Konten dari Pengguna
Normalisasi Gagal Ginjal: Beban yang Diam-Diam Dipikul Perempuan
17 Oktober 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Normalisasi Gagal Ginjal: Beban yang Diam-Diam Dipikul Perempuan
“Esai tentang normalisasi gagal ginjal sebagai krisis waktu, bukan sekadar biaya: siapa yang mengantar, menunggu, lalu tetap memasak? Beban yang diam-diam selalu dipikul perempuan. #userstoryLaili Zailani
Tulisan dari Laili Zailani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga kata yang menutup percakapan seperti pintu yang dipelankan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada jeda untuk heran. Di kampung saya, kalimat itu terdengar makin sering. Kakak yang kini saya rawat menjadi cermin dari banyak rumah. Gejalanya sering samar; fungsi ginjal turun perlahan sampai tubuh akhirnya meminta tolong keras.
Masih ingat ledakan gagal ginjal akut pada anak—headline penarikan obat sirop dan banyak pertanyaan yang masih tersisa? Setelah sorot kamera redup, urusan ginjal berjalan pelan di rumah biasa: gula–garam kebablasan, hipertensi dan diabetes yang luput, dan jam perawatan yang diam-diam diambil dari perempuan.
Tulisan ini mengajak jeda sebelum bilang “oh, ginjal”, lalu mulai dari kebiasaan kecil di dapur, cek singkat di posyandu, dan dukungan warga agar keluarga tidak menanggung sendirian.
Kenapa Rasanya “Mendadak”?
Di desa, penyakit seperti asam urat, tekanan darah tinggi, kolesterol, asam lambung, jantung, sampai diabetes makin terdengar “biasa”. Pola rasa harian—gurih-asin, manis, santan, gorengan—sering kita sebut “gaya masak modern”. Masalahnya, yang kita anggap biasa inilah yang pelan-pelan membuka jalan ke ginjal: garam berlebih mendorong hipertensi dan gula berlebih memicu diabetes—keduanya pintu utama kerusakan ginjal. Ini bukan soal tradisi, melainkan soal takaran, frekuensi, dan cara olah—serta akses pilihan yang lebih sehat.
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) sering tanpa gejala di awal; banyak kasus baru ketahuan saat sudah stadium lanjut. Survei kesehatan nasional terakhir memperkirakan sekitar 3,8 per 1.000 penduduk terdiagnosis PGK—angka yang kemungkinan lebih rendah dari keadaan sebenarnya karena banyak kasus tak tersaring. Ketika faktor hulunya—hipertensi dan diabetes—luput dikelola, keluarga sering kali baru berhadapan dengan penyakit ketika penyakit tersebut sudah berat dan beban perawatan jatuh ke perempuan di rumah.
Memindahkan Sistem dari Tanggung Jawab
Pola ini bukan hanya di kampung saya; secara nasional kita masih lemah pada deteksi dini dan manajemen faktor risiko—itulah sebabnya kematian terasa “mendadak”, padahal perjalanan penyakitnya panjang. Setiap kali kita menyebut “oh, ginjal” tanpa jeda, kita sebenarnya sedang membebaskan sistem dari tanggung jawab—dan memindahkannya diam-diam ke punggung perempuan di rumah. Istri, ibu, anak perempuan: mereka yang mengantar kontrol, menunggu di bangsal, menahan kantuk di ruang tunggu, dan tetap menjaga dapur berjalan.
Di rumah, normalisasi kematian lahir dari kelelahan kolektif: pekerjaan yang tak pasti, harga bahan pokok melambung, ongkos anak sekolah, hingga antrean di puskesmas. Di tengah hidup yang serba sempit, wajar jika tubuh yang “hanya agak lelah” dianggap biasa. Namun, ketika kita menunda, penyakit yang awalnya samar ini mengambil tempatnya.
Saat Perawatan Menghabiskan Jam Hidup
Di atas kertas, BPJS Kesehatan menanggung terapi pengganti ginjal (Permenkes Nomor 3 2023). Itu kabar baik. Namun, keluarga tetap menanggung ongkos di luar kuitansi: bensin bolak-balik, uang makan karena hari berlalu di ruang tunggu, pendapatan harian yang hilang, penitipan anak, dan tenaga emosional menghadapi kabar naik-turun.
Dalam praktiknya, kebanyakan pasien menjalani hemodialisis (cuci darah) di rumah sakit atau klinik 1–2 kali seminggu, beberapa jam per sesi. Konsekuensinya sederhana, tapi berat: waktu. Ada waktu tempuh, waktu antre, dan waktu pulih—semuanya harus disisipkan di antara pekerjaan rumah, sekolah anak, dan mencari nafkah. Hampir selalu, jam-jam itu diambil dari waktu hidup perempuan di rumah: istri, ibu, atau anak perempuan yang mengantar, menunggu, lalu tetap mengerjakan urusan dapur.
Uang penting, tetapi yang lebih dulu habis adalah waktu—mata uang paling mahal di rumah.
Dari “Istri Harus Kuat” ke “Komunitas yang Saling Jaga”
Dari dapur rumah sendiri, saya belajar bahwa kekuatan bukan soal menanggung semuanya sendirian, melainkan keberanian untuk meminta tolong—dan sistem yang merespons tanpa menghakimi. Dalam rutinitas yang padat, perempuan kerap menjadi garda terdepan perawatan, meski waktu dan emosinya tak selalu diberi ruang untuk pulih.
Karena itu, perubahan harus dimulai dari yang paling dekat. Di posyandu atau posbindu yang menyediakan cek singkat tiap tiga bulan—tekanan darah, gula, urin—bisa jadi pintu awal deteksi. Hasil mencurigakan langsung dirujuk ke tes fungsi ginjal. Tak perlu seremoni; cukup kebiasaan yang bisa dijalankan.
Perempuan di komunitas bisa jadi penghubung pertama: menerima curhat, bantu jadwal kontrol, akses bantuan sosial. Di rumah, selembar kertas sederhana—isi obat, tanda bahaya, jadwal kontrol, kontak penting, dan catatan gizi—bisa kurangi panik dan salah paham.
Komunitas juga bisa menyusun roster saling jaga: antar-jemput, jaga dua jam agar caregiver bisa istirahat, atau sekadar teman telepon. Bahasa pun perlu diubah: dari “kenapa baru sekarang?” menjadi “apa yang bisa kami bantu hari ini?”—agar keluarga berani mencari pertolongan lebih cepat.
Ini bukan program besar. Ini perbaikan kecil yang terasa di dapur, di ruang tunggu, dan di hati perempuan yang selama ini memikul beban sendirian. Ketika warga saling jaga, waktu yang paling mahal di rumah bisa dibagi. Di sanalah kekuatan komunitas tumbuh—bukan dari slogan, melainkan dari kasih yang dijalankan sehari-hari.
Untuk banyak keluarga, pertolongan paling berarti tidak selalu berupa uang dengan nominal yang besar. Terkadang, ia waktu—dua jam menjaga anak, satu tumpangan ke puskesmas, angkatkan jemuran sebelum hujan, tutupkan jendela sebelum malam, atau selembar kertas ringkas yang memudahkan hari-hari panjang. Warga jaga warga bisa dimulai dari sana. Di situlah kemanusiaan ditakar.

