Sosok Jane Goodall, Perempuan yang Membuka Mata Dunia tentang Simpanse
11 September 2025 18:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Sosok Jane Goodall, Perempuan yang Membuka Mata Dunia tentang Simpanse
Pandangan bahwa simpanse hanya makhluk liar tanpa emosi bisa diruntuhkan berkat Jane Goodall, sosok yang membuka mata dunia tentang simpanse.kumparanWOMAN

Sebelum dunia tahu bahwa simpanse memiliki kehidupan sosial, perilaku kompleks, dan cara berkomunikasi yang tidak jauh berbeda dengan manusia, banyak orang masih memandang simpanse sebagai makhluk liar tanpa kecerdasan dan emosi.
Pandangan itu bisa diruntuhkan berkat Jane Goodall, sosok perempuan inspiratif yang membuka mata dunia tentang simpanse dan mengubah cara sains memandang hubungan manusia dengan alam.
Siapa itu Jane Goodall?
Jane Goodall lahir pada 3 April 1934 di London, Inggris, dengan nama lengkap Valerie Jane Morris-Goodall. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap dunia hewan.
Mengutip The Guardian, Jane kecil yang saat itu berusia 4 tahun, pernah bersembunyi selama berjam-jam hanya untuk mengamati bagaimana ayam bertelur. Dari situlah tumbuh ketertarikannya yang mendalam terhadap perilaku hewan.
Seiring bertambahnya usia, kecintaannya pada hewan semakin kuat. Ia membaca banyak buku tentang petualangan, alam liar, dan kisah-kisah fiksi yang melibatkan satwa.
Dilansir Mongabay, salah satu inspirasinya datang dari kisah Tarzan of the Apes. Dalam imajinasinya, Jane bermimpi bisa hidup di Afrika. Ia pun menggenggam mimpi itu erat-erat hingga dewasa.
Meski tidak menempuh jalur akademis formal di bidang sains, mimpi besar Jane untuk pergi ke Afrika dan hidup bersama satwa liar tetap menyala terang.
Mimpinya sempat dianggap mustahil, apalagi di era 1950-an ketika dunia sains masih sangat didominasi laki-laki. Namun, Jane tidak menyerah. Setelah menempuh pendidikan sekretaris, ia sempat bekerja sebagai asisten hingga pramusaji, demi menabung untuk mewujudkan impiannya.
Kesempatan besar yang ditunggu-tunggunya pun datang ketika ia diundang oleh seorang teman untuk berkunjung ke Kenya pada tahun 1957. Di sana, ia bertemu dengan ahli paleoantropologi terkenal, Louis Leakey.
Terlepas dari latar belakangnya, Louis melihat bahwa Jane memiliki ketekunan, rasa ingin tahu, dan intuisi tajam yang jarang dimiliki oleh ilmuwan konvensional. Atas dasar itu, Louis mempercayakan Jane sebagai asistennya di museum sejarah alam dan memulai penelitian lapangan tentang simpanse di Afrika Timur.
Perjalanan Awal Jane Goodall di Dunia Hewan
Dilansir BBC, tahun 1960 menjadi titik balik dalam hidup Jane. Saat itu, berbekalkan rasa ingin tahu Jane yang berusia 26 tahun, menyeberangi Danau Tanganyika dan tiba di Gombe Stream Game Reserve di Tanzania.
Karena aturan kolonial saat itu mewajibkan adanya pendamping, ibunya ikut menemani Jane selama tiga bulan pertama.
Meski begitu, ketika Jane mulai masuk ke hutan sendirian, di situlah perjalanannya yang sebenarnya dimulai. Dengan sabar, ia mengamati simpanse dari kejauhan menggunakan teropong. Perlahan, ia mendekati mereka, duduk diam di sekitar pohon buah, dan menunggu hingga para simpanse merasa terbiasa dengan kehadirannya.
Pendekatan penuh kesabaran Jane menjadi kunci keberhasilannya. Para simpanse pun bisa menerima kehadirannya seiring waktu, hingga akhirnya Jane bisa duduk berjam-jam di tengah kelompok mereka.
Penemuan Jane Goodall tentang Perilaku Simpanse
Salah satu penemuan terbesar Jane adalah ketika ia melihat seekor simpanse jantan yang ia beri nama David Greybeard menggunakan ranting yang telah dimodifikasi untuk mengambil rayap dari sarangnya. Kala itu, membuat dan menggunakan alat dianggap sebagai ciri khas yang hanya dimiliki oleh Homo sapiens atau manusia.
Sebelumnya, banyak yang percaya bahwa simpanse hanya makan buah dan sayuran. Namun, Jane membuktikan bahwa mereka juga kerap berburu secara berkelompok dan bekerja sama untuk mendapatkan daging. Perilaku ini menunjukkan adanya komunikasi dan strategi yang kompleks di antara mereka.
Dari pengamatan panjangnya, Jane menemukan bahwa simpanse pun memiliki ikatan keluarga yang kuat, pola asuh kolektif, serta hierarki sosial. Para jantan akan menjaga wilayah mereka bersama-sama, sementara betina bisa bebas memilih pasangan atau kadang "dibawa" oleh pejantan tertentu. Setiap individu juga memiliki kepribadian unik, dari yang lembut sampai agresif, selayaknya manusia.
Jane juga mendapatkan bahwa simpanse bisa sangat agresif, bahkan melakukan "perang" antarkelompok dan pembunuhan.
Melansir BBC, Jane semakin dikenal publik ketika hasil jepretan suaminya, fotografer Hugo van Lawick, yang berisi gambar Jane meraih tangan bayi simpanse bernama Flint dimuat di majalah National Geographic pada 1965. Foto tersebut fenomenal karena pose Jane dan Flint yang tertangkap kamera terlihat seperti adegan karya seni Michelangelo yang berjudul βThe Creation of Adamβ.
Di mana Jane Goodall sekarang?
Sejak tahun 1980-an, Jane mulai mengalihkan fokusnya pada advokasi lingkungan. Ia mendirikan Jane Goodall Institute, yang berkomitmen pada konservasi, perlindungan habitat, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Ia juga meluncurkan program Roots & Shoots, yang menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja di seluruh dunia untuk peduli pada lingkungan dan satwa liar.
Kini, meski usianya sudah melewati 90 tahun, Jane masih aktif berbicara di forum internasional, menyebarkan pesan tentang pentingnya menjaga bumi.
Penulis: Zulfa Salman
