Usai Baca Memoar Broken Strings, Andien Curhat Pernah Alami Abusive Relationship

16 Januari 2026 20:18 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Usai Baca Memoar Broken Strings, Andien Curhat Pernah Alami Abusive Relationship
Lewat unggahan di akun X pribadinya, Andien mengatakan teringat pada kekerasan dalam hubungan yang pernah dialaminya setelah membaca buku memoar “Broken Strings” karya Aurélie Moeremans.
kumparanWOMAN
Andien saat foto untuk MMMI 2020. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Andien saat foto untuk MMMI 2020. Foto: kumparan
Penyanyi Andien jadi salah satu dari sekian banyak orang yang turut membaca buku memoar “Broken Strings” karya Aurélie Moeremans. Usai membaca kisah tersebut, Andien pun curhat bahwa ia juga pernah alami kekerasan dalam hubungan pacaran.
Lewat unggahan di akun X pribadinya pada Senin (12/1) ia mengatakan pernah dibuat pesimis untuk mendapat pasangan yang baik karena latar belakang keluarga yang tidak sempurna.

Andien ungkap pernah alami abusive relationship

Pada 2022 lalu, pelantun lagu Gemintang itu bercerita pernah mengalami abusive relationship. Ia bahkan mengalami sejumlah kekerasan dari kekasihnya saat itu. Pelantun lagu Gemintang itu mencoba mengakhiri hubungan, tapi kembali luluh saat pasangan meminta maaf dan memohon melanjutkan hubungan.
Namun, permintaan maaf itu hanyalah janji manis semata. Andien mengatakan pola kekerasan terus berulang hingga 9 bulan lamanya.
“Setelah gue balikan, dia ngulangin hal yang sama. Lalu gue putusin lagi. Abis itu dia nangis-nangis lagi, mohon-mohon sampe gue kasihan…Terus gue luluh lagi. Begitu aja terus selama 9 bulan isinya kekerasan,” tulisnya.
Pasangan Andien saat itu dapat dikatakan melakukan manipulasi emosional karena sengaja memainkan perasaan iba dan kasihan. Melalui tangisan dan permohonan maaf, pelaku menciptakan tekanan emosional yang membuat Andien merasa bersalah jika mengakhiri hubungan. Akibatnya, ia kembali luluh dan memilih melanjutkan hubungan tersebut.

Kenapa individu bisa berperilaku manipulatif?

Ilustrasi perempuan terjebak abusive relationship. Foto: Tirachard Kumtanom/Shutterstock
Gita Aulia, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta mengatakan perilaku ini tidak muncul begitu saja. Laki-laki yang memiliki kepribadian manipulatif umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Kebutuhan kontrol yang tinggi

Seseorang yang berperilaku manipulatif merasa tidak aman atau takut ditinggalkan oleh pasangannya.

2. Harga diri yang rapuh

Untuk merasa berharga seseorang merasa dirinya perlu mendominasi pasangan dengan mengambil kontrol diri atas pasangan mereka.

3. Pengalaman relasi masa lalu yang disfungsional

Kepribadian manipulatif bisa dapat tumbuh dari lingkungan keluarga yang penuh konflik atau relasi tidak setara.

Alasan perempuan bertahan dengan laki-laki manipulatif

Ilustrasi pasangan bertengkar. Foto: Kmpzzz/shutterstock
Gita mengatakan perempuan yang bertahan di hubungan manipulatif sering disalahkan. Padahal menurutnya seseorang yang memilih keputusan tersebut bukan berarti lemah. Terdapat beberapa alasan yang memengaruhi hal tersebut:

1. Ikatan emosional yang kuat

Hubungan manipulatif sering diawali dengan perhatian berlebihan dan romantisasi yang intens, sehingga sulit untuk melepaskan diri.

2. Memiliki harapan pasangan dapat berubah

Banyak perempuan memilih bertahan karena percaya pasangannya akan berubah sesuai janji yang diucapkan.

3. Memiliki rasa bersalah dan keraguan

Pasangan manipulatif kerap melakukan gaslighting, membuat korban merasa bersalah dan meragukan dirinya sendiri.

Cara keluar dari zona manipulasi

Ilustrasi pasangan bertengkar atau berdebat. Foto: Shutterstock
“Keluar dari hubungan manipulatif adalah proses psikologis, bukan keputusan instan,” ujar Gita. Namun, terdapat beberapa cara untuk terbebas dari hubungan manipulatif. Berikut saran dari Gita:

1. Validasi perasaan diri sendiri

Sadari rasa lelah yang dirasakan saat menjalani hubungan. Timbang baik buruknya untuk kebahagiaan diri sendiri.

2. Membangun batasan pribadi (boundaries)

Ketika hubungan sudah tidak sehat, korban perlu membatasi komunikasi secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan emosional.

3. Mencari dukungan

Dukungan dari orang terpercaya seperti teman, keluarga, atau tenaga profesional sangat penting untuk membantu keluar dari hubungan manipulatif.
Trending Now