Konten dari Pengguna

Toxic Positivity di Kantor: Ketika "Tetap Semangat!" Malah Jadi Tekanan

Laily Rakhmawati Dewi
Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang. Aktif mengikuti volunteer menjadi tenaga pengajar dan tertarik di bidang komunikasi serta isu-isu mengenai komunikasi.
5 Juni 2025 19:25 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Toxic Positivity di Kantor: Ketika "Tetap Semangat!" Malah Jadi Tekanan
Di balik kalimat "Tetap semangat!" bisa tersembunyi tekanan yang memicu burnout. Toxic positivity bikin kita pura-pura kuat. Saatnya ciptakan ruang aman untuk jujur dan didengarkan.
Laily Rakhmawati Dewi
Tulisan dari Laily Rakhmawati Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Toxic Positivity yang menyebabkan stres emosional dilingkungan kerja (photo by: energepic.com | Pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Toxic Positivity yang menyebabkan stres emosional dilingkungan kerja (photo by: energepic.com | Pexels.com)
Di era kerja cepat dan serba digital seperti sekarang, banyak dari kita merasa wajib tampil semangat setiap hari. Meski hati sedang lelah atau kepala penuh tekanan, kita tetap harus terlihat "oke". Ucapan seperti, “Tetap semangat, ya!” atau “Lihat sisi positifnya, dong!” sering terdengar, bahkan ketika seseorang sedang jelas-jelas kewalahan.
Padahal, kalimat itu bisa terasa seperti tamparan halus. Niatnya menyemangati, tapi bisa berujung pada perasaan bersalah, tertekan, bahkan makin merasa sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, atau sikap positif yang berlebihan dan dipaksakan.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah dorongan untuk tetap berpikir positif dalam semua situasi termasuk saat menghadapi tekanan berat atau kegagalan. Alih-alih memberi ruang bagi emosi negatif seperti sedih, kecewa, atau marah, seseorang malah diminta untuk menekan perasaan itu dan terus tersenyum.
Menurut Lukin (2019), toxic positivity adalah keyakinan bahwa "menjadi positif" adalah satu-satunya cara hidup. Dalam dunia kerja, ini tercermin lewat komentar seperti, “Bersyukur aja, masih banyak yang lebih susah,” yang terkesan bijak tapi justru mematikan ruang diskusi.
Karyawan yang sedang burnout bisa jadi hanya mendapat respon, “Yang sabar, semua akan indah pada waktunya,” tanpa solusi nyata. Ucapan semacam itu membuat seseorang merasa tidak didengar, bahkan malu untuk mengungkapkan isi hati.
Penelitian Gross & Levenson (1997) menunjukkan bahwa menekan emosi negatif justru meningkatkan stres fisik, seperti detak jantung yang lebih cepat. Artinya, tekanan itu tetap ada, meski secara luar terlihat baik-baik saja.
Dampak Toxic Positivity di Dunia Kerja
Toxic positivity bukan sekadar sikap yang salah tempat. Jika dibiarkan, dampaknya bisa serius:
1. Stres Berkepanjangan dan Burnout
Karyawan yang terus menekan perasaan agar terlihat kuat cenderung mengalami kelelahan emosional. Tanpa ruang untuk jujur, semangat kerja pun bisa lenyap.
2. Merasa Terasing dan Tidak Dipahami
Ketika lingkungan kerja terlalu fokus pada sisi cerah kehidupan, banyak yang akhirnya merasa sendirian menghadapi masalah. Ini memperparah rasa kesepian dan keterasingan.
3. Risiko Gangguan Kesehatan Mental
Jika emosi negatif terus-menerus ditekan, bisa muncul gangguan kecemasan, depresi, bahkan trauma psikologis jangka panjang.
Lalu, Harus Bagaimana?
Agar tempat kerja benar-benar sehat, bukan hanya terlihat positif di permukaan perlu ada perubahan budaya dan sistem. Ini beberapa langkah yang bisa dimulai:
1. Tingkatkan Kecerdasan Emosional
Perusahaan perlu memberi pelatihan tentang emotional intelligence. Bukan cuma untuk atasan, tapi seluruh tim agar semua orang bisa saling memahami dan berkomunikasi dengan empati.
2. Ciptakan Ruang Aman untuk Berbagi
Mulailah dari hal kecil: sesi check-in mingguan, diskusi terbuka, atau obrolan santai yang bukan soal kerjaan. Ini memberi ruang bagi karyawan untuk jujur tanpa takut dihakimi.
3. Sediakan Dukungan Psikologis Nyata
Layanan konseling, program kesehatan mental, atau sesi refleksi bukan cuma ‘tambahan’, tapi investasi penting untuk keberlangsungan tim yang sehat dan produktif.
Sikap positif itu penting, tapi harus datang dari kesadaran, bukan paksaan. Lingkungan kerja yang sehat bukan tentang terus tersenyum saat hati terluka, melainkan tentang keberanian untuk jujur dan saling memahami. Toxic positivity mungkin tampak seperti motivasi, tapi nyatanya bisa jadi racun yang perlahan menggerogoti kesehatan mental dan koneksi antarkaryawan. Jadi, yuk mulai biasakan untuk tidak langsung bilang “Semangat ya!” saat teman kerja sedang curhat. Kadang, yang mereka butuhkan hanya didengarkan.
Referensi :
Rahman Pranova, A. D. (2023). Toxic Positivity in Adolescents: An Attitude of Always Being Positive in Every Situation. Journal of psychology and instruction, 11-21. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JoPaI/article/view/60616/26844
Wibowo, M. G. (2021). Toxic Positivity: Sisi Lain dari Konsep untuk Selalu Positif Dalam Segala Kondisi. Psychopreneur Journal, 10-25. https://www.researchgate.net/publication/367025315_Toxic_Positivity_Sisi_Lain_dari_Konsep_untuk_Selalu_Positif_dalam_Segala_Kondisi
Wyatt, Z. (2024). The Dark Side of#PositiveVibes: Understanding Toxic Positifity in Modern culture. Psychiatry Behav Health, 1-6. https://www.researchgate.net/publication/383871051_The_Dark_Side_of_PositiveVibes_Understanding_Toxic_Positivity_in_Modern_Culture
Trending Now