Studi 4 Perempuan Peneliti yang Raih Pendanaan Riset L’Oréal-UNESCO FWIS 2025

13 November 2025 20:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Studi 4 Perempuan Peneliti yang Raih Pendanaan Riset L’Oréal-UNESCO FWIS 2025
L’Oréal–UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan dana riset kepada empat perempuan peneliti Indonesia. Penelitian mereka dipilih karena mampu memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.
kumparanWOMAN
L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Dok. L'Oreal
zoom-in-whitePerbesar
L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Dok. L'Oreal
Tahun ini, L’Oréal dan UNESCO kembali menganugerahkan fellowship kepada empat perempuan peneliti di Indonesia. Lewat program L’Oréal–UNESCO For Women In Science National Fellowship Program 2025, para ilmuwan berprestasi ini akan memperoleh dukungan dalam menjalani penelitian yang berdaya guna bagi masyarakat.
L’Oréal–UNESCO For Women In Science merupakan program dukungan tahunan kepada para ilmuwan perempuan di Indonesia. Sudah berlangsung selama 22 tahun, program ini telah memberikan bantuan kepada 79 peneliti berupa dana penelitian dan potensi berjejaring dengan komunitas ilmuwan dunia.
Tahun ini, empat perempuan awardee FWIS adalah Dr. Maria Apriliani Gani, dosen dan peneliti dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung; Dr.rer.nat Lutviasari Nuraini, Peneliti di Pusat Riset Metalurgi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa Bali; dan Helen Julia, Ph.D, Dosen Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung.
Tahun ini, para awardee FWIS 2025 masing-masing mendapatkan total dukungan pendanaan riset senilai Rp 400 juta. Mereka juga berkesempatan untuk berjejaring dengan komunitas perempuan peneliti terbesar di dunia, Ladies.
L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Judith Aura/kumparan
Menurut Ketua Dewan Juri FWIS 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, MD., Ph.D., program fellowship tahun ini merupakan yang terbesar selama lima tahun terakhir. Jumlah pendaftarnya mencapai 150 tahun, tersebar dari Indonesia bagian barat sampai timur.
“For Women In Science sangat prestisius. 150 pendaftar tahun ini membuatnya sangat spesial, terbesar dalam lima tahun terakhir. Selain kebermanfaatan bagi bangsa, para perempuan terpilih juga menunjukkan prestasi dan kemampuan kolaborasi. Penelitian hampir mustahil terealisasi tanpa kemampuan kolaborasi,” ucap Herawati di acara Awarding Ceremony di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11).

Penelitian para empat awardee L’Oréal–UNESCO FWIS 2025

L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Judith Aura/kumparan
Setelah melewati seleksi ketat, proposal penelitian empat awardee ini berhasil keluar sebagai juara. Menurut Herawati, dewan juri L’Oréal FWIS 2025 mempertimbangkan aspek kebaruan, track record para peneliti, serta potensi dampak dari penelitian yang dilakukan.
Seperti apa penelitian empat ilmuwan perempuan ini, Ladies? Intip penjelasan yang telah kumparanWOMAN rangkum berikut ini, Ladies!

1. Dr. Maria Apriliani Gani

L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Dok. L'Oreal
Dosen dan peneliti di Sekolah Farmasi ITB ini mengajukan penelitian berjudul “Pengembangan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal”. Saat diwawancarai kumparanWOMAN, Maria menjelaskan bahwa penelitian ini dia lakukan karena melihat sebagian besar dari penderita pengeroposan tulang adalah perempuan. Pada 2050 mendatang, diperkirakan sepertiga populasi Indonesia berisiko alami osteoporosis.
Maria pun mengembangkan model pengujian obat dengan metode kultur yang dua sel yang meniru kondisi osteoporosis. Pengujian ini memungkinkan skrining kandidat obat osteoporosis yang animal cruelty-free alias tanpa uji pada hewan. Ia juga meneliti potensi tanaman herbal Indonesia, yaitu jahe dan daun kelor.

2. Dr.rer.nat Lutviasari Nuraini

L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Dok. L'Oreal
Penelitian Lutviasari, bertajuk “Material implan mampu luruh berbasis paduan magnesium untuk regenerasi tulang”, berangkat dari kondisi di mana jutaan orang membutuhkan implan tulang untuk mengatasi patah atau cedera tulang.
Bersama peneliti BRIN dan akademisi universitas, Lutviasari mengembangkan material paduan Magnesium–Zinc–Rare Earth Element (Mg–Zn–ND) untuk aplikasi implan mampu luruh yang bisa terurai secara alami setelah tulang pulih. Penelitian ini dilakukan untuk mencari solusi atas sifat logam magnesium—bahan implan tulang—yang cenderung mudah terkorosi dan berpotensi menyebabkan ketidakstabilan dalam proses penyembuhan tulang.

3. Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D

L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Dok. L'Oreal
Beragam jenis penyakit infeksi virus dibawa dan disebarkan oleh nyamuk. Melihat masalah ini, Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa ini mengembangkan penelitian berjudul “Terapi mRNA antivirus spektrum luas untuk penyakit yang ditularkan oleh nyamuk”.
Ia mengembangkan terapi berbasis mRNA yang dirancang sebagai antivirus bersifat spektrum luas. Terapi ini harapannya dapat menargetkan berbagai jenis virus yang dibawa oleh nyamuk, termasuk virus dengue. Dalam melakukan penelitian ini, Dewi berkolaborasi dengan University of California Davis. Studi ini pun punya potensi menjadi terobosan besar dalam pengendalian penyakit infeksi tropis.

4. Helen Julia, Ph.D

L'Oreal-UNESCO For Women In Science 2025 menganugerahkan bantuan pendanaan riset untuk empat perempuan peneliti Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Foto: Dok. L'Oreal
Limbah pabrik kelapa sawit menjadi salah satu limbah dengan jumlah terbesar di Indonesia. Agar memiliki kebermanfaatan dalam aspek ekonomi, Helen melakukan penelitian bertajuk “Teknologi pengolahan limbah kelapa sawit menjadi sumber daya bernilai tinggi”.
Dosen program studi Teknik Kimia dan Teknik Pangan di FTI ITB ini pun mengembangkan sistem Membrane Photobioreactor–Nanofiltration (MPBR–NF) untuk mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit. Lewat teknologi ini, mikroalga memanfaatkan senyawa dalam air limbah untuk tumbuh. Ini akan menghasilkan biomassa yang bisa diubah menjadi produk bermanfaat seperti bioenergi dan bahan pangan.
Trending Now