Role Model: Misi Amanda Hartanto Bikin Batik Tetap Relevan di Era Modern
9 September 2025 16:23 WIB
·
waktu baca 7 menit
Role Model: Misi Amanda Hartanto Bikin Batik Tetap Relevan di Era Modern
Sebagai desainer perempuan, Amanda Hartanto memiliki misi untuk melestarikan batik agar bisa dikenakan lintas generasi. Ia berusaha mewujudkan misinya melalui brand fashion miliknya, Amanda Hartanto.kumparanWOMAN

“Kami ingin membuat batik itu selalu diminati dan dicintai, terutama oleh generasi muda.” Kalimat ini disampaikan dengan sungguh-sungguh oleh Amanda Hartanto ketika kami jumpai dalam sesi pemotretan untuk program Role Model kumparanWOMAN.
Kesungguhan Amanda ini tercermin dari tiap koleksi Amanda Hartanto Batik yang ia rilis. Tiap busana yang ia kreasikan selalu dibuat menggunakan kain batik yang motifnya juga disesuaikan dengan tren. Begitu juga dengan model busananya yang tampak begitu modern. Ini ia lakukan untuk mencapai misinya, yaitu membuat batik tetap lestari dan dicintai lintas generasi.
Karena misi tersebut, Amanda Hartanto dipilih oleh kumparanWOMAN sebagai salah satu Role Model edisi Agustus ini. Sosoknya merepresentasikan bagaimana kecintaan pada budaya bisa diwujudkan lewat karya yang relevan dengan zaman.
Simak perbincangan kumparanWOMAN dengan Amanda Hartanto soal bagaimana awal mula Amanda jatuh hati dengan batik, caranya menghadapi tantangan dalam membangun bisnis fashion, hingga persahabatannya dengan Rizki Triana, Founder OE.
Boleh diceritakan bagaimana awal mula berkarier dan membangun Amanda Hartanto Batik (AHB)?
Amanda Hartanto (AH): Aku mulai berkarier setelah lulus kuliah pada tahun 2010. Saat itu, aku bekerja sebagai desainer batik di salah satu merek batik ternama di Jakarta, yaitu Parang Kencana.
Setelah dua tahun, aku pindah bekerja sebagai fashion stylist di Majalah Femina. Tak lama kemudian aku diterima sekolah S2 di ITB, jurusan Fashion Branding and Merchandising. Aku juga berkesempatan mengikuti pertukaran pelajar ke Bangkok.
Saat kuliah S2, aku belajar tentang branding and merchandising dan mulai mencoba membangun Amanda Hartanto Batik. Setelah lulus di 2013, aku baru memberanikan diri untuk serius memulai bisnis Amanda Hartanto Batik.
Apakah ada kenangan atau pengalaman tertentu yang bikin Amanda memutuskan fokus pada kain batik?
AH: Dulu aku sebenarnya tidak terlalu suka batik, sampai pelajaran batik di kuliah aku dapat nilai D. Tapi kemudian aku bertemu dengan pemilik Parang Kencana dan akhirnya terjun langsung.
Di sana aku mendapat kesempatan praktik kerja dan banyak pelajaran tentang batik. Seiring berjalannya waktu, aku jadi sangat mencintai teknik ini. Bahkan tesis dan skripsi aku keduanya mengeksplorasi teknik batik secara mendalam.
Teknik-tekniknya aku eksplorasi benar-benar, bukan hanya cap dan tulis, tapi banyak hal lainnya, termasuk teknik pewarnaannya. Dari eksplorasi itu, aku sadar, batik ternyata indah sekali.
Karena aku langsung terjun, membuat sendiri, dan mencoba sendiri, aku merasakan semuanya, baik yang gagal maupun yang berhasil. Rasanya campur aduk dan seperti sudah menyatu dengan batik, sehingga sulit berpindah ke kain lain.
Apa saja tantangan yang telah Amanda lalui dalam membangun bisnis fashion?
AH: Tantangannya tentu tak sedikit. Salah satunya soal banyaknya pesaing pada waktu itu, tapi ini justru membuat kami semakin termotivasi dan menjadikannya sebagai tantangan yang positif.
Selain itu, aku juga pernah ditipu karyawan hingga membuat aku terpuruk. Aku juga sempat depresi dulu, namun menurutku keterpurukan itu memang harus dirasakan, yang penting jangan lama-lama.
Selama masa sulit itu, aku juga beruntung dapat dukungan dari suami, dari sahabat, keluarga yang bikin aku akhirnya bisa kembali bangkit. Terutama anakku, karena dia aku bersemangat membangun AHB kembali.
Untuk bisa sampai di titik ini, prinsip apa saja yang Amanda terapkan?
AH: Prinsipnya satu, kita harus punya integritas. Kalau kita tidak punya integritas, sepertinya tidak mungkin kita bisa membangun brand yang kuat. Jadi, di mana pun kita berada, apa pun yang kita kerjakan, integritas adalah nomor satu.
Mengapa memilih batik sebagai brand identity untuk AHB?
AH: Karena menurut saya, tanpa diubah pun batik itu sudah mempunyai identitas yang kuat. Lalu kenapa sangat identik dengan Amanda Hartanto? Mungkin karena dari dulu saya pengin banget untuk bisa selalu melestarikan batik dan membuat batik bisa dicintai oleh banyak orang.
