Konten dari Pengguna
Negara Maju Berbasis Komoditas
7 Desember 2025 14:38 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Negara Maju Berbasis Komoditas
Indonesia negara dengan kekayaan hayati luar biasa. Komoditas perkebunan dan lainnya dapat tumbuh subur di tanah Nusantara, juga telah lama menopang kehidupan jutaan petani dan menyumbang devisa.Kuntoro Boga Andri
Tulisan dari Kuntoro Boga Andri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat Indonesia menatap 100 tahun kemerdekaannya pada tahun 2045, pertanyaan paling strategis yang mesti dijawab adalah, bagaimana negara ini dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap)? Jawaban yang selama ini kerap muncul berkutat pada industrialisasi berbasis manufaktur, teknologi, atau digitalisasi. Namun, ada satu jalan yang justru jarang menjadi tajuk utama, padahal potensinya luar biasa besar, yakni transformasi ekonomi berbasis komoditas tropis melalui hilirisasi sektor perkebunan.
Indonesia adalah negara dengan kekayaan hayati luar biasa. Kelapa sawit, tebu, kopi, kelapa, kakao, karet, pala, dan lada bukan hanya tumbuh subur di tanah Nusantara, tapi juga telah lama menopang kehidupan jutaan petani dan menyumbang devisa negara. Sekilas, Indonesia tampak berjaya sebagai produsen komoditas, seperti produksi minyak sawit kita mencapai sekitar 50 juta ton CPO per tahun (terbesar di dunia), kopi Indonesia dikenal global sebagai salah satu penghasil terbesar, sementara komoditas seperti kelapa dan karet konsisten mencatatkan surplus perdagangan. Akan tetapi, di balik data itu tersembunyi paradoks menyakitkan, sebagian besar komoditas tropis Indonesia masih dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi terendah. Sebaliknya, di negara-negara maju, biji kakao Indonesia diolah menjadi cokelat premium, kelapa kita menjadi VCO (virgin coconut oil) berkemasan harga tinggi, dan kopi Gayo disajikan secara artisan di kafe-kafe. Petani kita tetap berada di titik terlemah rantai nilai, mendapat margin tipis, menghadapi fluktuasi harga, dan ketidakpastian pendapatan. Lantas, apakah kita hanya akan terus menjadi penyedia bahan mentah dunia? Jika ya, maka jebakan negara berpendapatan menengah tinggal menunggu waktu untuk semakin memperkuat jeratnya.

Nilai Tambah Komoditas
Hilirisasi komoditas tropis adalah jawaban konkret atas stagnasi pembangunan berbasis ekspor bahan mentah. Hilirisasi berarti mengolah hasil perkebunan menjadi produk jadi atau setengah jadi bernilai tinggi di dalam negeri, misalnya minyak goreng, margarin, dan biodiesel dari sawit; gula dan bioetanol dari tebu, VCO dan tepung kelapa dari kelapa, kopi sangrai dan instan dari biji kopi, hingga cokelat olahan dari biji kakao. Transformasi semacam ini akan melipatgandakan nilai ekonomi komoditas, menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat struktur industri nasional, serta menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru.
Hilirisasi bukan hanya perkara industri, tetapi juga fondasi pembangunan yang berkeadilan. Dengan membangun pabrik-pabrik pengolahan di dekat sentra produksi, kita memindahkan โpusat gravitasiโ ekonomi ke desa. Artinya, desa tak lagi sekadar pemasok bahan mentah, melainkan naik kelas menjadi pelaku utama dalam rantai industri. Beberap ahasil studi menunjukkan, program hilirisasi 11 komoditas utama Indonesia berpotensi menciptakan lebih dari 8 juta lapangan kerja baru di berbagai daerah. Komoditas seperti tebu diproyeksikan menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja tambahan, kelapa sekitar 1,1 juta, dan kopi serta kakao masing-masing mendekati 1 juta pekerja baru. Regenerasi petani pun bisa mendapat angin segar, hilirisasi membuka peluang bagi generasi muda desa terlibat dalam agroindustri modern di kampung halamannya.
