Warna-warni Wastra Nusantara di Plaza Indonesia Fashion Week
12 Oktober 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Warna-warni Wastra Nusantara di Plaza Indonesia Fashion Week
Ini kompilasi tujuh brand fashion lokal yang menghadirkan rancangan wastra atau kain tradisional di panggung Plaza Indonesia Fashion Week.kumparanWOMAN

Wastra, atau kain tradisional Indonesia, bukan lagi selembar kain yang dipakai di upacara tradisional belaka. Berkat kontribusi para desainer, jenama, sampai penikmat mode di Tanah Air, wastra kini merasuki hati dan menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari.
Hilanglah masa-masa meragu untuk berkain. Para perancang mode kian ekspresif dalam mengkreasikan wastra, dari batik hingga tenun, menjadikannya karya seni tekstil yang mengikat minat berbagai kalangan, termasuk anak muda.
Ragam peragaan busana, termasuk Plaza Indonesia Fashion Week, menjadi panggung para desainer dan brand untuk menampilkan kreasi wastra mereka; seraya mengajak khalayak semakin jatuh cinta.
Plaza Indonesia Fashion Week digelar pada 28 September–5 Oktober 2025 lalu. Puluhan jenama, dengan seluruh identitas mode dan sulapan siluet masing-masing, sukses memukau para para penonton di area Warehouse. Salah satu yang tak bisa dilewatkan tentunya adalah deretan fashion show yang menghadirkan kain-kain tradisional di atas runway.
Satu koleksi dengan lainnya memiliki napas berbeda. Sentuhan tangan unik para desainer dan buah pikir yang sarat akan kreativitas menciptakan pentas seni wastra yang apik. Ini, sekali lagi, menegaskan bahwa wastra bisa dijahit menjadi apa saja, dipadukan dengan apa pun, dan dikenakan di situasi mana pun.
Simak deretan jenama fashion yang menghadirkan warna-warni wastra Nusantara di panggung Plaza Indonesia Fashion Week, sebagaimana dirangkum oleh kumparanWOMAN.
1. BINhouse
“Saya ingin bikin sesuatu yang fun. Ini adalah hidup, saya ingin sesuatu yang hidup,” papar Obin, desainer senior di balik jenama BINhouse, ketika diwawancarai selepas show di hari ketiga, Selasa (30/9).
Tante Obin, demikian biasa disapa, menjelaskan bahwa dia sedang tak ingin melakukan peragaan busana yang serius. Usai membaca daftar nama model yang akan melenggang di runway, kemudian menatap kain batik dan deretan busana yang dirancang, Tante Obin mendarat di satu kesimpulan, yaitu semuanya bergoyang. Maka, lahirlah judul untuk fashion show tersebut: Lenggak Lenggok.
Koleksi Lenggak Lenggok BINhouse menghadirkan puluhan busana yang menyulap kain batik dan lurik menjadi pasangan mesra berbagai atasan. Dari busana khas Indonesia, seperti kebaya dan beskap, hingga artikel pakaian lainnya seperti blus dan tunik. Pemilihan warna wastra dan atasannya beragam, dari merah cerah dan kuning terang sampai warna netral seperti hitam, cokelat, krem, dan putih.
Uniknya lagi? Para model tidak melakukan catwalk yang anggun. Mereka justru berjoget riang mengikuti alunan musik, salah satunya lagu Garam & Madu oleh Tenxi dan Naykilla, mengajak para penonton untuk tidak malu bergoyang bersama. Istilah jaga image atau jaim tak lagi jadi slogan; inilah waktunya berlenggak-lenggok.
2. KRATON by Auguste Soesastro
Terinspirasi dari magis Pulau Dewata, desainer di balik KRATON, Auguste Soesastro, menunjukkan bahwa sarung tenun tangan Bali bisa dikenakan di berbagai situasi.
Dari busana smart casual di siang hari, evening wear, sampai busana formal, koleksi bertajuk “Archipelago Cruise” merupakan perpaduan antara kain tradisional Bali dan gaya fesyen Barat berkelas high-end. Dalam keterangan resminya, KRATON menjelaskan bahwa koleksi ini adalah refleksi dari dua realita gaya hidup Bali yang sangat berkontras. Sangat berbeda, tapi eksis di bawah satu payung.
Material yang digunakan secara spesifik dipilih untuk cuaca tropis, seperti silk dan linen yang ringan, tanpa menghilangkan nuansa elegan. Warna netral seperti putih, abu, dan krem pun membersamai koleksi ini.
