Konten dari Pengguna

Ketahanan Pangan Dimulai dari Petani

Kuntoro Boga Andri

Kuntoro Boga Andri

Kuntoro Boga Andri. Birokrat, Praktisi, Akademisi dan Pengamat Pertanian. PhD Agr Economic and Policy, Kagoshima Univ (2007), Peneliti Utama (LIPI-2017). Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Β·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kuntoro Boga Andri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore hari di beranda rumah, aroma ubi goreng yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan wangi kopi hitam yang mengepul pelan. Ingatan saya segera melayang pada seorang nenek di kampung, dimana tiap senja ia menggoreng singkong lalu menyajikannya bersama segelas kopi tubruk manis. Sederhana, namun begitu akrab, ubi goreng dan kopi manis adalah rasa yang merentang dari Sabang sampai Merauke. Ubi kayu tumbuh subur hampir di seluruh jengkal tanah kita, kopi berkembang dari dataran rendah hingga pegunungan, dan gula, dari tebu hingga tanaman palma, hidup baik di negeri tropis ini.

Namun di balik sajian yang sangat lokal itu, terselip ironi yang layak kita renungkan. Benarkah β€œmanis” dalam kopi kita dan ubi goreng yang kita santap sepenuhnya dapat berasal dari tanah sendiri? Ataukah ada jejak kapal kargo yang ikut singgah di meja makan kita? Ketika pengelolaan pangan abai, dua bahan yang selama ini kita anggap sepenuhnya lokal bisa saja bergeser menjadi produk impor. Kisah sederhana ubi dan kopi itu membawa kita pada soal yang lebih besar, dimana ketahanan pangan, nasib petani kecil, dan kedaulatan rasa untuk negeri sendiri.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Petani
zoom-in-whitePerbesar

Singkong Melimpah, Tapi Kenapa Berpikir Impor?

Singkong kerap disebut makanan wong cilik, yang murah, mengenyangkan, dan mudah ditemukan. Indonesia bahkan termasuk produsen singkong terbesar dunia, dengan produksi mencapai sekitar 16,76 juta ton pada 2023. Dari Lampung, Jawa, hingga Maluku Utara, ladang-ladang menghasilkan ubi kayu yang tak pernah benar-benar habis.

Tetapi beberapa waktu lalu muncul kabar yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi, Indonesia mengimpor singkong dan turunannya, bahkan jumlahnya melonjak tajam. Data Kemenko Bidang Pangan mencatat impor ubi kayu, termasuk gaplek, pati, dan tapioka, pada 2024 naik sebelas kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Dari hanya puluhan ribu ton pada 2023, angka itu menembus lebih dari 300 ribu ton pada 2024. Sebagian besar masuk dalam bentuk tepung tapioka dari Thailand dan Vietnam.

Di Lampung, sentra singkong nasional, ironi ini terasa paling nyata. Empat perusahaan di provinsi tersebut tercatat mengimpor 59 ribu ton tepung tapioka sepanjang 2024, senilai lebih dari Rp511 miliar. Situasinya mirip dengan ironi lain yang sering kita dengar, negeri kaya garam tapi mengimpor garam, negeri tebu tapi masih mengimpor gula, dan kini, produsen singkong besar pun masih mendatangkan tapioka dari luar.

Industri makanan, etanol, dan tapioka berdalih harga impor lebih murah. Tetapi alasan pragmatis itu membawa efek pahit untuk petani kecil. Ketika pasokan tapioka impor membanjir, harga singkong lokal anjlok. KPPU Lampung mencatat korelasi langsung antara masuknya tapioka impor dengan jatuhnya harga singkong di tingkat petani. Di beberapa titik, harga singkong sempat merosot di bawah Rp1.000 per kilogram, hampir tak sebanding dengan tenaga, pupuk, dan keringat petani.

Kopi Manis Kita, Jangan Sampai Gula Impor di Dalamnya

Di balik hangatnya kopi Nusantara yang dinikmati jutaan orang setiap hari, ada satu bahan yang jarang dibicarakan: gula. Justru pada gula inilah paradoks yang mirip dengan singkong terjadi, bahan yang tampaknya sangat lokal, tetapi kini sangat bergantung pada impor.

Indonesia memiliki sejarah panjang perkebunan tebu sejak masa kolonial. Namun sejak 2016, Indonesia tercatat sebagai importir gula terbesar dunia. Tebu masih tumbuh di banyak wilayah, pabrik gula masih beroperasi, bahkan beberapa telah modern. Tetapi produktivitas kita tertinggal. Produksi gula konsumsi hanya 2,2–2,4 juta ton per tahun, sementara kebutuhan gula konsumsi saat ini mencapai 3 juta ton. Defisit sekitar satu juta ton ini ditutup dengan impor. Itu belum termasuk kebutuhan industri makanan dan minuman, kopi instan, sirup, biskuit, yang hampir seluruhnya menggunakan gula rafinasi impor.

Data 2022–2023 menunjukkan Indonesia mengimpor sekitar 5,2 juta ton gula mentah dari Thailand, Brasil, Australia, dan India. Gula itu kemudian diolah kembali di dalam negeri menjadi gula putih dan rafinasi. Industri lebih menyukai gula rafinasi impor karena warnanya lebih putih dan kualitasnya seragam. Akibatnya, gula lokal sulit bersaing, dan petani tebu skala kecil kembali berada di posisi paling rentan.

Dimulai dari Petani

Kisah ubi goreng dan kopi manis sejatinya menggambarkan persoalan yang lebih dalam. Ubi kayu dan kopi memang bukan pangan pokok, tetapi keduanya adalah lambang kemandirian pangan rakyat. Jika singkong lokal tergeser oleh tapioka impor, atau gula rafinasi terus mendominasi industri kopi dan makanan, maka sedikit demi sedikit kedaulatan pangan kita erosi.

Petani singkong, tebu, maupun kopi adalah penjaga garda terdepan. Mereka hidup sederhana, bergantung pada tanahnya, dan menjadi pondasi ketahanan pangan nasional. Ketika kebijakan perdagangan terlalu longgar terhadap impor, mereka lah yang pertama-tama merasakan dampaknya. Kita tak ingin suatu hari anak cucu kita mengenal ubi goreng dari singkong Vietnam, atau meminum kopi manis dengan gula Brasil. Sebuah ironi yang terasa getir.

Untungnya, beberapa langkah pembenahan mulai dilakukan. Pemerintah tengah mengatur pembatasan impor etanol dan tepung tapioka untuk melindungi petani singkong. Di Lampung, harga patokan singkong telah ditetapkan agar importir tidak bebas menekan petani. Pada sektor gula, wacana penghentian sementara impor gula rafinasi muncul untuk meningkatkan serapan gula lokal.

Trending Now