Berbagai model usaha kolaboratif bisa dikembangkan. Koperasi petani, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga UMKM berbasis desa dapat menjadi kendaraan bagi petani kecil untuk โnaik kelasโ, dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pemilik saham industri olahan. Sudah ada cerita sukses yang menginspirasi, misalnya BUMDes Watuata di Flores yang mengolah kopi Arabika lokal menjadi bubuk kopi bermerek sendiri. Berkat inovasi dan dukungan pemerintah, BUMDes ini bahkan berhasil mengekspor 10 ton kopi Arabika Flores Bajawa ke Australia pada akhir 2025. Kisah seperti ini membuktikan bahwa hilirisasi bisa langsung mengangkat taraf hidup petani dan masyarakat desa, sekaligus mengenalkan produk lokal kita ke pasar internasional.
Selain mendongkrak pendapatan, hilirisasi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional. Produk olahan umumnya punya masa simpan lebih lama dan nilai tambah lebih tinggi, sehingga distribusi lebih mudah dan fluktuasi harga dapat diredam. Ketergantungan pada impor pun berkurang. Dalam konteks geopolitik global yang kian tidak pasti, rantai pasok yang bertumpu pada sumber daya lokal adalah sebuah keharusan. Dengan diversifikasi produk dan pengolahan di dalam negeri, Indonesia tidak lagi terlalu rentan terhadap embargo, gejolak harga dunia, ataupun perubahan kebijakan dagang negara mitra.
Lebih jauh, pendekatan hilirisasi yang berkelanjutan berkontribusi pada konservasi lingkungan. Ketika nilai ekonomi komoditas bisa ditingkatkan tanpa memperluas lahan tanam, tekanan untuk membuka hutan dan lahan baru bisa dikurangi. Limbah produksi pertanian dapat diolah kembali, ampas sawit dapat dijadikan biomassa energi, tempurung kelapa menjadi briket atau karbon aktif, limbah tebu menjadi pupuk organik. Dengan demikian, hilirisasi mendukung ekonomi sirkular dan pembangunan hijau yang ramah lingkungan.
Maju dari Lahan Sendiri
Tentu, jalan ini bukan tanpa tantangan. Masalah infrastruktur di pedesaan, akses permodalan bagi petani dan koperasi, keterampilan sumber daya manusia, hingga kepastian pasar bagi produk olahan lokal adalah PR besar yang harus ditangani. Namun, semua tantangan ini bukan alasan untuk menunda langkah. Syarat utamanya adalah konsistensi kebijakan dan keberpihakan pada ekonomi lokal. Kemitraan yang adil antara petani dengan perusahaan pengolah harus dijaga, misalnya melalui pola inti-plasma yang saling menguntungkan. Dana Desa dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) perlu diarahkan untuk mendukung rantai hilirisasi di desa, termasuk pembiayaan mesin pengolahan skala UKM dan pelatihan SDM. Program pendampingan teknis bagi petani dan BUMDes juga krusial agar produk olahan memenuhi standar pasar. Di sini pemerintah berperan sebagai fasilitator dan pengawal, bukan hanya regulator. Regulasi harus memihak upaya hilirisasi, insentif pajak bagi investasi pabrik pengolahan di daerah terpencil, kemudahan izin usaha agroindustri desa, hingga proteksi pasar awal bagi produk lokal.
Perlu kita ingat, negara maju tidak selalu dibangun dari pabrik mobil atau perusahaan digital semata. Selandia Baru, misalnya, mencapai status negara maju dengan bertumpu pada sektor agraria dan peternakan yang efisien dan berdaya saing tinggi (sektor agro menyumbang sekitar 7% PDB dan 6% tenaga kerja di sana). Indonesia pun bisa. Bedanya, kita memiliki kelebihan komparatif pada komoditas tropis seperti kelapa, sawit, kopi, tebu, dan kakao, sesuatu yang tak dimiliki negara lain di luar khatulistiwa. Kita punya jutaan petani ulet, desa-desa subur, dan iklim tropis sepanjang tahun yang memungkinkan panen terus-menerus. Yang dibutuhkan adalah keberanian dan visi untuk menjadikan kekayaan itu sebagai fondasi ekonomi baru yang adil, tangguh, dan berkelanjutan.
Jalan menuju negara maju bisa ditempuh dari kebun kelapa di Sulawesi, dari ladang tebu di Jawa, dan dari kebun kopi di Sumatra. Dengan hilirisasi sebagai kendaraan utama, komoditas tropis bukan lagi beban sejarah yang diekspor murah, melainkan jembatan menuju masa depan sejahtera.

