Konten dari Pengguna
Belajar Tanam Mangrove ala Prodi Perikanan Laut Tropis PSDKU Unpad Pangandaran
22 Desember 2025 15:27 WIB
Β·
waktu baca 11 menit
Kiriman Pengguna
Belajar Tanam Mangrove ala Prodi Perikanan Laut Tropis PSDKU Unpad Pangandaran
Edukasi penanaman mangrove muda di pesisir Pangandaran oleh mahasiswa HIMATROPS Unpad, mengenalkan metode ilmiah penanaman mangrove sebagai upaya rehabilitasi dan pembelajaran lingkungan.LADY AYU SRI WIJAYANTI
Tulisan dari LADY AYU SRI WIJAYANTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di pesisir Pantai Jembatan Wiradinata Ranggajipang, Pangandaran, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Laut Tropis (HIMATROPS) PSDKU Universitas Padjadjaran menggelar aksi peduli lingkungan bertajuk PELAGIS. Kegiatan edukasi ini melibatkan sekitar 50 peserta yang antusias menanam mangrove muda sebagai upaya rehabilitasi pesisir sekaligus pembelajaran ilmiah. Dengan semangat βlearning by doingβ, para generasi muda diajak langsung merasakan proses penanaman mangrove di habitat aslinya, lengkap dengan penjelasan metode ilmiah di balik setiap langkahnya. Hasilnya, bukan hanya bibir pantai yang kian hijau, tetapi juga tumbuh kesadaran baru akan pentingnya ekosistem mangrove di benak para peserta.

Alat dan Bahan Penanaman Mangrove Muda secara Ilmiah
Pada kegiatan ini, HIMATROPS memperkenalkan alat dan bahan yang digunakan dalam penanaman mangrove secara ilmiah. Seluruh peralatan dijelaskan fungsinya agar peserta memahami mengapa setiap komponen diperlukan. Berikut adalah alat dan bahan utama yang disiapkan:
Fungsi Batang Penopang dan Pengikatan Bibit di Lahan Berlumpur
Salah satu pengetahuan penting yang ditekankan dalam edukasi ini adalah fungsi batang penopang (ajir) dan teknik pengikatan bibit mangrove pada lahan berlumpur. Pantai berlumpur tempat mangrove tumbuh biasanya dipengaruhi pasang surut air laut. Arus pasang dan ombak dapat menjadi tantangan bagi bibit mangrove muda yang baru ditanam β bibit bisa roboh atau bahkan hanyut terbawa air jika tidak ditopang dengan baik.
Batang penopang yang ditancapkan di samping bibit berperan menjaga posisi bibit tetap tegak dan stabil. Bibit mangrove diikat pada ajir menggunakan tali dengan simpul erat namun tidak merusak batang tanaman. Pengikatan ini bertujuan agar bibit tidak hanyut tersapu ombak atau air pasang. Tali akan menambatkan bibit pada ajir sampai akar-akarnya cukup kuat mencengkeram tanah. Selain mencegah bibit terlepas, ajir juga membantu bibit muda menghadapi tiupan angin kencang serta mengurangi risiko kerusakan mekanis (misal tertimpa sampah hanyut).
Fungsi lain dari ajir adalah sebagai penanda lokasi tiap bibit. Dalam penanaman massal, ajir membantu pengaturan jarak tanam yang seragam (misalnya pola grid 1 x 1,5 meter antar bibit). Pola teratur ini memudahkan panitia untuk memonitor pertumbuhan setiap pohon mangrove ke depannya. Ketika waktu monitoring tiba, ajir-ajir yang masih ada akan memudahkan tim menemukan kembali posisi bibit, menghitung berapa yang hidup, serta melakukan pemeliharaan lanjutan jika diperlukan. Secara keseluruhan, penggunaan batang penopang dan tali pengikat merupakan teknik ilmiah sederhana yang signifikan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup mangrove muda di lingkungan pantai yang dinamis.
Proses Penanaman Mangrove Muda: Langkah Demi Langkah
Setelah memahami alat dan fungsinya, para peserta PELAGIS diajak mempraktikkan proses penanaman mangrove muda secara langsung. Dengan bimbingan mahasiswa HIMATROPS, mereka mengikuti tahapan ilmiah berikut ini:
Seluruh langkah di atas dilakukan pada saat air laut surut. Pemilihan waktu tanam ini agar area mangrove sementara dalam kondisi kering atau hanya tergenang dangkal, sehingga peserta leluasa bergerak tanpa tergulung ombak. Selain itu, penanaman saat surut memberi kesempatan bibit untuk berdiri tegak selama beberapa jam pertama sebelum nanti terendam pasang, sehingga memperbesar peluang bibit untuk beradaptasi.
