Konten dari Pengguna

Pertanian Bangkit: Merayakan Harkitnas ke-117

Kuntoro Boga Andri
Kuntoro Boga Andri. Birokrat, Praktisi, Akademisi dan Pengamat Pertanian. PhD Agr Economic and Policy, Kagoshima Univ (2007), Peneliti Utama (LIPI-2017). Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan
21 Mei 2025 19:41 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pertanian Bangkit: Merayakan Harkitnas ke-117
Kebangkitan pertanian Indonesia merupakan hasil kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang visioner, kerja keras petani, dan dukungan teknologi.
Kuntoro Boga Andri
Tulisan dari Kuntoro Boga Andri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Petani semangat bertanam karena keberpihakan pemerintah ke sektor pangan (Foto: Dokpri)
zoom-in-whitePerbesar
Petani semangat bertanam karena keberpihakan pemerintah ke sektor pangan (Foto: Dokpri)
Fajar mulai menyingsing di pedesaan Panai Tengah, Labuhanbatu, Sumatera Utara. Kabut pagi masih menyapu ratusan hektar sawah yang dipadati bulir padi keemasan. Di antara riuh gemerisik angin dan celoteh riang petani yang bersiap panen, terlihat wajah-wajah penuh harap. Tahun lalu, lahan ini gersang diterpa El Niño, tetapi kini tanah kembali hidup. Di tepi sawah, Pak Ujang, petani sepuh, mengangguk syukur. “Alhamdulillah, panen kali ini melimpah,” ujarnya. Kebahagiaannya bukan hanya milik pribadi, melainkan pancaran optimisme sektor pertanian yang sedang bergeliat.
Fenomena ini bukan sekadar cerita lokal, tetapi potret kemajuan nasional. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap pertumbuhan fantastis sektor pertanian Indonesia pada triwulan I 2025 sebesar 10,52% (year-on-year), tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sektor ini bahkan menjadi primadona pertumbuhan ekonomi nasional, menyumbang 1,11% dari total pertumbuhan 4,87%. Subsektor tanaman pangan menjadi motor utama dengan lonjakan 42,26%, didorong panen padi dan jagung yang merata di berbagai wilayah.
Kondisi alam tak bisa diabaikan, usai El Niño 2023-2024 mereda, cuaca dan curah hujan kembali membaik. Lahan-lahan kritis pulih, produksi padi triwulan I 2025 melambung 51,45% dibanding periode sama tahun sebelumnya, sementara jagung naik 39,02%. Angka ini setara dengan tambahan pasokan pangan jutaan ton. BPS mencatat, produksi gabah kering giling (GKG) Januari–Maret 2025 mencapai hampir 15 juta ton, melampaui capaian triwulan I 2024 yang sebesar 9,9 juta ton. Sementara produksi jagung pipilan kering juga meroket ke 4,7 juta ton dari sebelumnya 3,8 juta ton.
Di balik deretan angka ini, moment peringatan Kebangkitan nasinal ke 117 tahun 2025 tahun ini diwarnai kisah perjuangan pemangku kepentingan pertanian dan petani yang tak terhitung. Setiap butir beras dan jagung adalah hasil tetesan keringat mereka, pahlawan yang menjaga ketahanan pangan negeri. Kebangkitan ini bukan hanya tentang panen melimpah, tetapi juga tentang semangat baru yang mengakar di hati para pejuang tani.
Nasionalisme di Atas Piring Rakyat
“Masalah pangan adalah masalah kedaulatan. Masalah pangan adalah masalah kemerdekaan. Masalah pangan adalah masalah survival kita sebagai bangsa.” Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2025 menjadi mantra baru yang menggetarkan kesadaran kolektif bangsa. Di tengah ancaman krisis pangan global, Indonesia justru mencatat surplus beras 3,7 juta ton pada Mei 2025, stok tertinggi dalam dekade terakhir. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa kemandirian pangan adalah bentuk nasionalisme yang konkret. Lumbung-lumbung desa yang kembali penuh menjadi simbol kebangkitan petani sebagai garda terdepan ketahanan bangsa.
Kebijakan progresif pemerintah menjadi kunci kebangkitan ini. Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen menjadi Rp6.500 per kilogram melalui Inpres No. 6/2025 mengubah paradigma lama. Skema any quality yang memastikan Bulog menyerap gabah petani tanpa diskriminasi kualitas telah memutus lingkaran kemiskinan petani. Dampaknya langsung terasa, dimana pada panen raya Maret-April 2025, Bulog menyerap 2,1 juta ton gabah, dan menjadi rekor tertinggi sejak 1998. “Dulu kami takut panen melimpah karena harga jatuh. Sekarang, kami tenang karena ada jaminan negara,” ujar Sudirman, petani di Banyuasin, Sumatera Selatan, mencerminkan optimisme yang tumbuh di desa.
