UN Women: 99 Persen Perempuan Jadi Sasaran Kekerasan Seksual karena AI

26 November 2025 19:23 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
UN Women: 99 Persen Perempuan Jadi Sasaran Kekerasan Seksual karena AI
Meski kehadirannya banyak memudahkan kita dalam melakukan aktivitas, namun teknologi Artificial Intelligence (AI) juga berpotensi membuka peluang bagi orang untuk melakukan kekerasan seksual.
kumparanWOMAN
Ilustrasi perempuan jadi korban kekerasan seksual siber berbasis gender. Foto: Pheelings media/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan jadi korban kekerasan seksual siber berbasis gender. Foto: Pheelings media/Shutterstock
Kecanggihan teknologi terus berkembang membersamai langkah kehidupan. Meski hal ini memberikan dampak positif, tapi tidak dapat dipungkiri kejahatan cyber juga turut bertambah, terutama di era kecerdasan buatan atau AI.
Salah satu kejahatan yang banyak terjadi adalah kekerasan atau pelecehan seksual secara digital melalui deepfake pornografi. Deepfake adalah konten digital berupa video, audio, atau gambar yang dimanipulasi menggunakan kecerdasan buatan. Bahkan dari data UN Women menyebutkan bahwa 99 persen perempuan menjadi target deepfake.
โ€œDeepfake semakin meluas dan dominan menargetkan perempuan. Dengan jumlah total video deepfake online di 2023 adalah 550 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2019, 98 persen dari video deepfake yang beredar online adalah pornografi deepfake, dan 99 persen individu yang ditargetkan adalah perempuan.โ€ ujar Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia.
Sedangkan pada 2024, UN Women menyebutkan 16 hingga 58 persen perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia melaporkan mengalami kekerasan seksual atau pelecehan daring. Dwi pun menjelaskan bahwa Kekerasan di ruang online dapat berlanjut ke ruang offline dengan berbagai cara, termasuk pengendalian yang bersifat memaksa, pengawasan, penguntitan, dan kekerasan fisik.
โ€œAI menciptakan bentuk-bentuk kekerasan yang baru sekaligus memperparah kekerasan yang sudah ada,โ€ ungkapnya.

Langkah UN Women untuk mengatasi kekerasan digital

Ilustrasi deepfake. Foto: Shutterstock
Oleh karena itu, sebagai badan PBB untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, UN Women memastikan perempuan dapat ruang aman di media sosial. Sehingga mereka bisa bebas berekspresi tanpa takut akan kekerasan seksual.
Dwi menjelaskan, UN Women melakukan pemberdayaan perempuan dengan literasi AI kepada 439 perempuan. Mereka mendapat pengetahuan tentang AI dan penerapannya ke dunia kerja, serta kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini UN Women berharap perempuan bisa lebih peka terhadap kekerasan daring.

Apa yang perlu dilakukan ketika menjadi korban deepfake pornografi?

Ilustrasi perempuan jadi korban kekerasan seksual siber berbasis gender. Foto: TheVisualsYouNeed/Shutterstock
Ladies, jika kamu mengalami atau melihat perempuan lain menjadi korban deepfake pronografi, ada beberapa hal yang bisa segera kamu lakukan. Berikut ini detailnya:
1. Laporkan pengunggah konten: Setiap konten yang diunggah di media sosial dapat dilaporkan di aplikasi tersebut. Jadi segera laporkan dan minta bantuan orang-orang terdekat kamu untuk melakukan hal yang sama.
2. Simpan bukti: Jangan lupa untuk menyimpan bukti unggahan konten tersebut. Meski menyakitkan, tapi hal ini bisa memudahkan kamu ketika melaporkan kasus tersebut ke pihak yang berwajib.
3. Ceritakan kepada orang yang kamu percaya: Jangan pilih diam, kamu bisa ceritakan hal ini kepada seseorang yang kamu percayai. Mulai dari keluarga hingga teman terdekat. Jika cukup berani dan sudah kuat, kamu juga bisa membagikan pengalaman kamu di media sosial untuk menyebarkan awareness dan membantu sesama perempuan.
4. Cari bantuan: Terakhir kamu bisa menghubungi bantuan dari hotline KemenPPPA (SAPA 129), Komnas Perempuan (08111129129), atau LBH APIK (hotline 0813-8882-2669) untuk melaporkan dan mendapatkan bantuan ketika kamu mengalami kekerasan seksual.
Trending Now