Nah, salah satu caranya adalah dengan konsisten menghadirkan batik sebagai fokus utama untuk Amanda Hartanto Batik. Sehingga nanti orang bisa tahu, ketika bicara soal brand aku, yang teringat, ya, batik.'
Menengok ke belakang, beberapa model dari koleksi AHB terlibat lebih modern. Apakah ini merupakan salah satu cara untuk membuat batik lebih diminati anak muda?
AH: Ya, betul. Dari dulu prinsip dari Amanda Hartanto Batik adalah membuat batik yang modern tanpa meninggalkan identitasnya. Jadi, bagaimana caranya kita bisa membuat batik itu selalu diminati dan dicintai, terutama untuk generasi muda. Sehingga semua kalangan itu mau memakai batik tanpa merasa batik itu kuno.
Dalam membuat koleksi, bagaimana Amanda mempertimbangkan pemilihan motif batik?
AH: Dari setiap koleksi, kita pasti mencari motif yang tidak terlalu pakem. Jadi, motif-motif tradisional kita gabungkan dengan motif modern. Seperti mengkombinasikan motif geometris, kembang, lung lungan, dan burung. Tujuannya supaya tercipta harmoni yang indah dan tetap bisa diterima oleh banyak orang.
Apakah Amanda juga melihat inspirasi dari tren mode global?
AH: Ya, pasti. Dalam dunia desain, tidak ada yang benar-benar original. Kita pasti mendapat pengaruh atau inspirasi dari orang-orang yang lebih berpengalaman atau lebih hebat dari kita. Dari situ, kita bisa belajar dan mengambil banyak inspirasi untuk dijadikan karya. Yang penting, terinspirasi boleh, tapi mensontek tidak boleh.
Bicara soal plagiarisme di dunia fashion, beberapa waktu lalu sepertinya batik AHB pernah ditiru brand lain. Bagaimana Anda menanggapi hal itu?
AH: Awalnya tentu ada rasa kesal, tapi seiring waktu kami memilih melihatnya dari sisi positif. Ketika karya ditiru, itu berarti kami bisa menginspirasi banyak orang.
Jadi, kami membiarkannya sambil tetap termotivasi menciptakan karya yang lebih baik. Untuk saat ini, kami sedang mengurus hak cipta dari karya-karya kami.
Biasanya seorang desainer ingin menguasai segala sesuatunya secara sempurna. Apakah Amanda termasuk tipe yang perfeksionis sebagai desainer?
AH: Itu benar. Jadi, kalau ada sedikit cacat, aku bisa minta dibuat ulang. Awalnya, mungkin tim yang bekerja denganku agak kaget, tapi lama-lama mereka memahami bahwa segala sesuatunya harus sempurna. Kalau ada kekurangan sedikit saja, tidak bisa langsung dikirim ke konsumen. Jika perlu dibuat ulang, pasti akan dibuat.
Tapi apakah sifat perfeksionis ini bikin Anda sering overthinking dalam proses desain dan menjalankan Amanda Hartanto Batik?
AH:Yes, of course. Dulu aku sangat-sangat perfeksionis, dan mudah sekali marah kalau sesuatu tidak sesuai harapan. Lama-lama aku menyadari kalau hal itu membuat energi jadi negatif.
Sampai akhirnya itu menumpuk dan membuat aku depresi. Apalagi aku orangnya tergolong introvert, jadi saat bertemu banyak orang, aku harus menahan diri di luar, tapi di dalam rasanya ingin berteriak.
Begitu juga keperfeksionisan aku itu juga mempengaruhi. Tapi setelah menyadari hal itu, perlahan-lahan aku mulai pulih. Aku menyadari bahwa kita tidak bisa selalu menginginkan semuanya sesuai kehendak sendiri.
Healing journey-nya pasti panjang, boleh diceritakan bagaimana proses Amanda untuk bisa ‘get back to yourself’?
AH:Healing journey aku sebenarnya lebih ke kontemplasi. Aku juga sekarang sering meditasi. Karena aku jarang berlibur, sebab bentrok dengan jadwal anak, suami, dan lain-lain.
Jadi lebih banyak healing melalui kontemplasi bersama diri sendiri dan Tuhan. Itu yang membantu aku tetap waras menghadapi kehidupan.
What’s next untuk Amanda Hartanto Batik?
AH: Saat ini aku benar-benar fokus healing dan menghindari acara-acara yang cukup besar.
Tapi untuk tahun depan, sudah ada beberapa kontrak yang menurutku cukup besar untuk Amanda Hartanto Batik. Jadi ditunggu saja, mudah-mudahan di tahun 2026 Amanda Hartanto Batik bisa bangkit lebih baik lagi.
Ada pesan pesan untuk perempuan muda yang ingin jadi desainer, membangun brand sendiri, atau terjun ke industri batik?
AH: Pesannya harus konsisten dan punya integritas. Kalau kita enggak konsisten, kita bisa ‘mati di tengah jalan’. Karena segala sesuatunya itu sangat sulit.
Tantangannya banyak sekali, terutama batik, yang merupakan bagian dari budaya yang harus kita lestarikan. Kalau kita tidak kuat, ya, sudah berhenti di tengah jalan. Jadi, dua hal yang harus diingat, punya integritas dan konsisten.