Distribusi pupuk bersubsidi yang kerap jadi keluhan kini berubah drastis. Pemerintah memangkas rantai birokrasi dengan sistem single distribution channel, dari produsen langsung ke petani. Hasilnya, 98% kebutuhan pupuk di sentra pangan terpenuhi tepat waktu pada musim tanam 2025. “Tahun ini, pupuk datang sebelum musim hujan. Tanaman lebih subur, hasilnya lebih banyak,” tutur Siti, petani di Simalungun, Sumatera Utara. Kondisi ini mendongkrak produktivitas padi lahan petani ke level diatas 6 ton per hektar, tertinggi sepanjang mereka bertani.
Perubahan iklim tetap menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian. Namun, pembangunan infrastruktur air terus dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan. Salah satu proyek strategis adalah Bendungan Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diresmikan pada 1 Oktober 2024. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung 45 juta meter kubik dan dirancang untuk mengairi lahan irigasi seluas 4.500 hektar dan berfungsi untuk mereduksi banjir, serta menyediakan air baku bagi masyarakat sekitar. Sementara itu, Pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ditargetkan selesai pada tahun 2027. Bendungan ini dirancang untuk mengairi lahan irigasi seluas 15.519 hektar, menyuplai air baku sebesar 1.500 liter per detik untuk Kabupaten Purworejo, Kebumen, dan Kulon Progo.
Surplus produksi beras membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor beras ke negara tetangga. Pemerintah tengah menyiapkan ekspor perdana 2.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai langkah simbolis setelah fokus pada swasembada selama 40 tahun terakhir. Ekspor komoditas pertanian lainnya, seperti kopi arabika Gayo dan durian asal Kalimantan, juga mengalami peningkatan sebesar 30%, didorong oleh sertifikasi internasional yang meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Namun, tantangan tetap ada, seperti fakta bahwa 65% petani berusia di atas 45 tahun dan alih fungsi lahan pertanian mencapai puluhan ribu hektar per tahun. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah meluncurkan program Brigade Pangan yang melibatkan 37 ribu Penyuluh Pertaniana Lapangan (PPL) dan ribuan pemuda tani dalam modernisasi pertanian berbasis teknologi dan mekanisasi.
Perbaikan jaringan irigasi membantu peningkatkan produksi dan semangat bertanam padi di Simalungun, Sumatera Utara (Sumber: Dokpri)
Menatap Tantangan dan Kebangkitan Bangsa
Kebangkitan pertanian Indonesia merupakan hasil kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang visioner, kerja keras petani, dan dukungan teknologi. Namun, untuk menjaga momentum ini, diperlukan konsistensi dalam alokasi anggaran untuk sektor pertanian, penegakan hukum atas alih fungsi lahan, dan regenerasi petani. Sebagaimana diingatkan oleh Bung Karno, “Pertanian adalah hidup dan matinya bangsa.” Dengan semangat ini, Indonesia terus menulis sejarah baru sebagai kekuatan pangan yang disegani di dunia.
Di balik euforia kebangkitan ini, terselip pekerjaan rumah jangka panjang. Perubahan iklim tetap menjadi ancaman nyata bagi pertanian. Karena itu, keberlanjutan produksi pangan harus dijaga dengan adaptasi dan mitigasi. Pengembangan varietas unggul yang tahan cekaman iklim, sistem peringatan dini cuaca, serta perluasan infrastruktur irigasi perlu dipercepat. Diversifikasi pangan juga kian mendesak: kita perlu menggalakkan produksi dan konsumsi sumber karbohidrat alternatif (seperti sagu, singkong, dan sorgum) untuk mengurangi beban berlebihan pada beras.
Namun demikian, optimisme jelas menyala. Tepat di bulan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini, keberhasilan sektor pertanian memberi makna baru pada semangat kebangkitan itu sendiri. Kebangkitan pertanian melalui semangat kebangsaan, dimana pada tahun 1908 ditandai lahirnya kesadaran kolektif untuk melawan ketertindasan. Kini, kebangkitan versi abad ke-21 terpancar dari lumbung-lumbung padi yang penuh, dari petani yang kian sejahtera, dan dari tekad bangsa mewujudkan kemandirian pangan.
Trending Now