Usai penanaman, panitia menjelaskan perlunya pemantauan (monitoring) rutin. Minggu-minggu awal merupakan masa krusial; jika ada bibit yang mati atau hilang, penyulaman (penanaman pengganti) sebaiknya segera dilakukan. Peserta diajak berdiskusi tentang tantangan ke depan, seperti serangan hama (misal kepiting pemotong mangrove) atau sampah yang tersangkut, dan bagaimana solusi mengatasinya. Dengan demikian, kegiatan ini tak hanya menanam mangrove secara fisik, tetapi juga menanam pengetahuan dan rasa tanggung jawab pada generasi muda.
Jenis Mangrove yang Ditanam di Pangandaran
Pangandaran merupakan kawasan pesisir yang kaya akan keanekaragaman mangrove. Di lokasi penanaman yang berupa tanah berlumpur dekat muara sungai, jenis mangrove yang dipilih adalah keluarga bakau (Rhizophora sp.). Secara ilmiah, Rhizophora memang paling cocok ditanam di substrat lumpur halus dan daerah pasang surut seperti di Pangandaran. Jenis bakau ini memiliki ciri khas akar tunjang (akar penyangga) yang besar dan menjulang di sekitar batang, membantu tanaman berdiri kokoh di tanah yang lunak. Di samping itu, pertumbuhan Rhizophora di pesisir Pangandaran terbukti sangat baik dan jenis ini mudah diperbanyak melalui propagul (buah berkecambah) yang jatuh dari pohonnya. Tak heran jika Rhizophora menjadi spesies dominan dalam program rehabilitasi mangrove oleh masyarakat di Pangandaran.
Pada kegiatan HIMATROPS ini, bibit yang digunakan adalah Rhizophora mucronata (bakau hitam) atau Rhizophora apiculata (bakau minyak), dua spesies bakau umum di Jawa. Kedua spesies ini sama-sama memiliki propagul berbentuk silindris panjang berwarna hijau kecoklatan. Bibit dalam polybag yang dibawa peserta terlihat berupa batang panjang sekitar 30β50 cm dengan beberapa daun di pucuknya β karakteristik yang sesuai dengan bibit Rhizophora. Selain Rhizophora, sebenarnya ekosistem mangrove Pangandaran juga dihuni jenis lain seperti Api-api (Avicennia spp.) dan Pedada (Sonneratia spp.), terutama di tepi pantai berpasir atau area lebih darat. Namun, untuk penanaman di area berlumpur terbuka seperti sekitar Jembatan Ranggajipang, bakau Rhizophora adalah pilihan paling tepat karena kemampuannya beradaptasi pada lumpur dan perakarannya yang kuat menahan terjangan air.
Dengan mengetahui jenis mangrove yang ditanam, peserta juga diajak memahami peran masing-masing jenis dalam ekosistem. Misalnya, bakau Rhizophora nantinya akan tumbuh menjulang dan membentuk forest canopy yang rapat, menjadi habitat berbagai satwa, sementara jenis api-api biasanya tumbuh di bagian depan yang lebih dekat laut untuk menahan gelombang pertama. Kombinasi berbagai jenis mangrove inilah yang idealnya membentuk ekosistem hutan mangrove pantai yang utuh dan sehat.
Manfaat Ekologis Mangrove dan Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Generasi Muda
Di sela kegiatan, HIMATROPS Unpad juga memberikan pemahaman kepada peserta mengenai manfaat ekologis hutan mangrove yang mereka tanam. Hal ini penting agar aksi tanam mangrove tidak sekadar seremonial, tetapi benar-benar berbekas di hati para generasi muda sebagai motivasi untuk terus melestarikannya. Beberapa poin manfaat mangrove yang disampaikan antara lain:
Setelah memahami berbagai manfaat tersebut, para peserta PELAGIS diharapkan tidak hanya berhenti pada menanam, namun juga menjadi duta konservasi mangrove di komunitasnya masing-masing. Edukasi lingkungan sejak dini, seperti yang dilakukan HIMATROPS ini, berperan penting menumbuhkan generasi yang peduli alam. Generasi muda diajak terlibat langsung agar mereka merasakan pengalaman nyata merawat bumi. Penanaman mangrove menjadi media pembelajaran efektif karena melalui kegiatan nyata seperti ini, keterlibatan emosional peserta ikut terbangun β mereka tidak lagi sebatas penonton, melainkan pelaku β sehingga kemungkinan untuk terus terlibat dalam menjaga lingkungan pun meningkat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan PELAGIS untuk mencetak calon-calon ilmuwan dan pegiat konservasi yang memiliki pengetahuan sekaligus kepedulian tinggi.