3. IKAT Indonesia by Didiet Maulana
Lewat koleksi bertajuk “The Isle of Reverie”, desainer Didiet Maulana menghadirkan ragam motif tenun yang disulap ke dalam berbagai siluet baju. IKAT Indonesia memamerkan 30 tampilan yang terdiri dari 22 busana perempuan dan delapan busana laki-laki dengan perpaduan gaya tradisional dan modern, mulai dari beskap tenun, dress berlapis, blazer, hingga beragam siluet rok.
Keindahan alam Indonesia diangkat dalam koleksi ini lewat pemilihan warna-warna bumi yang hangat, seperti terracotta, maroon, serta cokelat. Didiet juga memberdayakan para perajin lokal dengan menghadirkan aksesori karya mereka di atas runway.
“Koleksi hari ini sebenarnya adalah campur sari dalam arti kita terinspirasi dari berbagai budaya di Indonesia. Karena Indonesia penuh dengan keberagaman, this is the time for us untuk saling bersatu, menyatu,” ucap Didiet saat diwawancarai kumparanWOMAN.
4. Julianto for Iwan Tirta Private Collection
Pencinta batik tentunya sudah tidak asing dengan jenama legendaris Iwan Tirta Private Collection. Untuk koleksi di PIFW ini, Iwan Tirta bergandengan tangan dengan desainer Julianto dalam merancang koleksi bertajuk “Jagad Rasa”.
Sembari mempertahankan kekhasan motif batik Iwan Tirta yang besar dan prominen, Julianto menghadirkan siluet busana formal dan evening wear yang sarat dengan nuansa kontemporer; ciri khas Julianto. Dari blus berdetail intricate, kemeja pria dengan twist di berbagai sisi, sampai gaun mewah yang mempesona, seluruh artikel pakaian dalam koleksi ini dirancang di atas kain batik.
“Pattern di balik koleksi ini adalah Batik Slogan, motif klasik Iwan Tirta. Ada motif burung, daun, dan bunga-bunga. Batik ini punya banyak arti seperti cinta; sementara makna menyeluruhnya, bisa punya rasa yang sangat dekat dengan sesama,” papar Julianto ketika diwawancarai.
5. Parang Kencana
Koleksi “Shiki” oleh Parang Kencana merupakan perwujudan dari asimilasi budaya Indonesia dan Jepang. Peragaan busana ini mengisahkan perpindahan empat musim: semi (Haru), panas (Natsu), gugur (Aki), dan dingin (Fuyu).
Parang Kencana menghadirkan motif-motif khas kimono Jepang yang dilukis dengan metode pembatikan. Motif floral seperti krisan, carnation, camellia, hingga cherry blossoms menjadi cerminan dari keanggunan, keseimbangan, dan keterhubungan setiap musim.
Setiap musim direpresentasikan dengan pemilihan warna dan siluet berbeda. Misalnya, musim semi menampilkan blus berpotongan leher kebaya berwarna lembut. Lalu, di musim gugur, warnanya mulai meredup dengan bahan yang lebih tebal, dan pada musim dingin, warna gelap seperti biru tua dan bahan corduroy mendominasi.
6. Mel Ahyar Archipelago
Berbeda dengan desainer lainnya yang mengangkat batik dan tenun, Mel Ahyar Archipelago memilih kain Sasirangan dari Kalimantan Selatan sebagai muse-nya. Creative Director brand, Mel Ahyar, mengajak para penikmat fashion untuk berkelana ke Kabupaten Tanah Laut, Kalsel, lewat koleksi bertajuk sama: Tanah Laut.
Koleksi yang terdiri dari 27 tampilan menswear ini meliputi artikel pakaian dengan tailoring yang bersih dan lugas. Mel terinspirasi dari busana pahlawan dan bangsawan Kesultanan Banjar, seperti Pangeran Antasari dan Pangeran Suriansyah.
Untuk melengkapi setiap tampilan, Mel Ahyar berkolaborasi dengan perajin di Kab. Tanah Laut dalam menghadirkan tas anyaman unik yang terbuat dari tanaman dasar purun danau (Lepironia articulata).
7. Wilsen Willim
Pekan fashion di Plaza Indonesia ini ditutup oleh presentasi mode oleh Wilsen Willim, desainer muda yang tengah naik daun. Seperti biasa, Wilsen memadukan unsur elegan yang kontemporer dengan kain batik yang ekspresif. Perpaduan antara palet monokrom hitam-putih dengan sentuhan warna berani seperti merah mampu memanjakan mata.
Koleksinya cukup didominasi oleh blus berkerah tinggi cheongsam yang dimodifikasi, meskipun ia turut menghadirkan gaun dengan detail kerah yang serupa. Setiap busana lansiran Wilsen memiliki ciri khas: Garis pundak yang tajam dan tegas serta permainan motif yang memikat mata.
