The Real Miranda Priestly: Para Pemimpin Redaksi Media Mode di Dunia Nyata

29 November 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
The Real Miranda Priestly: Para Pemimpin Redaksi Media Mode di Dunia Nyata
Tiga perempuan pemimpin redaksi media fesyen: Lindsay Peoples, Chioma Nnadi, dan Penny Martin, turut menjadi figur kunci dalam membentuk perspektif baru pada industri mode.
kumparanWOMAN
Tiga perempuan pemimpin redaksi media fesyen dunia: Chioma Nnadi, Penny Martin, dan Lindsay Peoples.
zoom-in-whitePerbesar
Tiga perempuan pemimpin redaksi media fesyen dunia: Chioma Nnadi, Penny Martin, dan Lindsay Peoples.
Film The Devil Wears Prada 2 baru saja merilis teaser resminya. Kemunculan kembali karakter Miranda Priestly, yang kerap dikaitkan dengan Anna Wintour, kembali membuka percakapan tentang figur-figur nyata yang memimpin pemberitaan mode di tingkat global.
Banyak yang kemudian menyoroti perempuan pemimpin redaksi yang memegang peranan besar dalam membentuk arah industri ini. Di antara nama yang menonjol adalah Lindsay Peoples dari The Cut, Chioma Nnadi dari British Vogue, dan Penny Martin dari The Gentlewoman.
Ketiganya dikenal berpengaruh dalam membawa perspektif baru sekaligus menjaga relevansi media yang mereka pimpin. Melalui kiprah mereka, tampak bagaimana media fashion terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan pembacanya.

Lindsay Peoples, The Cut

Ia adalah penulis artikel Everywhere and Nowhere: What It's Really Like to Be Black and Work in Fashion yang terbit pada 2018 di New York Magazine. Artikel yang menguliti isu rasisme di dalam industri mode AS, berisi kesaksian seratus pekerja industri dan figur publik berkulit hitam.
Artikel ini tak hanya jadi artefak, ia bermuara kepada pendirian Black in Fashion Council yang diinisiasi oleh Lindsay bersama rekannya Sandrine Charles, sebuah organisasi yang bertujuan meluaskan visibilitas dan peluang bisnis para desainer kulit hitam. Ia kemudian diangkat sebagai pemimpin redaksi Teen Vogue pada 2018, dan berhasil mentransformasinya menjadi media remaja yang melek isu politik dan sosial.
Pada 2021, ia didaulat sebagai pemimpin redaksi The Cut. Empat tahun berjalan, Lindsay menyatakan kepuasannya, “Kami tidak hanya membahas mode, tapi kami juga menulis tentang politik, relationship, masalah keuangan. Kami membahas perempuan dan semua hal yang mereka tangani.”
Kepedulian komprehensif Lindsay terhadap media dan para pembacanya, diungkapkannya mengenai masa depan majalah, “Saya ingin versi cetak
The Cut tampil mewah: ukuran besar, kertas berkualitas, logo berkilat. Saat ini fokus dan atensi adalah ‘mata uang’, dan kita ingin orang duduk dan membaca, terhubung.”
Inspirasi gaya: Pembelian label mode papan atas perdananya adalah sebuah tas Prada, seharga gaji satu bulannya saat itu. “Karena saya menghargai kualitas karya semua produk mereka.” Ia penggemar berat JW Anderson, “Saya tak keberatan bayar mahal untuk semua kreasinya.”
Dua koleksi desainer kulit hitam yang terakhir dikenakannya adalah Diotima karya Rachel Scott dan Laquan Smith.

Chioma Nnadi, British Vogue

The Devil Wears Sambas, tulis sebaris tajuk saat pemakai setia Adidas Samba ini ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Vogue Inggris pada pertengahan 2023. Lahir di London dari ibu asal Swiss dan ayah keturunan Nigeria, is mengawali babak profesionalnya sebagai jurnalis di harian The Evening Standard dan media musik The Fader.
Paska London, karir jurnalisme modenya berlangsung di US Vogue selama empat belas tahun, di bawah kepemimpinan Anna Wintour.
Untuk sampul perdananya selaku pemimpin redaksi, ia memilih FKA Twigs, “Ia pas mewakili keeksentrikan Inggris modern.” Tentang membalut kekinian pada industri mode, Chioma menekankan pentingnya menyeimbangkan antara mimpi dan realitas, “Kita berada di dalam zaman saat mode yang hanya berperan sebagai mimpi sudah tak lagi masuk akal.”
Sementara mengenai jurnalisme mode modern yang berlangsung di media sosial, ia menyatakan bahwa beragam suara yang timbul menyehatkan industri mode.
Inspirasi gaya: Ia tak hanya mengoleksi Adidas Samba dan koleksi vintage, tapi juga denim dari Junya Watanabe. Para perancang Inggris favoritnya adalah Martine Rose, Wales Bonner, dan Simone Rocha.
“Kalau saya bisa ‘merampok’ isi lemari seseorang, jawabannya adalah paduan isi lemari Fela Kuti dan Miuccia Prada.”

Penny Martin, The Gentlewoman

Penny Martin, editor in chief of The Gentlewoman. Foto: Instagram @miumiu
Majalah yang terbit dua kali setahun ini konsisten menampilkan para figur perempuan sebagai subyek utama dalam ruang cerita mereka, “para perempuan yang tampak, terdengar dan bergaya layaknya di dunia nyata”. Sejak kelahirannya pada 2009, adalah tugas Penny untuk terus menggawangi konsep ini.
Lahir di Glasgow, Skotlandia, dari ibu seorang guru seni dan ayah musisi, Penny tumbuh besar bersama buku-buku seni sang ibu dan majalah musik Thrasher. “Saya sudah tujuh belas tahun saat pertama kali membaca Vogue,” kisah Penny.
Setelah berkarier sebagai kurator bagi Women’s Library di London School of Economics, lalu tujuh tahun sebagai editor situs SHOWstudio, pada 2009 Penny menerima pinangan kedua pendiri untuk memimpin The Gentlewoman. Kini, majalah asuhannya tegak sebagai media yang amat dihormati.
Satu hal lagi yang khas, majalah ini tidak menabukan perempuan berusia lima puluh tahunan ke atas sebagai figur sampulnya. Beberapa di antaranya adalah Chaka Khan, Vivienne Westwood dan Agnès Varda.
Setelah 16 tahun di The Gentlewoman, apa pendapatnya tentang mode sebagai industri?
Inspirasi gaya: Gaya pribadinya santun dan intelek, kemeja dan kaus putih, kaus leher kura-kura warna senyap, celana hitam atau navy blue. Tahun lalu, label Arket menggandeng Penny untuk meluncurkan koleksi kolaborasi, “Ketika seseorang memiliki ‘seragam’ yang melampaui kode gaya pada umumnya, di situlah gaya pribadi tercipta,” tegasnya. Figur sampul perdananya di edisi musim semi panas 2010 adalah Phoebe Philo.
“Stempel seorang perempuan yang akan sangat terhubung dengan diksi estetika kita.”

Penulis: Rifina Marie

Trending Now