disetujui warga. Setelahnya, barulah Sushila bertemu dengan presiden dan pimpinan militer, untuk kemudian dilantik pada Jumat (12/9).
Grafiti dan kerusakan menghiasi dinding Gedung Parlemen di Kathmandu, Nepal, Rabu (10/9/2025). Foto: Adnan Abidi/REUTERS
Demo Nepal sejak 8 September 2025 dipicu oleh pemblokiran media sosial oleh pemerintah. Selain itu, amarah rakyat juga dipicu oleh pemerintahan yang korup serta gaya hidup pejabat dan anak pejabat yang terlalu mewah, di saat banyak warga Nepal yang hidup susah dan kesulitan mencari kerja.
Demonstrasi ini berujung pada pembakaran gedung-gedung pemerintahan dan kematian 51 orang, terdiri dari demonstran, narapidana, dan anggota kepolisian.

Sosok Sushila Karki

PM Nepal yang baru dilantik, Sushila Karki (dua kiri) usai upacara pengambilan sumpah di Istana Presiden di Kathmandu, Kamis (12/9/2025). Foto: Sujan Gurung/AFP
Sushila Karki dikenal sebagai sosok yang konsisten dengan pendirian antikorupsi. Dia ditunjuk sebagai Ketua Mahkamah Agung Nepal pada 2016, menjadikannya perempuan pertama yang mengemban tugas tersebut.
Dikutip dari India Today, Sushila mengadili kasus-kasus besar dan sensitif selama masa jabatannya. Ini meliputi kasus korupsi oleh pejabat-pejabat high profile hingga undang-undang progresif terkait hak perempuan Nepal.
Sayangnya, belum satu tahun masa jabatan, Sushila menghadapi upaya pemakzulan oleh pemerintah. Koalisi parlemen Nepal mengajukan mosi pemakzulan terhadap Sushila atas dasar bias dan campur tangan kekuatan eksekutif. Namun, akibat diprotes rakyat, mosi pemakzulan ini dibatalkan. Sushila mundur sendiri dari jabatan Ketua MA pada 2017.
β€œDia menghadapi mosi pemakzulan, tetapi tidak pernah meninggalkan prinsipnya. Dia adalah pilihan yang sempurna untuk menangani krisis Nepal,” ucap pejabat Mahkamah Agung J.L. Bhandari kepada Reuters.
Presiden Nepal Ram Chandra Paudel (kiri) usai mengambil sumpah Perdana Menteri yang baru dilantik Sushila Karki dalam upacara pengambilan sumpah di Istana Presiden di Kathmandu, Kamis (12/9/2025). Foto: Sujan Gurung/AFP
Sushila lahir di sebuah desa di Shankarpur, Nepal, pada 7 Juni 1952. Dia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Dia menuntaskan studi magister jurusan Ilmu Politik di Banaras Hindu University India pada 1975 dan jurusan Hukum di Tribhuvan University Nepal pada 1978. Ia mulai aktif bekerja di bidang hukum pada 1979.
Pada 1990, dia bergabung dengan gerakan perlawanan terhadap Sistem Panchayat. Ini adalah sistem pemerintahan tersentralisasi yang mengkonsolidasi kekuasaan raja, kala Nepal masih berstatus sebagai negara monarki absolut. Suaminya, Durga Prasad Subedi, juga tergabung dalam gerakan yang sama.
Akibat partisipasinya, Sushila ditahan di Penjara Biratnagar. Pengalamannya menjadi tahanan ia tuangkan ke dalam buku bertajuk Kara yang terbit pada 2019. Dikutip dari OnlineKhabar, novel itu mengisahkan amarah, kesedihan, dan opresi yang dialami para narapidana perempuan.
Sejak belia, Sushila sudah aktif dalam mendukung kesetaraan dan keadilan. Ini diungkapkan oleh adik Sushila, Junu Dahal, pada 2016 lalu.
β€œBahkan, sejak masih kecil, Sushila telah memperlakukan semua orang sebagai sosok yang setara dan mendorong kita untuk bersekolah,” kata Junu, dikutip dari Reuters.
Trending Now